hut

Nurhidayati, Pengusaha Kuliner Berbagai Produk Ikan Tuna

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Nurhidayati seorang wanita paruh baya yang tinggal di Perumahan Pilano 2, Kota Padang, Sumatera Barat, kini dikenal sebagai pelopor pertama industri olahan ikan tuna di Padang.

Melulai usaha yang dimulainya sejak Maret 2012 dengan nama Olahan Ikan Tuna Lebon ini, Nurhidayati memulai bisnis olahan ikan tuna menjadi rendang ikan tuna. Hal ini berawal dari banyaknya produksi ikan tuna di Kota Padang.

Ia menjelaskan, rendang tuna adalah produk awal yang pertama kali dibuat dan diperkenalkannya ke instansi-instansi pemerintahan di Kota Padang. Dengan cara yang demikian, produk olahannya ternyata mendapat respon dan sambutan yang baik oleh instansi pemerintahan tersebut.

“Awalnya membuat rendang untuk dikonsumsi di rumah saja, setelah itu ada tetangga yang minta, ternyata mereka suka. Saya pun memberanikan diri untuk mencoba di jual ke pasar, ternyata laku juga. Setelah itu, saya mencoba memasak rendang lebih banyak lagi untuk dijual di sejumlah toko atau swalayan,” katanya, Selasa (19/11/2019).

Menurutnya, untuk memproduksi rendang ikan tuna itu, dalam satu kali produksi untuk dijual sendiri, dia membutuhkan lima kilogram daging ikan tuna yang sudah bersih, dengan hasil akhir yang telah dikemas dalam botol ukuran 250 gram sebanyak 25 botol.

Persoalan produksi, Nurhidayati menjelaskan, setiap hari minimal produksi itu satu kali produksi 5 kilogram. Nanti hasil akhir produknya itu dapat 25 botol dengan ukuran 250 gram, dijual dengan harga Rp45 ribu per botol.

Selain itu, ada juga yang 500 gram yang dijual Rp85 ribu per botol dan ukuran 150 gram dengan harga jual Rp30 ribu per botolnya. Dalam hal produksi ini, Nurhidayati dibantu tiga orang karyawan yang digaji harian antara Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari produksinya.

“Dari produksi itu, produknya bisa dipasarkan di Bekasi, Jakarta Selatan, dan Pekanbaru. Di masing-masing daerah itu jumlah reseller terdiri dari beberapa orang,” ujarnya.

Dikatakannya untuk satu kali produksi, modalnya mencapai Rp1 juta yang dipergunakan untuk membeli bahan baku hingga botol-botol kemasan, dengan keuntungan yang didapat hingga Rp2 juta.

Namun nominal itu baru kotornya saja, ketika dikurangi dengan modal dan beberapa kebutuhan lain, Nurhidayati hanya dapat meraup keuntungan Rp500 ribu hingga Rp 600 ribu saja.

“Bagi saya konsep bisnis itu ialah kemitraan. Jadi seberapa pun yang didapatkan, ya harus disyukuri, yang penting produk saya dikenal banyak orang, dan lagi produk saya lebih banyak dijualkan oleh reseller,” ucapnya.

Olahan ikan tuna Nurhidayati ini lebih banyak memang diminati warga di luar Sumatera Barat. Untuk itu terlihat dari order terbanyaknya mencapai 100 kilogram yang dikirim ke beberapa daerah di Jawa. Bahkan pada saat terjadi bencana di palu reseller saya ada yang memesan dalam kemasan 250 gram untuk dikirimkan ke sana.

Untuk sistem pemesanan yang dikirim ke luar wilayah Sumatera Barat, Nurhidayati menerapkan sistem pre-order dengan lama tenggat pengiriman 3 hari sejak masa order oleh pelanggan atau reseller. Dimana minimal pemesanan 10 kilogram dengan free ongkos kirim jika pengiriman menggunakan jasa ekspedisi.

Tidak puas dengan rendang, Nurhidayati mulai bereksperimen mengembangkan produk-produk lain yang banyak diminati masyarakat seperti abon tuna, naget tuna, risoles tuna, sarden tuna, bumbu spageti, keripik dan beberapa produk olahan lainnya.

Untuk bahan baku, Nurhidayati tidak pernah kompromi karena baginya kepuasan pelanggan merupakan hal yang paling dijaganya hingga sekarang.

Dia selalu membeli bahan baku dari PT. Dempo yang merupakan perusahaan pengekspor ikan tuna di Padang. Dimana untuk bahan baku yang dibelinya tergantung pada jumlah permintaan pelanggan atau produk yang ingin diproduksinya.

Nurhidayati mengungkapkan kendati ketersediaan bahan baku yang berkualitas ada di PT. Dempo, namun ada kalanya dia juga kesulitan dalam mencari bahan baku ikan tuna yang berkualitas.

“Terkadang apa yang saya lakukan ini ada yang memandang sebelah mata saja. Tapi dengan adanya seperti sekarang ini, saya bisa membuktikan kalau rendang ikan tuna olahan saya mampu untuk selera nusantara,” jelasnya.

Untuk itu, Nurhidayati berharap dengan semakin berkembangnya UMKM di Padang, ke depan bantuan yang dinilai bagus tidak lagi hanya menyasar UKM yang berskala besar atau bisa dikatakan sudah masuk industri.

Sebab selama ini bantuan tersebut lebih banyak diperuntukkan UKM yang telah besar, sementara UMKM yang masih berskala kecil sering terabaikan sehingga usaha mereka sulit untuk maju.

“Saya berharap, janganlah UKM yang sudah besar itu dapat bantuan juga. Karena masih banyak UMKM kecil ini yang memiliki prospek bagus untuk mendapatkan bantuan dan perhatian,” tegasnya.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com