hut

Keragamaan Budaya Menghiasi Lomba Tari Kreasi Tradisi Nusantara 

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

JAKARTA – Gerak lincah remaja belia pelajar SMP K.ST Petrus Oinlasi TTS, Nusa Tenggara Timur (NTT) memukau penonton di panggung Kancil Istana Anak-Anak Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah, Minggu (10/11/2019) saat menarikan tari tradisi Sbo Tel Sain. Sesekali, tubuh mungil dengan balutan kain khas tenun NTT tersebut berputar seirama musik sambil mengibaskan lentik jarinya.

Begitulah sedikit gambaran dari para remaja yang tampil mewakili Sanggar Halan Nekmese Onam, NTT, pada lomba Tari Kreasi Tradisi Nusantara yang digelar Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Penampilan tak kalah apik juga disajikan peserta dari sanggar Wijaya dengan tema Ringkang Wayang. Kemudian penari dari sanggar Margasari menampilkan Serendang Ajer. Tercatat ada 35 sanggar tari dari Jabodetabek dan provinsi lain di Indonesia, yang tampil menghibur penonton.

“Ini adalah keberagamaan budaya. Seperti di TMII kan  34 provinsi. Tadi kita lihat tidak hanya yang ada di sekitar Jakarta, namun yang non jauh disana, NTT kirim perwakilannya dan tampil sangat menjiwai, menganggumkan kita,” kata Suryandoro, salah satu juri lomba tari kreasi tradisi nusantara kepada Cendana News di sela-sela lomba, Minggu (10/11/2019).

Menurutnya, penampilan ke 35 peserta sangat luar biasa yang sangat layak untuk ditunggu. Diharapkan ke depan 34 provinsi di Indonesia dapat mengirimkan wakilnya. “Mereka inilah bibit yang akan menjadi penari mewakili daerahnya,” ujarnya.

Keragamaan Budaya Hiasi Lomba Tari Kreasi Tradisi Nusantara

Menurutnya, seluruh kabupaten kota di Indonesia sudah mulai bergerak mempersiapkan penari. Hal itu menjadi bukti, bahwa seni tradisi di daerah tidak mati. “Jadi mereka terus berkembang dan siap tampil di kancah nasional dan internasional,” tukasnya.

Suryandoro merasa bangga melihat antusias peserta lomba ini yang setiap tahunnya bertambah. Mereka adalah, generasi muda yang mencintai seni budaya tradisi. “Inilah bukti bahwa anak-anak Indonesia saat ini masih cinta terhadap seni budaya bangsanya,” tukas Suryandoro.

Adapun kriteria penilaian adalah wiraga, yaitu teknik gerak, hapalan dan sebagainya. Kemudian ada wirasa yang merupakan kejiwaan. “Jadi bagaimana mereka menjiwai tarian,” tandasnya.

Kemudian ada wirana, yaitu bagaimana teknik permainan semua tarian yang ditampilkan. “Jadi ketiga hal itu mereka harus kuasai. Disamping tari kelompok bahwa mereka butuh adanya kebersamaan, kekompakan dan harmonis antara kostum, tari dan musik yang ditampilkan,” ungkap Suryandoro.

Lihat juga...