Pakan Mahal, Harga Ayam Pedaging di Lamsel Naik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah peternak pembersaran ayam pedaging (broiler) di Lampung Selatan (Lamsel) menaikkan harga sejak dua pekan terakhir.

Lina, pemilik usaha pembesaran ayam menyebut kenaikan harga ayam pedaging imbas dari harga pakan unggas yang naik.

Kenaikan harga per ekor ayam pedaging disebutnya mulai dari Rp2.000 hingga Rp2.500. Semula menjual ayam pedaging Rp35.000 sejak sepekan terakhir ia menjual hingga Rp45.000 per kilogram.

Lina menyebut, membutuhkan pakan ayam pedaging berupa pelet ayam dan tepung jagung. Pemberian pakan untuk ayam pedaging yang belum terjual menurutnya bisa membutuhkan waktu sekitar satu bulan.

Rata-rata ayam pedaging yang dijual memiliki bobot 1,5 hingga 2 kilogram. Pembeli yang meningkat selama musim hajatan, bulan maulid dan sejumlah pesta ikut mendongkrak permintaan.

Pada kondisi normal ia memasok daging ayam ke sejumlah pedagang kuliner pecel ayam dan warung makan. Rata-rata per hari permintaan ayam pedaging dari usaha kuliner tersebut bisa mencapai 10 hingga 20 ekor.

Kepada pemilik usaha kuliner ia memberi harga per ekor Rp40.000 dan kepada konsumen umum dijual seharga Rp45.000. Saat musim hajatan ia menyebut bisa memenuhi pesanan 100 hingga 200 ekor.

“Permintaan ayam pedaging sesuai kebutuhan penyelenggara hajatan, jika tradisi punjungan atau hantaran nasi memakai daging ayam permintaan melonjak, sebagian hanya untuk kenduri karena punjungan memakai daging sapi,” ungkap Lina saat ditemui Cendana News menyiapkan ayam pesanan pelanggan, Senin (11/11/2019).

Meningkatnya harga ayam pedaging menurut Lina berpengaruh pada jumlah permintaan. Meski permintaan cukup banyak dari sejumlah warga yang melakukan hajatan, namun ia memastikan jumlahnya lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.

Dalam kegiatan hajatan pesanan bisa mencapai 300 hingga 400 ekor. Kini maksimal pemesanan ayam pedaging rata-rata 100 hingga 200 ekor.

Permintaan cukup stabil menurut Lina berasal dari pedagang kuliner dan warung makan. Selain itu sejumlah pedagang ayam di pasar tradisional masih mengandalkan stok dari usaha pembesaran yang dimilikinya.

Pembesaran yang dilakukan selama setengah bulan menurutnya memberi keuntungan rata-rata Rp5.000 hingga Rp15.000 per ekor.

“Kami tidak membesarkan dari day old chick atau ayam yang baru menetas tapi sebulan jelang siap konsumsi, sehingga biaya operasional bisa diperkecil,” ungkap Lina.

Meski membutuhkan rentang pembesaran selama sebulan kebutuhan pakan harian untuk ayam pedaging yang akan dijual tetap dilakukan rutin. Sebab penambahan pakan berguna untuk penambahan bobot ayam pedaging yang akan dijual.

Ia berharap harga pakan unggas bisa lebih turun dari rata-rata Rp10.000 per kilogram menjadi Rp6.000 per kilogram. Sebab harga pakan yang turun akan ikut mempengaruhi harga ayam pedaging.

Aminah, salah satu pedagang ayam pedaging di pasar tradisional Pasuruan menyebut kenaikan harga mempengaruhi daya beli. Semula dengan harga Rp35.000 per kilogram pembeli kerap membeli 2 hingga 3 ekor ayam dalam kondisi hidup atau sudah dipotong.

Aminah (kanan), pedagang ayam pedaging di pasar tradisional Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, melayani pembeli daging ayam, Senin (11/11/2019) – Foto: Henk Widi

Berkurangnya pembelian imbas dari harga ayam pedaging yang sudah mencapai Rp45.000 di level pedagang.

“Pedagang menaikkan harga karena dari pemilik usaha pembesaran ayam sudah naik, kami hanya mengikuti,” ungkap Aminah.

Kenaikan harga pakan unggas memicu harga ayam pedaging diakui Sumino, salah satu pemilik usaha penjualan pakan. Ia menyebut jenis pakan unggas yang naik meliputi pur atau pelet ayam, pakan burung, pakan udang.

Khusus untuk pakan unggas jenis pur yang sebagian berasal dari bahan impor mengalami kenaikan. Rata-rata kenaikan disebutnya mencapai Rp1.000 hingga Rp2.000.

Jenis pur ayam kualitas biasa semula dijual Rp8.000 kini naik menjadi Rp9.000 per kilogram. Sejumlah pakan unggas kualitas super semula seharga Rp8.000 naik menjadi Rp10.000.

Sebagian pemilik unggas ayam pedaging, ayam kampung, bebek bahkan memilih membeli bubuk jagung sebagai tambahan pakan. Sulitnya mendapat bahan baku berupa dedak, jagung akibat kemarau mempengaruhi harga jual pakan.

Sumino, salah satu pedagang pakan unggas dan ikan di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, melakukan proses penimbangan pakan yang dibeli pelanggan, Senin (11/11/2019) – Foto: Henk Widi

Sebagian pemilik unggas disebutnya memilih mengurangi pembelian pakan dalam jumlah banyak. Dari distributor pakan Sumino menyebut harga per sak pakan berisi 50 kilogram dibeli seharga Rp280.000.

Semenjak mengalami kenaikan pakan dibeli dengan harga Rp290.000 hingga Rp360.000 per sak. Sejumlah pembeli menyiasati kenaikan harga pakan unggas dengan mengolah dedak dan jagung menjadi pakan dengan proses penggilingan.

Lihat juga...