Kemarau, Petani di Lampung Timur Panen Labu

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Permintaan buah labu (curcubita moschata) membuka peluang warga Lampung Timur (Lamtim) untuk membudidayakan komoditas tersebut.

Masduki, salah satu petani di Desa Negeri Agung, Kecamatan Gunung Pelindung membudidayakan buah labu saat musim kemarau (gadu). Labu ditanam di lahan seluas 12 hektare oleh sekira 30 orang petani. Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Bina Marga 1 membudidayakan labu karena kebutuhan masyarakat yang tinggi. Kebutuhan paling dominan dari pabrik pengolahan kuliner dodol.  Selain diolah menjadi dodol, buah labu kerap digunakan sebagai bahan baku pembuatan kolak dan menu kuliner lain.

Budi daya labu di musim gadu, masih bisa menghasilkan sekira 1 ton labu perhektare. “Petani memanfaatkan lahan kering yang kekurangan pasokan air, meski hanya menggunakan belik untuk penyiraman sebagian besar tanaman menghasilkan buah yang melimpah dibandingkan lahan dibiarkan saat kemarau,” ungkap Masduki saat ditemui Cendana News, Sabtu (16/11/2019).

Labu membutuhkan waktu tanam 60 hari untuk berbuah. Dan bisa dipanen diusia 80 hari. Labu hasil panen di sortir sebelum dikirim ke pabrik. Labu dibedakan menjadi dua grade atau ukuran. Khusus untuk pabrik ukuran kecil berbobot maksimal satu kilogram. Sebaliknya masyarakat umum memilih labu ukuran sedang hingga besar, dengan berat rata-rata dua hingga empat kilogram. “Sepanjang tahun lahan yang kurang pasokan air kami manfaatkan untuk menanam labu karena kebutuhan kuliner cukup beragam,” papar Masduki.

Slamet,salah satu pekerja pemanen labu dengan upah harian Rp60.000 pada lahan milik Masduki di Desa Negeri Agung Kecamatan Gunung Pelindung Lampung Timur,Sabtu (16/11/2019) – Foto Henk Widi

Labu kuning dan merah banyak dikembangkan petani. Selain dodol, labu banyak dimanfaatkan untuk campuran bahan pembuatan puding, roti hingga es krim. Bagi sebagian rumah makan di sepanjang Jalan Lintas Timur Lampung, labu dimasak sayur lodeh yang dihidangkan dengan nasi tiwul khas Lampung Timur.

Labu dijual seharga Rp1.200 perkilogram. Dengan perawatan selama tiga bulan, petani bisa menghasilkan panen 1 ton labu. “Budi daya labu tentunya memberi rantai keuntungan bagi petani, buruh panen dan sejumlah pelaku usaha penjualan dan usaha kuliner,” papar Masduki.

Slamet, salah satu buruh petik menyebut, panen labu memberinya kesempatan untuk mendapatkan penghasilan Rp60.000 setelah bekerja setengah hari. “Selama kemarau lahan sawah tidak ditanami padi sehingga penghasilan saya mengandalkan sebagai buruh petik,” ungkap Slamet.

Lihat juga...