hut

Kelompok Hijau Lestari Siapkan Ribuan Bibit Mangrove untuk Konservasi Pesisir

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Kerusakan alam di pesisir pantai timur Lampung Selatan menjadi perhatian masyarakat yang tingggal di wilayah tersebut. Abrasi yang melanda merupakan dampak angin dan gelombang yang melanda sejak sebulan terakhir.

Ahmad Rizal, warga sekaligus Ketua Kelompok Hijau Lestari Dusun Kuala Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi menyebut, upaya konservasi telah dilakukan oleh warga. Namun, abrasi membuat pohon mangrove jenis bakau, api api, ketapang dan cemara laut rusak.

Saat ini, Kelompok Hijau Lestari di bawah pendampingan Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung, mulai menyemai sekira 25.000 batang mangrove. Sebagian bibit sudah berusia lebih dari tiga bulan, dengan ketinggian rata-rata 40 sentimeter. Memasuki musim kemarau, bakau di kawasan tersebut membutuhkan proses perawatan. Biasanya dilakukan dengan membuat naungan waring dan penyiraman secara rutin.

“Bibit sudah disiapkan untuk penyulaman lokasi pantai yang terkena abrasi, penanaman akan dilakukan saat memasuki musim penghujan.  Penanaman dilakukan bertahap di wilayah yang masih mengandung air,” ungkap Ahmad Rizal, kepada Cendana News, Rabu (13/11/2019).

Sebagian tanaman bakau jenis api api yang dipertahankan warga Desa Bandar Agung sebagai penghalang alami terjangan angin dan gelombang,Rabu (13/11/2019) – Foto Henk Widi

Kepedulian dari kelompok hijau lestari disebut Ahma Rizal, sebagai imbas dari dampak kerusakan lingkungan yang mencapai area tambak. Sebelum abrasi melanda, warga yang mayoritas berprofesi sebagai petambak terbantu oleh benteng alami sabuk hijau (grenbelt) hutan mangrove. Kerusakan mencapai puluhan meter, dan telah terjadi selama bertahun tahun. Selain kelompok hijau lestari, keberadaan hutan mangrove juga dilestarikan warga sekitar.

Kesadaran masyarakat menjaga kelestarian mangrove jenis api-api sangat tinggi. Hal itu dikarenakan, wilayah tersebut kerap dilanda angin kencang. Masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan memanfaatkan tanaman tersebut untuk menjaga permukiman warga dari terjangan angin. “Kesadaran warga saat ini bertambah, karena kawasan hutan mangrove digunakan sebagai tempat wisata, dan bisa memberi pendapatan tambahan,” ujarnya.

Untuk sarana edukasi, bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Tanjung Sembilang, diluncurkan program pengunjung menanam mangrove. Hal itu sekaligus dijadikan sebagai sarana untuk berdonasi ikut menjaga kelestarian mangrove di Pantai Tanjung Sembilang. Sudarto, salah satu anggota kelompok hijau lestari menyebut, kerusakan oleh abrasi bisa dicegah. Upaya pelestarian mangrove menjadi tanggungjawab masyarakat dan kelompok pelestari hutan.

Direncanakan, sekira 25.000 bibit mangrove akan ditanam di November ini. Namun, hujan yang belum turun membuat penanaman ditunda. Meski demikian, sejumlah bibit yang sudah tumbuh secara alami di alam tetap dijaga dengan memberikan pelindung dari bambu. “Musuh alami bibit mangrove muda adalah kepiting, jadi harus dilindungi dengan buluh bamboo, agar bisa tumbuh maksimal,” cetus Sudarto.

Keberadaan tanaman mangrove, disebut Sudarto, efektif menjaga kualitas udang vaname. Keberadaan akar napas, menjadi tempat persembunyian udang. Beberapa petambak menyisakan mangrove di bagian tengah tambak, agar tumbuh secara alami.

Lihat juga...