hut

Obati Perpecahan, Rakyat Sri Lanka Pilih Presiden Baru

Mahinda Deshapriya, Ketua Komisi Pemilihan Sri Lanka, memperlihatkan kotak surat suara saat konferensi pers, menjelang pemilihan presiden, di Kolombo, Sri Lanka, Kamis (31/10/2019) - Foto Ant

KOLOMBO – Rakyat Sri Lanka mendatangi tempat pemungutan suara pada Sabtu (16/11/2019) pagi, untuk memilih presiden baru. Pemimpin baru dibutuhkan negara pulau tersebut, yang masih berjuang untuk pulih dari serangan Paskah terhadap hotel dan gereja.

Mantan menteri pertahanan, Gotabaya Rajapaksa, yang mengomandani militer saat mengalahkan aksi separatis Tamil 10 tahun lalu, dan menteri pemerintah Sajith Premadasa, terlibat persaingan ketat. Rajapaksa telah berikrar akan merombak keamanan nasional, dan memanfaatkan ketakutan warga mayoritas Sinhala Buddha, setelah terjadinya serangan pada April lalu, yang telah diklaim oleh IS dan menewaskan lebih dari 250 orang.

Premadasa telah berusaha merangkul penduduk pedesaan, dengan janji perumahan gratis, seragam sekolah buat pelajar dan pembalut buat kaum perempuan. Premadasa  menyentuh topik yang jarang dibahas secara terbuka di mana pun di Asia Selatan.

Tetapi telah menarik perempuan ke pertemuan terbukanya. Polisi mengatakan, satu kelompok lelaki yang tidak dikenal menembaki bus yang membawa orang Muslim ke tempat pemungutan suara di Kabupaten Anuradhapura di Sri Lanka Tengah.

Tak ada orang yang cedera tapi beberapa saksi mata mengatakan beberapa ban terbakar. Di satu tempat pemungutan suara di Kolombo, M.Gunasekera, pembuat rumah yang berusia 41 tahun, mengatakan, masalah yang paling penting ialah korupsi yang tersebar luas dan kurangnya pertanggung-jawaban politisi. Sebanyak 16 juta orang memenuhi syarat untuk memberi suara, dan kertas suara memungkinkan pemilih untuk memilih dari tiga calon. Kertas suara akan segera dihitung setelah pemungutan suara ditutup tapi hasilnya diperkirakan baru dikeluarkan mulai Ahad.

Orang Muslim, yang merupakan hampir 10 persen dari 22 juta warga Sri Lanka, mengatakan, mereka telah menghadapi permusuhan sejak serangan April. Perpecahan tersebut telah menjadi puncak keluhan lama etnik Tamil, yang mengatakan mereka belum mendapatkan keadilan dari pelanggaran hak asasi manusia setelah terjadinya perang saudara selama 26 tahun. (Ant)

Lihat juga...