Petani Manfaatkan Irigasi Peninggalan Presiden Soeharto

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah petani memanfaatkan ribuan hektare lahan gambut di Lampung Timur (Lamtim) sebagai lahan pertanian, dengan memanfaatkan saluran irigasi yang dibangun pada masa Presiden Soeharto.

Darto, petani di Desa Mekarsari, Kecamatan Pasir Sakti, menyebut, saluran air peninggalan zaman Presiden Soeharto, hingga kini masih bisa dimanfaatkan, bahkan memungkinkan para petani masih bisa bercocok tanam di musim kemarau.

Sementara itu, lahan gambut dengan tingkat kesuburan yang tinggi, melalui proses penanganan yang baik menjadi lahan produktif. Sebagian warga memanfaatkan lahan gambut untuk tanaman pertanian lahan basah dan lahan kering.

“Lahan basah difungsikan sebagai sawah untuk tanaman padi, sebagian menjadi lahan kering imbas pasokan air minim kala kemarau,” kata Darto, saat ditemui Cendana News, Senin (25/11/2019).

Darto, warga Desa Mekarsari, Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur, memanfaatkan tanah gambut untuk budi daya sayuran kacang, singkong, ubi jalar, tomat dan cabai, Senin (25/11/2019). -Foto: Henk Widi

Darto mengaku tidak mau membiarkan lahan gambut kering, menjadi terbengkalai. Ia pun memilih mengatur pola tanam tumpang sari, dengan mencampur tanah gambut dengan pupuk kompos.

Berangkat dari pengalamannya tinggal di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, ia memanfaatkan lahan gambut itu. Saat di Wonosari, pada masa kecilnya ia mengingat orang tuanya masih bercocok tanam, meski pada bukit padas berbatu.

“Saat merantau ke Lampung melalui transmigrasi era Pak Soeharto, saya melihat lahan gambut sangat subur, bahkan saat kemarau maupun penghujan bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan sumber penghasilan,” ungkap Darto.

Menurut Darto, kunci pengelolaan lahan gambut adalah tetap mempertahankan tanaman kayu keras sebagai naungan dan penyimpan air. Juga penyiraman secara rutin, menambah pupuk kompos dari kotoran ternak, untuk menambah kesuburan.

Selama puluhan tahun, Darto menanam padi varietas Ciherang pada lahan sawah miliknya. Pada lahan kering, ia memilih menanam berbagai jenis komoditas sayuran, seperti kacang panjang, tomat, kacang mlati, bayam, tomat, cabai, singkong dan ubi jalar.

Darto menyebut, sistem tumpang sari melalui penanaman berbagai jenis sayuran, membuatnya bisa mendapatkan hasil maksimal.

“Sejumlah sayuran yang saya tanam bisa tumbuh secara bersamaan, sehingga bisa dipanen secara bertahap,” ungkap Darto.

Tanpa harus ke pasar, sejumlah pedagang yang sebagian merupakan tetangga, membeli sayuran darinya untuk dijual kembali ke pasar.

Setiap dua hari, Darto mendapatkan hasil puluhan ribu rupiah dari menjual sayuran. Per ikat sayuran dijual dengan harga Rp1.000 dan Rp2.000. Meski hanya mendapatkan hasil minim, namun selama kemarau ia masih bisa mendapatkan hasil.

Petani lain yang memanfaatkan lahan gambut adalah Sunari, warga Desa Negeri Agung, Kecamatan Gunung Pelindung. Ia memanfaatkan sumur gali atau disebut belik, untuk pengairan lahan seluas seperempat hektare yang ditanami sayuran, seperti kacang hijau, terong, kacang tunggak, labu dan timun suri.

“Lahan gambut memiliki tekstur gembur jika diolah dan dicampur dengan pupuk kandang, sehingga tetap produktif saat kemarau,” ungkap Sunari.

Pada masa panen labu, setelah menanam selama enam bulan ia bisa memanen 2 ton labu. Dijual seharga Rp1.200 per kilogram, ia mendapat hasil Rp2,4 juta. Selain hasil dari labu, sejumlah tanaman seperti kacang hijau dengan harga Rp15.000 per kilogram, membuat ia mendapat hasil Rp1,5 juta, setelah memanen 1 kuintal.

Pemanfaatan lahan gambut secara maksimal, meski jauh dari saluran irigasi, membuat petani tetap menangguk untung saat kemarau.

Lihat juga...