hut

Pembangunan Pelabuhan KEK MBTK Masuki Tahap Akhir

Editor: Koko Triarko

BALIKPAPAN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, terus mempercepat sejumlah kawasan ekonomi khusus untuk mendukung industri pengolahan (hilirisasi industri). Kebijakan itu merupakan salah satu strategi dalam menghadapi penurunan komoditas andalan Kaltim, terutama dari sektor pertambangan batu bara.

Selain Kawasan Industri Kariangau di Balikpapan, Pemprov Kaltim saat ini juga tengah membangun Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK) di Kutai Timur. Akhir tahun ini, fasilitas penting KEK MBTK, yaitu pelabuhan telah memasuki tahap akhir penyelesaian.

“Pembangunan pelabuhan KEK MBTK di Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur, sudah selesai dilaksanakan, dan akan diujicoba pengoperasiannya pada Maret 2020,” kata Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kaltim, Salman Lumoindong, Selasa (19/11/2019).

Pelabuhan KEK Maloy merupakan proyek yang didanai Angaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pekerjaan rumah yang masih menjadi tanggungan Pemprov Kaltim adalah pembangunan akses atau jalan pendekat dari pelabuhan.

“Jalan pendekat itu panjangnya sekitar 400 meter,” imbuh Salman.

Menurutnya, meski pembuatan jalan sedang dilakukan, sebetulnya jalan pendekat sudah ada. Namun jalan tersebut melewati perkantoran KEK Maloy.

“Sehingga tidak elok jalan tersebut dijadikan jalan pendekat, karena itu perlu dibuatkan akses baru, menuju jalur utama yang tidak mengganggu aktivitas perkantoran,” ucapnya. Proyek jalan pendekat juga masih menjadi kendala di Kawasan Industri Kariangau Balikpapan, serta proyek Jembatan Pulau Balang.

Salman menjelaskan, KEK MBTK sudah siap digunakan, karena berbagai fasilitas telah dibangun. Seperti jalan utama kawasan, sarana pelabuhan, jaringan listrik, perkantoran, dan telekomunikasi, termasuk pembangunan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM).

KEK MBTK disiapkan untuk menjadi sarana pertumbuhan perekonomian di Kutai Timur, khususnya dan Kaltim pada umumnya. Hal itu sebagai upaya melakukan hilirisasi guna peningkatan nilai tambah produk.

“KEK Maloy akan menjadi kawasan ekonomi yang harus diwujudkan. Ini sebagai upaya mewujudkan transformasi ekonomi dari pengelolaan sumber daya alam (SDA) tidak terbarukan, menjadi SDA terbarukan dan berkelanjutan,” imbuh Salman.

KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2014, dengan total luas area 557,34 hektare. Kawasan ini kaya akan sumber daya alam, terutama kelapa sawit, kayu dan energi yang didukung dengan posisi geostrategis, yaitu terletak pada lintasan Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II).

KEK MBTK diharapkan dapat mendorong penciptaan nilai tambah melalui industrialisasi, atas berbagai komoditi di wilayah tersebut.

Berdasarkan keunggulan geostrategis wilayah Kutai Timur, KEK MBTK akan menjadi pusat pengolahan kelapa sawit dan produk turunannya, serta pusat bagi industri energi seperti industri mineral, gas dan batu bara.

Hingga 2025, KEK yang ditetapkan pada Oktober 2014 ini ditargetkan dapat menarik investasi sebesar Rp34,3 triliun, dan meningkatkan PDRB Kutai Timur hingga Rp 4,67 triliun per tahunnya.

Lihat juga...