hut

KNKS Dorong Lembaga Zakat Kelola Aset Wakaf Produktif

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) mendorong lembaga-lembaga zakat pengelolaan dana sosial seperti wakaf produktif yang memiliki potensi besar agar dikelola dengan baik.

“Kami dorong lembaga zakat untuk menilai dana wakaf masyarakat. Karena wakaf kan bukan hanya dalam bentuk tanah, tapi bisa tunai, berupa saham, maupun sukuk,” kata Direktur Eksekutif KNKS, Ventje Rahardjo S, kepada Cendana News, ditemui pada acara Indonesia Sharia Economic Festival di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Dalam pengelolaan itu, tentu menurutnya, harus mempunyai data yang bisa diklasifikasi terhadap aset wakaf. Sehingga dari klasifikasi aset itu bisa diketahui mana yang mempunyai nilai komersial yang lebih tinggi dan rendah.

Yang mempunyai nilai komersial, tentu mempunyai ruang gerak untuk dinilai bentuk investasinya. “Kalau memang komersialnya tinggi, itu investasinya tentu akan bisa mengarah pada hal-hal yang produktif,” ujarnya.

Ventje mencontohkan, kalau orang berwakaf tanah di Kuningan, Jakarta Selatan dibandingkan dengan Kuningan, Jawa Barat, tentu nilai asetnya jauh sekali.

Sehingga menurutnya, diperlukan adanya satu lembaga manajemen aset wakaf yang cukup profesional yang bisa mengukur terhadap nilai komersialnya. Dan kemudian membentuk pemanfaat wakaf seperti apa.

“Nah ini memang harus menuju ke sana, sehingga tanah di Kuningan, Jabar akan lebih bagus lagi manfaatnya sebagai wakaf produktif. Karena yang mengelola orang profesional,” ujarnya.

Selain menggerakan lembaga zakat dalam mengelola aset wakaf, KNKS juga memanfaatkan teknologi modern. Yakni, kata Ventje, dengan menggunakan platform digital untuk mengelola zakat dan wakaf.

Menurutnya, melalui digitalisasi zakat proses pengumpulan dan penyaluran zakat akan lebih mudah. Dalam perjalanan KNKS telah membangun percontohan digitalisasi zakat dengan melibatkan beberapa kelurahan di daerah.

“Yang sudah terbangun itu proyek digitalisasi di kelurahan kota Tangerang, dengan membuat rekening zakat payment syariah di bank. Jadi sistemnya otomatis bayar zakat dari tabungan,” ujarnya.

Sistem ini dilakukan mengingat potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 280 triliun. Sehingga menurutnya, sangat diperlukan terobosan untuk mengoptimalkan potensi yang sangat besar tersebut.

“Apalagi Indonesia ini populasi muslim terbesar dunia, persentasenya 12,7 persen global muslim. Potensinya sangat besar. Insyaallah dengan digitalisasi, keuangan syariah kita tumbuh pesat,” pungkasnya.

Lihat juga...