hut

Lima Bulan Sawah Petani di Sumbar Belum Dialiri Air

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

PADANG — Petani yang ada di sejumlah daerah di Sumatera Barat kini dalam kondisi yang dilema, semenjak sawah mereka tidak lagi dialiri air. Apalagi sebagian besar merupakan tadah hujan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra, yang ditemui di sela kegiatannya/Foto: M. Noli Hendra

Salah satu daerah yang kini petaninya mengalami kesulitan air, berada di Kabupaten Pesisir Selatan, tepatnya di Kecamatan Sutera dan Batangkapas. Kedua daerah ini, biasanya mampu memproduksi padi per tiga bulan, atau empat kali dalam satu tahun.

Aldi, petani di Sutera, mengatakan, sawah yang ada kini tidak bisa dikelola semenjak usai lebaran tahun ini. Biasanya para petani sudah bisa turun ke sawah, namun curah hujan yang turun semenjak waktu itu tidak merata, dan bahkan cenderung dalam intensitas kecil, tidak membuat lahan bisa untuk dibajak.

“Banyak yang kering dan banyak pula yang masih ada airnya yang menggenangi. Yang digenangi air tanpa ada aliran air yang masuk, akan sangat berisiko untuk dibajak atau ditanamai padi. Artinya butuh ada sumber airnya dulu,” katanya, Senin (18/11/2019).

Aldi juga melihat biasanya jelang penghujung tahun, musim hujan tiba, tapi hingga tersisa kurang lebih 1,5 bulan lagi 2019 bakal berakhir, dan musim hujan belum juga terlihat. Akibat hal ini, para petani pun bimbang, apakah harus tetap menunggu hujan, atau malah beralih untuk bertanam komoditas lainnya.

Ia mengaku bertanam jangung terbilang cukup menjanjikan sebagai perantara waktu jelang sawah kembali dialiri air, hanya saja apabila nanti sewaktu jagung mulai tumbuh besar, musim hujan pun melanda, akibatnya tanaman jagung jadi sia-sia.

“Harapan yang bisa ditunggu sekarang ini, ya hujan segera datang membasahi sawah dan mengaliri irigasi yang ada,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra mengatakan, dari luas sawah yang ada di Sumatera Barat yang kini mencapai 230 ribu hektare, hanya sebagian kecilnya yang memiliki irigasi yang memadai.

Dari catatan yang ada di dinasnya, baru 45 persen sawah yang tersentuh irigasi. Sementara itu lebih dari kurang 30 persen irigasi lainnya masih mengadalkan curah hujan atau sawah tadah hujan.

Menurutnya, seharusnya 75 persen sawah yang ada di Sumatera Barat ini sudah memiliki irigasi yang memadai. Dari catatan Pemprov Sumatera Barat, ada beberapa daerah yang petaninya berinisiatif memanfaatkan sungai, sehingga airnya bisa mengaliri hingga lahan sawah petani.

Sementara untuk sawah tadah hujan, diakui Candra kebanyakan berada di daerah Kabupaten Pesisir Selatan, Agam, hingga Pasaman Barat. Ia berpendapat, apabila irigasi buruk maka akan berdampak kepada hasil produksi padi, sehingga berpotensi mengganggu terget swasembada pangan tahun di Sumatera Barat. Padahal di tahun ini Sumatera Barat menargetkan 2,9 juta ton hasil panen padi.

“Jadi untuk mencapai terget tersebut kita mencoba memaksimalkan potensi yang ada, seperti saat memasuki musim panas pihaknya telah menyiapkan pompa air untuk mengaliri air ke lahan kering. Kemudian, jika kekeringan masih tetap berlanjut disiapkan sumur-sumur untuk penyedia air,” sebutnya.

Lihat juga...