hut

Konservasi DAS Way Asahan Cara Petani Penengahan Pertahankan Air

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Konservasi lingkungan daerah aliran sungai (DAS) Way Asahan menjadi kunci keberlangsungan pasokan air di wilayah Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel). Karyono, petani di Desa Pasuruan menyebut di wilayah itu ada lebih dari 152 hektare lahan sawah mengandalkan pasokan air sungai tersebut.

Aliran air yang stabil bahkan saat kemarau imbas positif masyarakat menjaga lingkungan hutan Gunung Rajabasa dan DAS Way Asahan. Upaya konservasi dilakukan masyarakat di desa yang berada di kawasan penyangga hutan. Desa itu meliputi Way Kalam, Ruang Tengah dengan kondisi pepohonan yang masih lestari.

Kesadaran pentingnya pohon sebagai penyangga daerah resapan air berkat pengalaman satu dasawarsa silam. Sejumlah alih fungsi lahan perbukitan kaki Gunung Rajabasa menjadi lahan tanaman jagung, pepohonan DAS Way Pisang jenis bambu ditebang. Imbasnya saat kemarau debit air sungai Way Asahan berkurang, sebagian kering.

“Langkah bersama masyarakat dilakukan dengan menjaga pepohonan meliputi bambu petung, tamiang, sejumlah pohon rumbia dan keluwih yang ikut menciptakan sumber mata air baru,” ungkap Karyono saat ditemui Cendana News, Rabu (6/11/2019).

Terciptanya sumber mata air baru itu diakui Karyono mulai dirasakan sejak lima tahun silam. Sejumlah pohon dengan kemampuan meresapkan air di antaranya rumbia, bambu tamiang, keluwih, sukun sengaja ditanam di bagian tulakan sawah. Tulakan merupakan kawasan menyerupai delta sungai di lahan yang dimiliki.

“Upaya konservasi yang cocok dilakukan pada DAS Way Asahan dengan menanam tanaman produktif tapi tidak mengganggu tanaman padi,” tegasnya.

Orangtua Karyono, Bonimin, petani yang dikenal sebagai pembuka awal lahan pertanian di wilayah itu mengaku penting menjaga lingkungan sungai. Sejak dibuka 1960 silam ia dan sejumlah perantau asal Yogyakarta masih menemui pohon endemik jenis merbau, bendo dan tanaman kayu keras. Sejumlah ledokan atau rawa rawa kaya sumber air berubah menjadi sawah meski sebagian dipertahankan.

“Saat kemarau wilayah kami tidak pernah kesulitan air karena masyarakat masih menjaga kawasan resapan air di sepanjang aliran sungai dengan tanaman pohon,” ungkap Bonimin.

Upaya menjaga DAS sebagai kawasab konservasi terus disosialisasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Idi Bantara, kepala Balai Pengelolaan DAS Way Seputih Way Sekampung (WSWS) Lampung saat dihubungi menyebutkan, pihaknya terus mensosialisikan konservasi sungai. Sejumlah tanaman harus dipertahankan agar dapat menjaga lingkungan sungai tetap bisa memasok air.

Ia menyebut sungai Way Asahan mengalir ke sungai Way Pisang lalu ke sungai Way Sekampung. Saat musim kemarau sungai tersebut masih mampu mengalirkan air memadai bagi masyarakat pemilik lahan pertanian. BPDAS diakuinya menyediakan bibit tanaman bagi masyarakat di Persemaian Permanen Karangsari.

“Jutaan bibit disediakan dan sebagian cocok ditanam di DAS dengan prosedur meminta bibit mengisi formulir secara gratis,” papar Idi Bantara.

Lihat juga...