hut

Puluhan Proyek Infrastruktur di Purbalingga Terancam Molor

Editor: Koko Triarko

PURBALINGGA – Menjelang akhir tahun, masih banyak proyek pekerjaan fisik di Kabupaten Purbalingga yang belum selesai. Bahkan, sebagian besar proyek terancam molor.

Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Purbalingga, Wahyu Prasetiyono, SIP., mengatakan, hingga pertengahan November ini masih ada 46 pekerjaan fisik yang masih berlangsung. Dari 46 proyek tersebut, ada 31 proyek pekerjaan yang perlu mendapat perhatian khusus, karena berbagai faktor.

“Ada 31 proyek pekerjaan yang harus mendapat perhatian khusus dengan makin dekatnya sisa waktu pelaksanaan, karena pada akhir tahun semua pekerjaan harus sudah selesai,” terangnya, Selasa (12/11/2019).

Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Purbalingga, Wahyu Prasetiyono, SIP. -Foto: Hermiana E. Effendi

Menurut Wahyu, 31 paket pekerjaan tersebut mengalami keterlambatan karena item pekerjaannya sangat kompleks, dan bobot pekerjaan juga cukup berat. Antara lain, proyek peningkatan kapasitas Jalan Rajawana – Rembang, peningkatan kapasitas Jalan Bojong – Panican, peningkatan struktur Jalan Tidu – Bandara, pemeliharaan berkala Jalan Wirasaba – Kemojing, belanja pemeliharaan pembangunan dan rehabilitasi Terminal Bukateja, pemeliharaan berkala Jalan Karanganyar – Karangmoncol, pengembangan destinasi wisata, pembangunan Jalan Tlahab Lor – Siwarak, pembangunan Puskesmas Kejobong tahun 2019, pemeliharaan berkala Jalan Karangaren – Purwadadi, peningkatan kapasitas Jalan Padamara – Kutasari, pembangunan Landfill (Zona Penimbunan) I, pembangunan gedung aula Dinas Tenaga Kerja, pembanguna centra IKM, dan pengadaan pembangunan Gedung IBS, serta revitalisasi Pasar Sinduraja.

Anggaran untuk kegiatan fisik proyek tersebut, lanjutnya, ada yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan bantuan gubernur.

Untuk proyek yang menggunakan DAK, persyaratannya lebih ketat dan diatur langsung oleh pemerintah pusat. Sehingga jika ada yang melebih batas waktu dan belum selesai, maka risiko yang harus ditanggung oleh rekanan adalah pekerjaan tersebut tidak terbayarkan.

Beberapa pekerjaan fisik yang dibiayai DAK, di antaranya, pembangunan pintu Gerbang Golaga, Jalan Rajawana – Rembang, IKM, Pasar Mandiri, dan IBS RSUD Goeteng Taroenadibrata.

“Jika tidak sesuai perencanaan awal, maka proyek tidak bisa dibayar dan tidak bisa diganti dengan dana APBD,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, dalam berbagai kesempatan juga selalu mengingatkan para rekanan untuk segera menyelesaikan pekerjaan fisik tepat waktu. Sebab, sisa waktu tahun ini tinggal 1,5 bulan dan sudah memasuki musim penghujan.

“Waktunya sudah makin sempit dan sudah memasuki musim penghujan pula. Hal ini tentu berpengaruh terhadap pekerjaan fisik, tetapi masih bisa diatasi dengan menambah tenaga kerja dan lembur,” sarannya.

Lihat juga...