hut

Rumah Reyot di Dusun Wairmitak – Sikka Butuh Bantuan

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Pemerintah memberikan bantuan pembangunan rumah bagi warga miskin. Namun, hingga kini masih ada rumah reyot yang belum mendapatkan bantuan. Salah satunya rumah milik Eparinus Wodon (56), di Dusun Wairmitak, Desa Persiapan Mahe Kelan, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

“Rumah saya sudah didata berulangkali oleh pemerintah desa. Namun, tidak ada bantuan. Bahkan, rumah saya difoto tapi pas bantuan keluar, saya tetap tidak dapat bantuan,” kata Eparinus Wodon (56), saat ditemui di rumahnya, Rabu (13/11/2019).

Eparinus mengaku heran, kenapa dirinya tidak mendapatkan bantuan pembangunan rumah oleh pemerintah. Padahal, rumah warga lainnya di Dusun Wairmitak mendapatkan bantuan dana dan sudah dibangun lebih layak.

Ia mengaku kesal, karena ada warga yang kehidupan ekonominya lebih baik, malah mendapatkan bantuan dana perumahan. Sementara dirinya yang sudah didata dan berulangkali tidak mendapatkan bantuan.

“Saya sudah  lama tinggal di rumah ini bersama istri dan anak-anak saya. Kalau ada kerjaan buruh bangunan, maka saya ikut bekerja,” katanya.

Eperinus Wodon (56) dan Teresia Nasa (49) warga di Desa Persiapan Mahe Kelan, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, saat ditemui di rumahnya, Rabu (13/11/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Rumah yang ditempati lelaki asal Kecamatan Hewokloang ini berukuran 2,5 x  2 meter persegi, dindingnya terbuat dari bambu belah (Halar), beratap seng dan berlantai tanah.

Eparinus mengaku tinggal bersama sang istri dan dua anaknya di rumah sederhana yang hanya ada dua bale-bale bambu saja di dalamnya.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dirinya hanya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh bangunan dan berkebun saat musim hujan tiba.

Ia mengaku baru menjual sebidang tanah seharga Rp10 juta, karena tidak memiliki uang untuk membiayai sekolah anak ke duanya yang baru duduk di kelas 1 SMAN 1 Waigete.

“Saya baru jual tanah dan uangnya saya pakai untuk biaya sekolah anak ke dua saya, membeli barang-barang untuk jualan kecil-kecilan di rumah dan membeli seekor babi untuk dipelihara,” sebutnya.

Teresia Nasa (49), istri Eparinus, mengatakan, dirinya memiliki dua anak perempuan. Seorang anak perempuan sedang kuliah di IKIP Muhamadiyah Maumere jurusan Bahasa Inggris.

Menurut Teresia, tergolong pintar, bahkan sering meraih juara dan saat ini tinggal bersama saudaranya di Maumare. Biaya kuliah anaknya ditanggung saudaranya, karena mereka merasa tidak mampu membiayai.

“Kami belum ada bantuan untuk biaya kuliah dan untuk perbaiki rumah. Baru setahun ini dapat bantuan dana PKH sebesar Rp500 ribu setahun,” terangnya.

Teresia mengaku, saat ada rapat di kantor desa, dirinya selalu mempertanyakan kenapa orang yang mampu dapat dana pembangunan rumah, sementara orang miskin sepertinya tidak pernah mendapatkan.

Dirinya mengaku heran, kenapa petugas hanya datang melakukan pendataan, bahkan mengambil foto dan melihat kondisi gubuknya, namun tidak pernah datang lagi.

“Makanya, bapak jangan marah kalau kami tanya tadi karena sudah sering orang datang data dan foto bilang mau beri bantuan, tapi sesudahnya tidak pernah datang lagi,” ucapnya.

Teresia heran, di lingkungan dusunnya saja yang dia ketahui ada 5 rumah yang sudah dapat bantuan dan dibangun lebih layak. Padahal, rumah mereka kondisinya jauh lebih baik dibandingkan rumahnya.

Dirinya bersama suami mengaku memiliki tanah dan sudah ada pondasinya. Bila pemerintah membantu membangun rumah, keduanya merasa sangat bersyukur sekali karena keduanya selalu memilih bupati setiap ada pilkada.

Lihat juga...