hut

Kondisi Ruang Kelas SDN Kepeketik di Sikka, Merana

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Kondisi bangunan sekolah dan fasilitas belajar mengajar di beberapa Sekolah Dasar (SD) di kabupaten Sikka masih sangat memprihatinkan.

Hal serupa terjadi di SDN Kepiketik di desa persiapan Mahe Kelan, desa Egon, kecamatan Waigete, kabupaten Sikka, provinsi NTT.

“Kondisi kedua ruang kelas ini sudah ada selama 4 tahun. Jika musim panas kami bisa pergunakan untuk belajar mengajar,” kata Martha Matrona, guru kelas V SDN Kepiketik, desa Egon, kecamatan Waigete, kabupaten Sikka, NTT, Kamis (7/11/2019).

Martha Matrona, guru kelas V SDN Kepiketik, desa Egon, kecamatan Waigete, kabupaten Sikka, NTT, saat dijumpai, Kamis (7/11/2019). Foto: Ebed de Rosary

Saat musim hujan kata Martha, kegiatan belajar mengajar kelas 4 dan kelas 5 digabung di ruangan kelas 6 dan ruangan kepala sekolah.

Kondisi kedua ruangan ini sudah permanen dimana berdinding tembok dan beratap seng. Lantai semennya pun masih bagus.

“Ruangan permanen hanya ada saja untuk ruang kelas 6 dan kelas 2. Ruangan kelas 2 juga disekat untuk ruang guru, kepala sekolah dan perpustakaan,” terangnya.

Sementara ruangan kelas 6 kata Martha dipergunakan juga sebagai ruangan UKS dan ruangan tata usaha. Sekat dibuat menggunakan bambu belah atau halar saja.

Jumlah murid memang terbatas, sebut wakil kepala sekolah ini, dimana totalnya hanya sebanyak 31 orang saja. Tidak ada murid kelas 1 dan kelas 3.

“Murid kelas 2 sebanyak 5 orang, kelas 4 ada 6 orang, kelas 5 ada 10 orang, serta 13 orang duduk di kelas 6. Kelas 1 dan kelas 3 muridnya tidak ada,” paparnya.

Selama ini pemerintah kabupaten Sikka sebut Martha, tidak memperhatikan sekolah negeri ini. Pihaknya berharap ada perhatian untuk membangun ruang kelas, ruang guru, perpustakaan serta rumah guru.

“Banyak guru dari luar daerah sehingga mereka tinggal di rumah-rumah keluarga di kampung ini. Kami harap pemerintah bisa bangun juga rumah dinas bagi para guru,” pintanya.

Novita Daresta, murid kelas 5 yang ditanyai mengaku senang, bisa bersekolah meskipun kondisi ruang kelasnya sangat mengenaskan.

“Kalau hujan kami harus pindah ke ruang kelas yang sebelah bawah, gabung dengan kelas lainnya. Kadang kami sering kepanasan karena atapnya sudah lubang,” ujarnya.

Novita mengaku, ingin menjadi guru dan sejak kecil tinggal di kampung ini yang berjarak sekitar 3 kilometer dari jalan negara trans Flores Maumere-Larantuka.

Disaksikan Cendana News, kondisi ruang kelas ini sangat mengenaskan. Bangunan darurat yang dibangun masyarakat ini hanya beratap seng yang sudah berlubang.

Dinding dari bambu belah pun sudah berlubang sana sini sementara lantainya pun masih lantai tanah. Saat hujan lantai pasti becek karena atap sudah banyak yang bocor.

Di sekolah yang berjarak sekitar 30 kilometer dari kota Maumere ini, ada sebuah papan tulis usang yang tergantung di depan ruang kelas. Para guru masih mengajar dengan menggunakan kapur tulis.

Lihat juga...