hut

Pemerintah Terus Berupaya Tekan Potensi Risiko HIV

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Ketua Panli HIV AIDS PIMS, Prof. Dr. dr. Sjamsurizal, Sp.PD., menyatakan, kebanyakan para pasien HIV/AIDS mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan dengan kondisi oportunistik. 

“Karena mereka biasanya tidak mau periksa di saat belum ada gejala yang muncul secara nyata. Ini karena faktor, pertama mereka tidak mengerti, atau ke dua, mereka malu untuk memeriksakan diri,” kata Sjamsurizal, saat temu media di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan Jakarta, Rabu (27/11/2019).

Menurutnya, tingginya potensi risiko HIV dengan kondisi oportunistik, lebih banyak disebabkan stigma negatif dari masyarakat kepada para penderita HIV. Sehingga, pemerintah secara aktif terus melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat, terutama dengan melibatkan komunitas.

Selain itu, Sjamsurizal menyebutkan sudah ada beberapa langkah penyuluhan yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.

“Pertama, kita mengimbau kepada suami atau istri yang pasangannya terdeteksi HIV untuk melakukan tes juga,” ucapnya.

Ke dua, untuk membuat masyarakat mau untuk melakukan screning, dan para ODHA mau melakukan perawatan, telah dilakukan pelatihan untuk layanan friendly dari petugas layanan kesehatan.

“Dengan adanya peningkatan pelayanan ini,  terlihat adanya peningkatan pada jumlah pasien periksa dan berobat di RSCM,” urai Sjamsurizal.

Dan, yang terakhir adalah penyediaan fasilitas tes HIV di Puskesmas, yang membuat masyarakat akan lebih mudah mengakses.

Menurutnya, keterlibatan organisasi profesi dan komunitas merupakan bagian dari sinergisitas semua pihak, untuk mencegah makin tingginya paparan HIV.

“Sebelum adanya ARV,  para penderita ODHA ini hanya bertumpu pada kasih sayang, perhatian dan kualitas hidup. Dan, semua ini diberikan oleh komunitas. Karena itu, untuk peringatan hari AIDS tahun ini adalah ‘Community Makes Difference’,” pungkas Sjamsurizal.

Lihat juga...