hut

Lebih Murah, Produsen Tempe di Lamsel Pilih Kedelai Impor

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Produsen tempe dan tahu memilih menggunakan kedelai impor asal Amerika Serikat dibanding memakai kedelai lokal.

Asror, produsen kedelai di Lampung Selatan (Lamsel) menyebut, sejak sepuluh tahun silam sebagian besar produsen tempe memilih memakai kedelai impor karena harga lebih murah. Sebagai perbandingan ia menyebut per sak kedelai impor berisi 50 kilogram dibeli seharga Rp355.000.

Kedelai impor bahan utama pembuatan tempe dan tahu diakui Asror dibeli dari salah satu distributor asal Kalianda. Sebagai perbandingan harga beli Rp355.000 untuk per sak kedelai impor ia hanya membeli seharga Rp7.100 per kilogram.

Sebaliknya harga kedelai lokal di pasaran bisa mencapai Rp425.000 per sak. Kedelai lokal yang dijual lebih mahal disebutnya rata-rata per kilogram seharga Rp8.500.

Selisih harga Rp70.000 kedelai impor dengan kedelai lokal menurut Asror cukup besar. Sebab dengan membeli sebanyak 10 karung saja ia harus mengeluarkan biaya Rp700.000 untuk membeli kedelai.

Pilihan kedelai impor bagi produsen tahu dan tempe menurutnya untuk menghemat biaya modal. Sebab per kilogram kedelai impor bisa dibuat menjadi 1,8 kilogram tempe. Sebaliknya 1 kilogram kedelai lokal hanya bisa dijadikan 1,4 kilogram tempe.

“Kalkulasi modal untuk pembuatan tempe dan tahu membuat produsen skala kecil seperti saya memilih memasok kedelai impor karena harga lebih murah dan hasil tempe lebih besar,” ungkap Asror saat ditemui Cendana News, Selasa (5/11/2019).

Kedelai yang sudah direbus dan dikemas melalui proses pencampuran ragi tempe disimpan hingga menjadi tempe siap jual buatan Asror warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Selasa (5/11/2019) – Foto: Henk Widi

Dalam sehari ia mengaku, membutuhkan sebanyak 30 kilogram kedelai untuk bahan pembuatan tempe. Sisanya sebanyak 20 kilogram dipergunakan sebagai bahan pembuatan tahu.

Produksi yang dilakukan selama tiga kali dalam sepekan menurutnya membutuhkan rata-rata 150 kilogram kedelai. Stok yang cukup rata-rata 2 ton per bulan membuat ia tidak pernah khawatir kekurangan bahan baku.

Penggunaan bahan kedelai impor untuk tempe menurut Asror, memiliki kelebihan. Jenis kedelai asal Amerika menurutnya memiliki ukuran seragam sehingga kepadatan tempe lebih bagus.

Sebaliknya jenis kedelai lokal yang pernah dibuat setelah proses pemberian kapang atau ragi tempe, proses fermentasi tidak merata. Proses pengembangan tempe pada wadah plastik yang lebih kecil kerap kurang diminati pedagang gorengan.

“Konsumen utama tempe yang saya buat umumnya penjual gorengan sehingga bisa dibelah banyak karena lebih tebal dari bahan baku kedelai impor,” cetus Asror.

Meski demikian ia tidak menampik kedelai lokal masih kerap ditawarkan kepadanya. Jenis kedelai lokal kerap dipakai untuk pembuatan rempeyek dan tempe yang dibungkus memakai daun pisang dan waru.

Ia memilih memakai plastik untuk mengemas tempe yang dibuat karena pengembangan kedelai lebih besar setelah diberi ragi.

Meski memiliki keunggulan kedelai impor bahan tempe menurut Asror kerap kurang bersih. Sebab pada setiap karung berisi 50 kilogram kedelai bercampur dengan jagung dan ranting-ranting tanaman kedelai.

Proses pengemasan dari gudang penyimpanan pada kedelai impor yang dibeli menurutnya kerap bercampur pada lokasi pengeringan jagung. Tidak mengherankan dalam satu bungkus tempe kerap ditemukan beberapa butir jagung.

“Setiap produsen kedelai impor memiliki gudang berbeda sehingga tingkat kebersihan bisa berbeda,” ungkap Asror.

Ia bahkan pernah ditawari untuk pasokan kedelai impor dari distributor berbeda. Namun karena distributor sudah menjadi langganan tetap ia masih mempergunakan kedelai impor untuk bahan tempe dan tahu.

Pembuatan tempe kerap dilakukan saat sore hari setelah pagi hingga siang ia mengolah tempe menjadi tahu. Setelah direbus kedelai akan dipisah 30 kilogram menjadi bahan tempe dan 20 kilogram menjadi tahu.

Pembuatan tempe dan tahu menurut Asror menyesuaikan hari pasaran. Selain itu banyaknya masyarakat yang melakukan hajatan pernikahan membuat ia mendapat pesanan tahu dan tempe lebih banyak dari kondisi normal.

Tahu dan tempe diakuinya dijual setiap hari Rabu, Kamis dan Sabtu sehingga harus dibuat sehari sebelumnya. Khusus untuk tempe dibuat dua hari sebelum dijual agar proses fermentasi menjadi tempe lebih sempurna.

Hasil produksi tempe yang dibuat menurut Asror dijual dengan harga Rp2.000 per kemasan atau Rp5.000 untuk tiga kemasan. Sementara untuk tahu dijual Rp5.000 untuk sebanyak 8 potong tahu putih ukuran kecil.

Stabilnya harga bahan baku kedelai membuat produksi tempe dan tahu yang ditekuninya masih berjalan dengan baik. Meski demikian ia menyebut, harga kedelai impor kerap terpengaruh naik turunnya Dollar AS karena pembelian importir memakai dollar.

Lihat juga...
escort mersin escort mersin escort mersin escort mersin erotik film erotik film izle escort malatya escort malatya escort malatya escort malatya