hut

Klon Unggul Cegah Busuk Buah pada Kakao

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

MAUMERE — Busuk buah yang disebabkan infeksi cendawan Phytoptora palmivora tidak hanya menyerang buah kakao yang masih baru berbuah, tetapi hingga yang siap dipanen. Buah yang terinfeksi, lama kelamaan berwarna hitam dan rusak, bahkan bijinya juga mengalami kerusakan.

Pendamping petani kakao dari LSM VECO Rikolto, Iis Beribe saat ditemui di kebun kakao di Sikka, Senin (18/11/2019).Foto : Ebed de Rosary

“Sudah belasan tahun penyakit ini menjangkit sehingga hasil panen menurun drastis. Kami semprot dengan pestisida tetapi nanti muncul lagi,” kata Sergius Nong, salah seorang petani di Sikka, Senin (18/11/2019).

Petani pun kata Sergius akhirnya pasrah dan mencoba untuk menanam tanaman kakao baru dengan harapan buah dari pohon yang baru tidak terserang penyakit busuk buah lagi.

“Rata-rata tanaman yang diserang umur pohonnya sudah tua dan tidak produktif lagi, sehingga kami terpaksa tanam yang baru,” tuturnya.

Petani sudah banyak yang pasrah sebab penyakit ini pun tidak pernah hilang meskipun dilakukan pemangkasan.

Iis Beribe pendamping petani kakao dari Veco Rikolto mengatakan, serangan busuk buah awalnya berupa bercak coklat pada permukaan buah yang biasanya terjadi pada ujung atau pangkal buah yang lembab dan basah.

“Bercak-bercak tersebut pun lama kelamaan membesar hingga semua kulit buah akan tertutupi. Selanjutnya bercak membesar hingga menutupi semua bagian kulit buah,” jelasnya.

Saat kondisi cuaca lembab, sambung Iis, pada permukaan bercak tersebut akan tampak miselium dan spora jamur berwarna putih.

Spora ini yang akan menjadi alat reproduksi Phytoptora palmivora untuk dan menyebar ke buah-buah kakao lainnya yang masih sehat atau belum terserang.

“Penyakit busuk buah menyebar dengan cepat berkat bantuan angin. Selain itu juga lewat semut hutan, tupai, bekicot dan hewan lainnya yang sering hidup di sekitar batang dan cabang pohon kakao,” ungkapnya.

Untuk mengatasinya kata Iis, pihaknya menganjurkan petani untuk melakukan P3S yakni Pemangkasan, Pemupukan, Panen Sering dan Sanitasi secara teratur.

Kakao dan pohon pelindung jangan ditanam dengan jarak terlalu dekat agar sinar matahari bisa masuk dan kelembaban udara bisa terjaga.

“Kami juga meminta petani untuk melakukan penanaman klon atau bibit unggul yang lebih tahan hama seperti MCC 01, MCC 02, Sulawesi 1, Sulawesi 2, Ikri 2 dan Ikri 4 dan lainnya disesuaikan dengan kondisi kebun,” terangnya.

Kendalanya, kata Iis, masih banyak petani yang belum mau melakukan apa yang disampaikan dan diajarkan meskipun mereka telah melihat keberhasilan dari petani lainnya.

“Semuanya tentu tergantung kepada para petani itu sendiri apakah mereka mau melakukan apa yang disampaikan para pendamping atau tidak karena mereka yang menjalani dan mendapatkan manfaatnya,” tutupnya.

Lihat juga...