hut

Kerajinan Karya Siswa Sekolah Kami di Pasarkan “Online”

BEKASI – Banyak kreasi unggulan dibidang keterampilan, yang dibuat siswa ‘Sekolah Kami’, sebuah sekolah khusus bagi anak pemulung dan kaum dhuafa yang ada di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Kreasi tersebut saat ini telah dipasarkan secara online dan langsung. Beragam karya keterampilan tersebut diantaranya, kreasi decoupage dan quilling melalui media kertas daur ulang yang dijadikan karya seni seperti amplop dan tas.

“Daur ulang kertas bikin bubur kertas dicetak menjadi lembaran kertas. Dibuat jadi kartu ucapan. Salah satu kreasi peserta didik kami, di sekolah khusus pemulung dan kaum dhuafa ini,”jelas Tatiyana, pengajar kelas IV dan X di Sekolah Kami, Buntara IV Dalam, kepada Cendana News, Selasa (12/11/2019).

Hasil karya tersebut dipasarkan secara online, atau ditawarkan kepada pengunjung yang pernah datang ke sekolah. Hasilnya akan dimasukkan sebagai uang kas dalam bentuk tabungan untuk kegiatan sekolah. Bahkan juga menjadi tabungan peserta didik, yang bisa diambil saat hari besar seperti lebaran. “Disini peserta didik ditekankan sekolah gratis, tapi berpenghasilan. Caranya dengan berkarya, maka dia akan memiliki uang tabungan dari hasil karyanya yang terjual melalui sistem fee,” jelas Tataiyana.

Siswa sedang meramu Karbol sereh, yang dipasarkan menggunakan bahan baku biang karbol dan sereh untuk membersihkan lantai kamar mandi, Selasa (12/11/2019) – Foto M Amin

Menurutnya, siswa yang mau kreatif, akan memiliki penghasilan lebih. Dan pada akhirnya akan memiliki tabungan. Teknik decoupage bahan baku tas, kipas atau tempat tisu, di beli dipasar dan para siswa tinggal menempelkan kertas yang didaur ulang untuk menghasilkan karya seni. “Nempelnya harus telaten, karena menggunakan bahan kertas,” tandasnya.

Selain keterampilan khusus quiling dan decoupage, Sekolah Kami juga membuat kerajinan karbol, menggunakan bahan dasar sereh dan biang karbol. Produknya dikemas di dalam botol bekas air mineral, kemudian dipasarkan dengan harga Rp7.000 perbotol. “Sistemnya bagi hasil dengan anak berapa yang terjual setelah diambil untuk biaya kegiatan tertentu seperti kemah. Kalau tidak ada kegiatan, maka akan dimasukkan ke tabungan suatau saat kenaikan kelas mereka bisa ambil,”ujar ibu Yanti guru kelas IX dari divisi keterampilan lainnya.

Saat ini ‘Sekolah Kami’ tengah merencanakan kemah selama tiga hari. Semua siswa tengah disibukkan membuat kreasi untuk dijual berbagai produk untuk menambah biaya pelaksanaan kemah tersebut.

Lihat juga...