hut

Perempuan Koja Doi Kenakan Pakaian Adat Buton

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Ada yang menarik saat berada di desa wisata Koja Doi di pulau Koja Doi dan Koja Gete, yang berada di wilayah gugus pulau Teluk Maumere, Nusa Tenggara Timur, selama penyelenggaraan Festival Koja Doi. Para perempuan dan lelaki di desa tersebut mengenakan pakaian adat asal Buton, Sulawesi Tenggara, yang merupakan kampung asal nenek moyang masyarakat di Desa Koja Doi.

“Baju adat yang saya kenakan berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara. Namanya Posusu. Baju ini dipergunakan oleh perempuan saat pesta nikah,” kata Kanariati, warga Desa Koja Doi, kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Rabu (27/11/2019).

Saat ditemui di pulau Koja Doi, Kanariati mengatakan, selain untuk pesta nikah, pakaian adat Posusu juga dikenakan oleh perempuan remaja saat penyambutan tamu penting dari luar wilayahnya, seperti bupati.

“Saya ditugaskan untuk menyambut tamu dan mengalungkan selendang dari kain tenun kepada bupati dan rombongan yang datang mengikuti pembukaan festival Koja Doi,” sebutnya.

Mahkota yang juga dikenakan, kata Kanariati, biasanya bahan dasarnya dari emas, karena biasa digunakan oleh gadis-gadis keraton.

Menurutnya, pakaian adat itu juga dikenakan oleh gadis-gadis yang sudah memasuki usia menikah dan hendak melepas masa lajangnya.

“Saya bangga bisa mengenakan pakaian adat warisan nenek moyang kami yang berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara,” terangnya.

Perkampungan di Pulau Koja Doi, Desa Koja Doi, Alok Timur, Sikka, Nusa Tenggara Timur, saat pelaksanaan Festival Koja Doi, Rabu (27/11/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Monianse, Desa Koja Doi, El Anshari, menjelaskan, Posusu merupakan pakaian yang dikenakan saat dikithan atau disunat serta memasuki masa akil balik.

Dia menyebutkan, selain Posusu ada juga pakaian Kombo yang dikenakan para gadis ketika baru dipingit serta Kalambae yang merupakan pakaian untuk para gadis selesai dipingit.

“Baju Kombo merupakan pakaian kebesaran kaum wanita asal Buton, dengan warna dasar putih dengan manik-manik dan benang emas atau perak serta ragam hiasan dari emas,” jelasnya.

Ada juga baju Kaboraka yang biasa dikenakan perempuan dengan model berkerah dan memiliki hiasan atau aksesori yang dipadukan dengan Sambasili Kumbaea, sarung yang memiliki lapisan dalam berbahan dasar hitam bercorak garis-garis. Kaum ibu dan anak-anak juga biasa mengenakan baju Kambowa yang biasa dipakai sehari-hari serta saat berbagai upacara lainnnya.

“Ada juga Tandaki yang biasa dikenakan anak laki-laki saat acara sunatan. Sementara Tipolo dikenakan oleh anak-anak balita putri,” pungkasnya.

Lihat juga...