hut

‘Kasuami’, Makanan Khas Warga Kepulauan di Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Warga pulau Koja Doi, Pemana, Parumaan dan Kojage, mayoritas beragama Islam dan merupakan warga pendatang dari Sulawesi, terutama etnis Bugis, Buton dan Bajo.

Bagi warga yang bermukim di gugus pulau Teluk Maumere, makanan khas Kasuami yang merupakan makanan tradisional etnis Buton tetap disajikan warga di kepulauan yang juga berasal dari Buton.

“Kami tetap membuat Kasuami, meskipun kami sudah turun temurun tinggal di kabupaten Sikka,” sebut Khadijah, salah seorang warga pulau Pemana, kabupaten Sikka, Sabtu (2/11/2019).

Menurut Khadijah, Kasuami biasa dibuat dan disuguhkan saat acara-acara besar, seperti menyambut tamu atau pejabat serta saat ada pesta sebagai suguhan khas bagi para tamu.

Nuryani, warga pulau Koja Doi, kecamatan Alok Timur, kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, saat ditemui pada Sabtu (2/11/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Kasuami hampir sama dengan tumpeng, tetapi ukurannya lebih kecil dan bentuknya memang seperti kerucut.

“Kami biasa menyuguhkannya kepada para tamu yang datang atau saat ada pesta,” ungkapnya.

Khadijah menyebutkan, hampir semua perempuan dewasa di Pemana maupun pulau lainnya biasa membuat Kasuami. Para remaja pun sudah mulai belajar dan bisa membuatnya juga.

Dirinya mengaku, makanan khas ini tetap dibuat dan dihidangkan, sehingga anak-anak pun tetap mengenalnya dan bisa mencicipi makanan khas warisan nenek moyangnya.

“Meskipun sudah beberapa generasi menetap di kabupaten Sikka, tapi kami tetap bisa membuat makanan khas yang diwariskan orang tua kami dari Buton,” tuturnya.

Nuryani, warga pulau Koja Doi, mengatakan, membuat Kasuami tergolong mudah dan semua orang bisa membuatnya.

Bahan baku untuk pembuatannya, yakni singkong atau ubi kayu. Ada dua jenis Kasuami, ada yang berwarna putih kekuningan dan ungu agak kecoklat-coklatan.

“Kasuami putih dibuat dari singkong biasa, sementara yang berwarna ungu dibuat dari singkong yang direndam terlebih dahulu. Ubi dikupas, lalu diparut sementara yang berwarna cokelat setelah direndam baru diparut,” jelasnya.

Setelah diparut, jelas Nuryani, parutan tersebut diperas lalu dikukus. Setelah itu, baru dibentuk seperti kerucut lalu diletakkan di wadah untuk didinginkan, baru disantap.

Ada juga yang membuatnya dengan mencampurinya dengan parutan kelapa saat dibentuk seperti tumpeng atau kerucut.

Kasuami sering juga disebut Suami, sehingga untuk menyantapnya harus ada padanannya, layaknya suami dan istri. Biasanya, lauknya ikan yang dimasak dengan santan kelapa.

“Ada juga yang dimakan dengan lauk sayur bunga pepaya yang ditumis, atau buah pepaya yang direbus. Bisa juga dengan daun singkong rebus,” ungkapnya.

Kasuami, kata Nuryani, juga sering dijadikan bekal yang disiapkan sang istri bagi suaminya yang pergi melaut hingga waktu lama, bahkan mencapai seminggu.

Ini karena makanan tersebutbisa bertahan lama dan tidak cepat basi, sehingga sering dijadikan bekal oleh nelayan.

“Kasuami putih bisa bertahan selama tiga hingga empat hari, sementara yang berwarna ungu bisa bertahan hingga dua minggu lamanya,” pungkasnya.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com