hut

Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Perlu Diiringi Peningkatan Layanan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, menilai, kenaikan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang digawangi oleh BPJS Kesehatan sebesar 100 persen, memang terlihat sangat memberatkan masyarakat, dan sekaligus mempengaruhi APBD Sumatera Barat 2020 ke depan.

Ia menyebutkan dengan kenaikan iuran JKN-KIS itu, haruslah diikuti oleh perbaikan manajemen dan pelayanan di setiap rumah sakit. Karena tidak adil juga apabila iuran naik, sementara pelayanan tidak mengalami perubahan.

“Mudah-mudahan kenaikan ini bisa mendorong pelayanan kesehatan di masyarakat jauh lebih baik. Karena apabila iuran naik, tapi layanan malah seperti itu juga, khawatirnya di masa mendatang menimbilkan protes rakyat,” katanya, pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Nasional (PITNAS) ke-XXVII pada tanggal 14-16 November 2019, di Pangeran Beach Hotel, Padang, Jumat (15/11/2019).

Nasrul menyatakan dari informasi dan laporan di lapangan, selama ini banyak masyarakat mengeluhkan pelayanan rumah sakit. Salah satu keluhan, baru empat hari dirawat, malah disuruh pulang, padahal kondisi pasien mesti mendapatkan perawatan inap.

Ke depan persoalan yang merugikan pasien itu mestinya tidak terjadi, ketika nanti iuran JKN-KIS resmi naik.

“Saya memahami persoalan yang demikian ya jelas memberatkan si pasien. Selain itu pasien pun harus membeli obat di luar, dengan alasan obatnya tidak tersedia di rumah sakit. Jika sudah begitu, apa jaminan kesehatan bagi masyarakat yang memiliki KIS,” ucapnya.

Wagub Sumatera Barat, Nasrul Abit, menegaskan dari pertemuan tersebut, ia meminta agar perawat dan dokter rumah sakit tidak membeda-bedakan pasien, baik yang umum maupun yang menggunakan BPJS Kesehatan.

Karena setiap penyakit yang ditangani rumah sakit haruslah dilayani sampai tuntas dari sisi dana perawatan oleh BPJS Kesehatan.

Menurutnya, saat ini di Sumatera Barat ada 75 rumah sakit, yang terdiri dari 32 rumah sakit pemerintah dan 43 rumah sakit swasta. Rumah sakit itu terletak di 19 kabupaten dan kota di Sumatera Barat.

Namun, beberapa rumah sakit yang terancam tidak bisa kerjasama dengan BPJS kesehatan, bahkan ada yang sudah putus kerjasamanya.

Bahkan rumah sakit itu banyak melayani pasien Hemodialisa, katanya, tentulah sangat memberatkan bagi pasien penderita sakit ginjal yang butuh cuci darah dan penyakit kronis lainnya.

“Untuk itu saya minta semua pihak bisa untuk mencari terobosan baru, untuk penderita pasien gagal ginjal, cuci darah dan penyakit kronis lainnya, karena mereka sangat tergantung dengan mesin hemodialisa,” tutur Nasrul Abit.

Nasrul berharap, jangan ada lagi pasien penyakit gagal ginjal dan kronis lain terhenti dalam pelayanan kesehatan (BPJS). Ia meminta Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan Instansi terakhir dapat memantau, agar hak-haknya jangan sampai terabaikan.

Untuk itu, dalam pertemuan IPDII yang mengangkat tema peningkatan kompetensi perawat dialisis untuk meningkatkan kualitas pelayanan dialisis terkini, perlu juga menjadi pertimbangan untuk layanan kesehatan ke depan.

“Tentunya ini suatu kehormatan bagi Sumatera Barat sebagai tuan rumah kegiatan bertaraf nasional yang dihadiri oleh ribuan peserta. Semoga momentum ini dapat menukar pengalaman di bidang dialisis dan dapat meningkatkan kepeduliaan pelayanan pada pasien dialisis,” harapnya.

Sementara itu, Ketua PD- IPDI Sumatera Barat, Hilma, S.Kep, menjelaskan, acara pertemuan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi perawat dialisis dan meningkatkan kualitas pelayanan dialisis terkini, yang dihadiri lebih kurang 1200 peserta dari perawat dialisis se-Indonesia.

Ia menyebutkan dalam pertemuan ilmiah tahunan ini, IPDII juga membahas tentang kompetensi perawat dialisis sesuai dengan tuntutan masyarakat, untuk mendapatkan pelayanan yang berkualitas.

“Jadi memang mengharuskan perawat sebagai pemberi pelayanan yang terbaik dan mampu berpikir kritis serta cerdas untuk mencapai pelayanan keperawatan yang profesional,” jelas Hilma.

Menurutnya, seluruh peserta adalah tenaga medis yang berkecimpung dalam penyakit ginjal dan dialisis. Bahkan peserta perawat pun juga terlibat dalam unit cuci darah di instansinya masing-masing.

“Kita ingin meningkatkan kualitas pelayanan dokter dan perawat dalam bidang hipertensi, penyakit ginjal, dan cuci darah, maka dari itu kita berkumpul di sini, bisa memberikan masukan inovasi dalam peningkatan kualitas pelayanan dialisis terkini,” tutupnya.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com