Masa Panen Padi, Hari Baik Para Pencari Jerami di Lampung Selatan

Editor:Mahadeva

LAMPUNG – Masa panen padi, menjadi kesempatan bagi pencari jerami, yang memasok untuk usaha penggemukan (feedloter) sapi di Lampung Selatan, untuk mendapatkan penghasilan.

Usman, pencari jerami mengaku, setiap hari bersama delapan orang rekannya mencari jerami di persawahan yang sudah panen. Warga Desa Bandardalam,Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan tersebut mengatakan, permintaan jerami cukup tinggi.

Usaha feedloter di Kecamatan Sidomulyo, membutuhkan ribuan ton jerami untuk pakan tambahan. Jerami yang dikumpulkan dijual dengan sistem tonase, dengan harga Rp1 juta perton. Satu kendaraan colt diesel bisa memuat sekira empat ton jerami.

Pekerja pencari jerami asal Sidomulyo, pada umumnya merupakan petani yang tidak mengolah sawah karena kemarau. Jerami untuk kebutuhan feedloter dipilih yang kering. “Jumlah sapi milik feedloter swasta mencapai ribuan ekor jenis brahman cross, limousine. Sehingga kebutuhan pakan jerami tetap tinggi, sebagai campuran batang jagung, dedak dan tetes tebu,” ungkap Usman, saat ditemui Cendana News, Selasa (5/11/2019).

Sumarjo,warga Desa Sumbersari Kecamatan Sragi Lampung Selatan mencari jerami untuk pakan ternak yang harus dicari ke luar kecamatan lain,Selasa (5/11/2019) – Foto Henk Widi

Usman mencari jerami hingga ke wilayah kecamatan lain. Sulitnya mencari pakan jerami saat kemarau, membuat harganya melambung mencapai Rp1 juta per-ton. Sebelumnya, perton jerami hanya dihargai Rp600 ribu hingga Rp800 ribu. Dengan hasil empat ton jerami perhari, Dia bisa membawa pulang uang Rp500 ribu, karena bekerja berdelapan. “Jerami yang kami cari akan ditimbang dengan alat khusus selanjutnya akan digiling dengan mesin khusus dicampur dengan bahan pakan lain,” cetusnya.

Pencari jerami lain, Sumarjo, pemilik mobil bak terbuka L300 menyebut, musim panen menjadi masa mendapatkan penghasilan. Selain mencari jerami sebagai sumber pakan ternak sapi untuk 10 ekor sapi miliknya, Dia juga menjual jerami kepada peternak lain. Jerami dijual dengan sistem borongan, dengan harga Rp200 ribu hingga Rp300 ribu untuk 10 ikat. “Uang yang saya peroleh bisa digunakan sebagai pengganti bahan bakar untuk mencari jerami, karena harus mencari keluar kecamatan,” tuturnya.

Kemarau, membuat peternak kesulitan mendaptkan rerumputan hijau. Dan jerami yang difermentasi menjadi pilihan sebagai pengganti. Pakan jerami bisa bertahan hingga setahun lamanya, ketika disimpan dalam kondisi kering.

Sementara itu, pemilik sawah, Ngadiman, mengaku terbantu oleh para pencari jerami. Meski jerami akan dijual oleh para pencarinya, Dia memilih memberikan dengan gratis. Sebab, para pencari jerami juga harus ikut merontokkan padi yang ada di lahan sawah miliknya, untuk mendapatkan jerami. Pencarian jerami ikut membantu membersihkan lahan untuk penanaman berikutnya. Sebab limbah jerami yang ada di lahan sawah bisa dibersihkan tanpa harus membakar.

Lihat juga...