hut

Peringatan Hari Arwah, Refleksi Perdamaian dan Ungkapan Iman

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Peringatan arwah semua orang beriman, menjadi tradisi Gereja Katolik, untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Tak kecuali, di Gereja Santo Petrus dan Paulus, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.

Pastor Bernardus Hariyanto Silaban, Pr, dalam homilinya di gereja tersebut, mengatakan, peringatan arwah semua orang beriman menjadi refleksi perdamaian sesama manusia.

“Perdamaian dengan sesama manusia dilakukan pada orang yang masih hidup dan sudah meninggal,” katanya, Sabtu (2/11/2019).

Pastor Bernardus Hariyanto Silaban, juga menyebut selama ratusan tahun peringatan arwah semua orang beriman dilakukan setiap tanggal 2 November. Melalui perayaan Ekaristi Gereja Katolik, mengenangkan arwah semua orang beriman sebagai ungkapan iman. Sebab, kematian menjadi bagian perziarahan untuk masuk ke api pencucian. Melalui peringatan akan kematian, umat Katolik diajak merefleksikan adanya kehidupan setelah kematian.

Sepanjang bulan November, umat Katolik secara khusus berdoa bagi semua orang yang sudah meninggal. Sebab, sebagian orang dalam iman Katolik masih ada dalam api pencucian, sehingga kerahiman Allah melalui doa orang yang masih hidup diperlukan.

Pastor Bernardus Hariyanto Silaban,Pr., memberkati air dan bunga, di Gereja Santo Petrus dan Paulus, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Sabtu (2/11/2019). -Foto: Henk Widi

Menurutnya, perdamaian dengan orang yang sudah meninggal bisa dilakukan melalui doa-doa, agar orang yang sudah meninggal bisa hidup abadi di Kerajaan Allah.

“Dalam tradisi Gereja Katolik, peringatan arwah semua orang beriman menjadi cara untuk mendoakan siapa pun yang telah meninggal, baik yang dikenal atau tidak dikenal melalui doa indulgensi untuk pengampunan dosa,” terang Pastor.

Pastor Bernardus melanjutkan, dalam iman Katolik diyakini yang bisa melepaskan dari api pencucian adalah keluarga dan orang-orang yang mendoakan. Melalui doa doa, pengampunan dan perdamaian dari keluarga yang masih hidup, maka arwah orang beriman bisa mendapatkan pengampunan melalui indulgensi.

Selain itu, sebelumnya pada Jumat (1/11) Gereja juga merayakan peringatan semua orang kudus yang memiliki peran mendoakan, menuntun manusia yang masih berziarah di dunia.

Sebagai ungkapan iman Katolik, kata Pastor Bernardus, mendoakan arwah menjadi bagian dalam banyak budaya di dunia. Penghormatan dan penghargaan pada orang yang sudah meninggal, sangat penting untuk merefleksikan manusia yang masih hidup.

Banyak budaya menghormati para arwah melalui sejumlah ritual dan makam atau tugu. Dalam tradisi perjalanan kehidupan di dunia bisa berjalan dengan baik, akibat masih adanya hubungan dengan keluarga yang sudah meninggal.

“Karena itu, penting bagi umat yang masih hidup bisa membangun perdamaian dengan orang yang sudah meninggal dunia,” tegasnya.

Perayaan hari arwah orang beriman menjadi perayaan perdamaian, agar yang sudah meninggal mendapat kerahiman dari Allah. Tradisi baik tersebut terus disampaikan sebagai bagian iman Kristiani, bahwa sesungguhnya kematian menjadi puncak kehidupan.

Hidup oleh kematian tidak lenyap, melainkan hanya diubah. Karena itu, dalam doa orang yang masih hidup dimohonkan arwah disucikan dari segala dosa dan hidup kekal di Surga.

Peringatan arwah semua orang beriman bagi umat Katolik disebutnya memiliki makna sosial. Sebab, keluarga akan disatukan dalam peziarahan ke makam anggota keluarga yang sudah meninggal.

Sebagian keluarga akan saling bertemu dan membersihkan makam keluarga, sembari mendoakan dan mengenangkan segala hal baik keluarga yang sudah meninggal.

Sebagai bagian tradisi yang masih dipertahankan, Pastor Bernardus usai perayaan Ekaristi melakukan pemberkatan air dan bunga. Air dalam wadah botol dan bunga segar yang dibawa setiap keluarga dibawa di depan altar.

Usai pemberkatan dengan air suci, setiap keluarga akan membawa air dan bunga yang sudah diberkati ke makam setiap keluarga.

“Selain air dan bunga, kita doakan juga ratusan anggota keluarga yang secara khusus disebutkan dalam doa di gereja pada hari ini,” tutur pastor Bernardus.

Anastasia, salah satu umat dari Kring Kelaten, mengaku membawa bunga dan air suci untuk dibawa ke makam. Ia akan mendoakan anggota keluarga, di antaranya kakek, nenek dan sejumlah saudara.

“Sebagai bagian keluarga, doa ke makam menjadi sarana untuk mengenang silsilah keluarga. Mendoakan keluarga yang meninggal, sekaligus menjadi cara berdamai atas segala kesalahan sebagai anggota keluarga,” katanya.

Umat lain bernama Magdalena, mengaku datang ke makam sang kakek setelah menerima air dan bunga yang diberkati. Pemakaman bagi umat Katolik tepat di belakang Gereja Santo Petrus dan Paulus tersebut, sebagian dibersihkan oleh anggota keluarga.

Magdalena yang membawa air, bunga menyalakan lilin dan berdoa bagi keluarga yang sudah tiada.

“Selain keluarga, kami juga mendoakan semua orang yang telah meninggal dan dimakamkan sebagai refleksi kelak kami juga akan menyusul mereka,” tutur Magdalena.

Ia menyebut, hari peringatan arwah semua orang beriman sekaligus memberi penghiburan rohani. Sebab, kelak sebagai manusia ia juga akan berjumpa kembali dengan saudara-saudara yang sudah meninggal. Hubungan yang baik dengan keluarga yang sudah meninggal, diteruskan secara turun temurun agar setiap generasi dalam keluarga tetap saling mendoakan.

Lihat juga...