hut

Kurangi Polusi, Petani Ubah Jerami jadi Pakan dan Pupuk

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Puncak musim panen padi di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) menimbulkan persoalan munculnya limbah pertanian. Sejumlah petani memilih membuang sampah ke sungai yang berimbas pendangkalan, menutup pintu air. Sebagian memilih membakar jerami agar lebih praktis dalam proses pembersihan yang menyebabkan polusi udara.

Paeran, petani sekaligus peternak di Desa Sri Pendowo, Kecamatan Ketapang menyebut sisa pertanian berupa batang padi kerap jadi biang polusi. Saat limbah melimpah dan jumlah peternak hewan pemamah biah (ruminansia) minim, lebih dominan dibakar. Namun semenjak jumlah peternak bertambah, peningkatan kebutuhan pakan berbahan jerami mulai dilirik.

Multi manfaat jerami mulai disadari sejumlah petani memiliki nilai ekonomis dan ekologis. Paeran menyebut nilai ekonomis tersebut muncul karena bisa dijual kepada para pemilik usaha penggemukan sapi (feedloter).

“Jerami kerap menjadi persoalan ketika dibakar terutama ketika lahan sawah berada di dekat jalan raya mengganggu pengguna jalan, sebagai petani dan peternak, saya pilih gunakan sebagai sumber pakan sapi,” ungkap Paeran saat ditemui Cendana News, Rabu (20/11/2019)

Pemanfaatan tanpa harus dibakar untuk pakan disebut Paeran bisa menjadi cadangan selama setahun. Sebagian disimpan dalam kondisi kering bisa menghemat pencarian pakan hijauan. Selain itu ternak sapi bisa menghasilkan kotoran yang diubah menjadi bahan bakar bio gas.

Jerami yang mulai dimanfaatkan oleh peternak diakui oleh Ngadiman, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan. Dua tahun sebelumnya ia kerap membersihkan dengan cara membakar. Sebab meski petani memanfaatkannya, sisa limbah masih berserakan di lahan sawah.

“Peternak kerbau dan sapi semula hanya memilih jerami muda sehingga sisa cukup banyak, membakar jadi pilihan agar lahan sawah bersih,” ungkap Ngadiman.

Limbah yang dibakar mempercepat pembersihan lahan masih dilakukan oleh Sumaidi petani di desa yang sama. Ia menyebut memilih membakar dengan alasan memanfaatkan musim kemarau. Sebab jerami yang mulai kering mudah dibakar menghasilkan abu yang bisa dijadikan pupuk.

Tukiman (kanan) petani di Desa Tanjung Heran Kecamatan Penengahan Lampung Selatan memanfaatkan jerami sebagai pupuk, Rabu (20/11/2019). Foto: Henk Widi

Sumaidi menyebut akibat pembakaran jerami ia memastikan polusi asap bisa terjadi. Namun pembakaran yang dilakukan jauh dari jalan raya membuat proses tersebut tidak mengganggu pengendara.

“Timbulnya polusi tentu tetap ada tetapi pembakaran dengan intensitas terbatas membuat asap tidak terlalu banyak,” cetus Sumaidi.

Berbeda dengan petani di Desa Pasuruan, Tukiman, petani di Desa Tanjungheran memilih memanfaatkannya untuk pupuk. Limbah jerami yang sudah dikumpulkan akan disimpan pada gudang khusus di tengah sawah.

“Limbah jerami sengaja ditumpuk pada kotak terbuat dari bambu, dilapisi batang pisang, kotoran sapi dan disiram zat pengurai,” ungkap Tukiman.

Setelah dua bulan lebih, proses pembusukan berlangsung dengan penyiraman air, jerami bisa dijadikan pupuk. Selain menjaga kebersihan lingkungan melalui upaya meminimalisir pembakaran, ia bisa mendapatkan pupuk organik. Pupuk ditebar memasuki masa penggenangan (ngelep). Sebab saat air menggenangi lahan, pembusukan jerami akan semakin cepat dan tercampur tanah saat pembajakan dengan traktor.

Lihat juga...