hut

Kerajinan Barang Bekas Sumber Pendapatan Warga di Pesisir Bakauheni

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Usaha kreatif menjadi peluang mendapatkan penghasilan bagi warga Bakauheni yang tinggal di kawasan wisata. Usaha kecil membuat kerajian berbahan barang bekas atau komoditas hasil perkebunan bisa dilakukan oleh warga setempat.

Seperti yang dilakukan Eko Prapto, warga Dusun Sukarame, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan. Eko membuat kincir angin atau kitiran. Belajar secara otodidak, Eko membuat kincir angin yang bisa dijual.

Semangat berusaha semakin menguat setelah mendapatkan pelatihan pemanfaatan sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomis. Kincir angin yang dibuat cukup unik, karena bisa menghasilkan bunyi. Bahan untuk membuatnya kertas minyak, lem, bambu tali, kertas bekas, botol aluminium bekas, dan karet. “Awalnya saya juga sekaligus memperkenalkan anak saya untuk menciptakan mainan yang kreatif dan bisa dijual, hasilnya dijual di warung yang ada objek wisata pantai Tanjung Tuha Pasir Putih,” ungkap Eko Prapto saat ditemui Cendana News, Selasa (12/11/2019).

Zakaria,pegiat pariwisata Lampung Selatan – Foto Dok Henk Widi

Modal pembuatan mainan kincir hanya sekitar Rp250.000, untuk membeli bahan seperti kertas minyak, lem kertas, dan karet. Sementara bambu tali diperoleh dari kebun sendiri. Dan kaleng bekas mengumpulkan dari sampah yang terdampar di pantai.

Pembuatan kincir diawali dengan membelah bambu. Selanjutnya kertas minyak ditempel pada pola yang sudah dibuat, agar bisa berputar saat diterpa angin. Sebuah gendang kecil dari irisan kaleng aluminium menjadi hiasan, sekaligus untuk menimbulkan suara unik saat dirangkai dengan bagian kincir yang berputar. “Sehari saya bisa membuat puluhan kincir karena sebagian dipesan untuk suvenir anak anak yang ulang tahun,” tambah Eko Prapto.

Kincir angin mainan yang dijual di objek wisata dengan seharga Rp5.000 perbuah. Namun saat dijual kepada anak-anak sekolah hanya seharga Rp3.000. Setiap akhir pekan, penjualan bisa mencapai 50 buah. Omzet tersebut cukup menambah penghasilan dari berjualan makanan ringan di objek wisata.

Zakaria, pegiat parwisata di Lampung Selatan mendukung langkah warga untuk berkreatisi. Sebagai pelatih pelaku usaha pariwisata, ia mendorong pemanfaatan potensi yang ada di lingkungan. Dan Eko Prapto disebutnya, merupakan salah satu peserta yang pernah mengikuti pelatihan kreatifitas berbahan sampah. “Kreatifitas pelaku usaha wisata membuka peluang ekonomi terus didukung dengan adanya pelatihan dan harus dijalankan,” ungkap Zakaria.

Penciptaan suvenir dapat menjadi sumber usaha bagi masyarakat. Seoerti yang dilakuaknw arga Ketibung, yang membuat suvenir berbahan kulit kerang. Sememntara di wilayah Way Kalam, warga membuat kerajinan kriya dari kayu sebagai suvenir.  Dukungan bagi pelaku usaha kecil berbasis pariwisata, disebut Zakaria bisa memanfaatkan dana desa.

Lihat juga...