hut

Mengenal Karakteristik ‘Technology Freak’ pada Generasi Alpha

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Setelah dunia sibuk membahas Generasi Z, saat ini sudah muncul generasi baru yang memiliki keterkaitan dengan teknologi digital yang jauh lebih erat dan menjadikan mereka anak-anak yang lebih mudah beradaptasi. Generasi ini disebut Generasi Alpha.

Psikolog, Liza M Djaprie, menyebutkan, generasi Alpha adalah generasi yang lahir pada atau setelah tahun 2010. Dan generasi ini memiliki karakteristik yang dikenal dengan sebutan Technology Freak.

Istilah generasi Alpha ini dikemukakan  pertama kali oleh Social Researcher Mark McCrindle. “Anak-anak generasi Alpha adalah anak-anak yang tumbuh berkembang secara pesat dalam lingkungan yang lebih beragam serta lebih non-tradisional,” kata Liza saat diskusi pada acara Indonesia Women’s Forum 2019 di Gandaria City Jakarta, Jumat (22/11/2019).

Liza juga menyebutkan bahwa anak-anak Alpha memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan mudah pada kondisi lingkungannya. Karena memiliki orang tua yang memiliki latar belakang yang beragam.

“Anak-anak Alpha ini adalah generasi yang screenagers, generation glass dan iPad merupakan baby sitter mereka yang pertama. Kenapa? Karena mereka sudah terpapar digital bahkan dari saat mereka belum lahir,” ujar Liza.

Para generasi Alpha ini biasanya sudah terlibat dalam teknologi digital mulai dari saat ibunya menyadari kehamilan mereka.

“Begitu tahu hamil, update status. Bahkan ada yang langsung mempersiapkan akun media sosial untuk meng-update proses kehamilannya. Hingga saat kelahiran tiba,” ucap Liza.

Saat kelahiran, tak jarang, menurut Liza para orang tua menyewa fotografer resmi atau hanya sekedar saudara yang akan mendokumentasikan kelahiran atau foto detik-detik pertama setelah kelahiran.

“Kondisi ini menjadikan anak Alpha menjadi generasi yang tumbuh dengan keterlibatan teknologi yang lebih tinggi daripada generasi Z, yang merupakan pendahulunya. Tapi mereka akan jauh lebih fleksibel dalam penggunaan gadget dibandingkan generasi Z. Kalau generasi Z cenderung nggak mau lepas dari gadget, anak Alpha jauh lebih santai,” urainya lebih lanjut.

Liza menjelaskan bahwa generasi Alpha menjadi lebih stabil dalam pemakaian teknologi digital dibandingkan generasi Z. Karena mereka jauh lebih memiliki keterikatan dibandingkan generasi Z yang mengenal teknologi digital pada umur yang lebih tua dibandingkan generasi Alpha.

“Karena keterlibatan dalam teknologi digital yang lebih awal, generasi Alpha memiliki potensi menjadi individu kritis dan informatif, keahliannya juga lebih terspesialisasi dalam umur yang lebih muda dan mereka cenderung untuk lebih menggunakan teknologi dalam bidang pendidikan,” ujarnya.

Generasi Alpha cenderung lebih memilih berkomunikasi dan atau melakukan kegiatan sehari-hari dengan sistem audio visual.

“Mereka akan jarang untuk mengetik pesan, lebih senang dengan video call. Dan jangan berharap sistem belajar mereka sama dengan kita, yang berasal dari generasi X atau Y. Kalau dulu kita belajar dengan kondisi duduk manis dan dalam kondisi tenang. Sementara mereka belajar melalui video maupun belajar langsung di lapangan dengan tutorial audio dari orangtua mereka,” papar Liza.

Generasi Alpha juga memiliki rentang pendidikan formal yang lebih panjang dibandingkan generasi lain.

“Mereka memulai pendidikan di usia yang lebih dini dan karena menggunakan teknologi digital maka mereka memiliki masa waktu belajar yang lebih panjang,” pungkasnya.

Lihat juga...