hut

Masa ‘Ngebabang’, Permintaan Elpiji di Lamsel Meningkat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Masa ngebabang atau istirahat melaut berimbas permintaan gas elpiji bagi nelayan di Lampung Selatan (Lamsel) meningkat.

Saiman, pekerja di kapal bagan apung menyebut, masa ngebabang digunakan nelayan untuk menyandarkan perahu. Sejumlah nelayan yang tidak melaut bahkan memilih menghabiskan waktu di darat. Selama masa ngebabang hampir sepekan ia menyebut memasak air, lauk menggunakan gas elpiji.

Jenis gas elpiji yang digunakan menurut Saiman merupakan jenis Bright gas warna pink atau ukuran 5,5 kilogram. Banyaknya nelayan yang ngebabang dan menginap di perahu membuat permintaan akan gas meningkat.

Saiman menyebut memilih gas ukuran 5,5 kilogram agar bisa digunakan selama sebulan. Meski harus mengeluarkan uang sebesar Rp75.000 untuk isi ulang tabung gas pink lebih ekonomis.

Permintaan tabung gas yang meningkat diakuinya wajar sebab ngebabang puluhan nelayan menyandarkan perahu. Bagi nelayan yang memiliki rumah di wilayah lain menginap di kapal bagan congkel jadi pilihan.

Selama berada di kapal bagan congkel ia dan rekan-rekan sesama pekerja bagan atau dikenal bidak memilih memasak daripada membeli makanan siap saji.

“Selama ngebabang pekerjaan sementara memperbaiki alat tangkap, mencuci keranjang dan menjemur ikan japuh yang ditangkap sebelumnya menjadi dendeng sebagai lauk pauk selama masa istirahat melaut,” ungkap Saiman saat ditemui Cendana News, Senin (11/11/2019).

Tingkat konsumsi penggunaan gas yang tinggi menurut Saiman cukup beralasan. Sebab saat istirahat sebagian bidak memilih membuat kopi, teh, memasak mi instan dan memasak hidangan lain sesuai selera.

Ia menyebut penggunaan gas elpiji ukuran 5,5 kilogram disebutnya lebih praktis. Sebab tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram menurutnya hanya bisa digunakan selama sepekan.

Nelayan lain bernama Hasan di Desa Tridarma Yoga, pencari ikan sembilang mengaku, memakai elpiji untuk melaut. Mesin perahu yang telah dimodifikasi membuat ia bisa menggunakan tabung gas untuk mesin yang telah dikonversi.

Hasan, salah satu nelayan tangkap ikan sembilang mencari umpan, ia memanfaatkan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram untuk bahan bakar melaut dengan perahu, Senin (11/11/2019) – Foto: Henk Widi

Tabung gas ukuran 3 kilogram menurutnya bisa digunakan untuk kegiatan melaut sepekan.

“Memancing ikan sembilang kerap hanya di pesisir pantai tidak ke tengah karena wilayah berlumpur jadi habitat ikan sembilang,” ungkap Hasan.

Meski bisa menghemat dibantu dengan dayung, Hasan menyebut menggunakan satu tabung gas elpiji sebagai cadangan. Puluhan nelayan pencari ikan sembilang dengan tabung gas sebagai bahan bakar membuat ia memilih menyiapkan stok cadangan.

Sebab saat permintaan tabung gas meningkat ia harus kesulitan membeli pada sejumlah pengecer.

Permintaan akan tabung gas elpiji yang meningkat bagi nelayan diakui Koirun, pemilik agen gas elpiji untuk penyuplai wilayah Ketapang dan Bakauheni.

Koirun, agen gas elpiji ukuran 3 kilogram dan 5,5 kilogram yang sebagian dipergunakan untuk kebutuhan nelayan, Senin (11/11/2019) – Foto: Henk Widi

Pada satu kali pengiriman ia mengaku mengirim sebanyak 360 tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram dan sebanyak 50 tabung gas ukuran 5,5 kilogram. Tabung gas tersebut menurutnya dikirim ke sejumlah pengecer yang ada di pesisir pantai.

“Permintaan nelayan saat ngebabang tinggi karena mereka lebih banyak berada di darat, sekali kirim langsung habis dibeli,” ungkap Koirun.

Ia menyebut, suplai sebanyak 360 tabung kerap digunakan selama sepekan bahkan bisa lebih cepat. Ia melakukan pengiriman ke pengecer setelah mendapat kiriman dari distributor langsung dari stasiun pengisian bahan bakar elpiji (SPBE) yang ada di Kecamatan Sidomulyo.

Permintaan yang meningkat dengan pasokan yang lancar membuat harga tetap stabil Rp30.000 untuk gas ukuran 3 Kg dan Rp75.000 untuk gas ukuran 5,5 Kg.

Lihat juga...