hut

Kopi Bumbung, Sensasi Baru Menikmati Kopi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Jika pada umumnya kopi diseduh kemudian langsung dituangkan dalam cangkir, maka kopi Bumbung gula jawa justru disajikan dalam gelas bambu. Selain mampu menahan panas lebih lama, penggunaan gelas bambu tersebut mampu memberikan keunikan tersendiri bagi usaha kopi yang telah dirintis Pak Wahyu sejak tahun 2011.

Wahyu menceritakan, usaha kopinya sengaja diberi nama kopi Bumbung karena wadah atau gelas kopinya terbuat dari bambu atau dalam bahasa jawa disebut bumbung.

Menurutnya selain wadah kopi yang unik, juga varian rasa kopinya yang tidak sama dengan kopi lainnya.

“Dulu pertama kali jual cuma ada kopi coklat dan kopi hitam. Tapi kemudian saya punya ide bagaimana kalau ditambahkan dengan rasa buah di dalam kopinya, karena selama ini belum ada kopi yang seperti itu,” sebutnya saat ditemui di pameran Artcofest di gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Sabtu (30/11/2019).

Pak Wahyu menunjukkan cara pembuatan kopi Bumbung di pameran Artcofest di gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Sabtu (30/11/2019). Foto: Agus Nurchaliq

Untuk varian rasa kopinya Wahyu mengaku meraciknya sendiri dengan melakukan beberapa kali eksperimen untuk mendapatkan rasa kopi buah yang ia inginkan.

“Rasa buahnya berasal dari buah asli karena kami tidak pernah menggunakan perasa buah kimia. Kita gunakan bahan-bahan yang alami karena ini memang menjadi keunikan dari kopi kami. Ada kopi hijau, kopi durian, kopi alpukat, kopi melon, kopi jeruk dan kopi strawberi,” sebutnya.

Kemudian untuk jenis kopinya sendiri digunakan kopi Robusta dan Arabika yang berasal dari Pacitan maupun Trenggalek. Sedangkan sebagai pemanisnya, Wahyu menggunakan gula rendah kalori yakni gula aren atau gula jawa.

Sementara itu, di rumahnya yang berlokasi di Jalan Bareng Raya gang 2 N tersebut, dalam sekali proses rosting, Wahyu mampu merosting minimal 50 kilogram biji kopi.

“Biji kopi yang kami rosting merupakan biji kopi yang sebelumnya sudah disimpan selama minimal dua tahun. Hal itu dilakukan untuk mengurangi kandungan kafein dalam kopi sehingga aman untuk lambung. Oleh karenanya konsumen kami mulai dari anak-anak sampai dewasa,” tuturnya.

Terkait pemasaran produk kopinya, Wahyu mengaku hanya berjualan di Car Free Day (CFD) dan kerap menerima pesanan dari kedai-kedai kopi dalam bentuk sasetan. Harganya mulai 7-10 ribu rupiah.

“Beberapa kali kami juga pernah mengirim kopi sampai ke Dubai sebanyak 1500 bungkus,” ucapnya.

Lihat juga...