hut

Putus Mata Rantainya, Warga Banyumas Diajak Mengenali Thalasemia

Editor: Mahadeva

PURWOKERTO – Bupati Banyumas, Achmad Husein, mengajak masyarakat untuk tidak takut bergaul dengan para penderita thalassemia. Penyakit tersebut bukanlah penyakit menular. Dan juga bukan merupakan penyakit keturunan, serta bisa dicegah.

“Warga Banyumas jangan takut bergaul dengan penderita thalasemia, itu bukan penyakit menular, sehingga aman bagi orang-orang disekelilingnya. Sebaliknya, kita justru harus memberikan dukungan moral kepada penderita, supaya kuat dan bersemangat,” kata Bupati usai mengikuti jalan sehat Peduli Thalasemia, Minggu (17/11/2019).

Sebagai salah satu tindak pencegahan dini, Kabupaten Banyumas memberlakukan aturan, pasangan yang hendak menikah diwajibkan melakukan pemeriksaan darah terlebih dahulu. Tujuannya, memutus mata rantai kelahiran thalasemia.

Husein mengatakan, pihaknya menyadari bahwa angka penderita thalasemia di Kabupaten Banyumas sangat tinggi. Bahkan dilaporkan menjadi yang tertinggi di Propinsi Jawa Tengah, dengan jumlah penderita lebih dari 400 orang.

Karenanya, upaya pencegahan harus dilakukan semaksimal mungkin. “Penyakit thalasemia, obatnya adalah tranfusi darah seumur hidup bagi penderita. Saya berharap masyarakat Banyumas memahami tentang thalasemia, sehingga bisa melakukan tindak pencegahan, minimal dimulai dari lingkungan keluarga sendiri,” terangnya.

Kabupaten Banyumas bertekad memutus rantai thalasemia semaksimal mungkin. Bahkan di 2023, Banyumas mentargetkan diri sebagai kabupaten zero thalasemia. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, upaya masif pencegahan dilakukan mulai sekarang. Sebagai bentuk keseriusan menanggulangi, November ini dicanangkan sebagai bulan thalasemia di Banyumas.

Pengurus Yayasan Thalasemia Indonesia (YTI), Ruswadi, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan, thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diderita sejak anak-ana. Namun, bukan penyakit menular dan bukan penyakit turunan serta bisa dicegah. Penyakit ini mempunyai  tiga golongan, yaitu pertama adalah pembawa sifat, kedua intermedia dan yang katiga adalah mayor. “Hindari pernikahan antara pembawa sifat karena akan melahirkan penderita thalasemia mayor,” pesan Ruswandi.

Lihat juga...