hut

Sato, Alat MusiK Tradisional dari Sikka Berbahan Bambu

Editor: Mahadeva

MAUMERE – Musik yang dimainkan dengan alat musik tradisional dari hari ke hari kian ditinggalkan. Tidak sedikit yang terancam punah, karena sudah tidak ada yang memainkannya. Hal itu juga terjadi pada alat-alat musik tradisional Sikka, yang selama ini hanya biasa dimainkan oleh orang-orang tua, untuk menghibur diri di kebun maupun saat pesta di kampung.

“Sanggar kami sengaja menampilkan permainan musik dari alat musik tradisional Sato,” kata Orimus Osias, Ketua Sanggar Bunga Nukak dari Desa Pogon, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT, Minggu (17/11/2019).

Dengan menampilkan permainan Sato, sanggar Bunga Nukak berharap alat musik tersebut bisa dikenal khalayak. Dahulu, sebelum jaman besi, orang tua di kampung membuat alat musik dengan menggunakan bilah bambu dan diberi tali senar yang disebut Sato. “Setelah dibuat menggunakan bambu, mereka berpikir bunyinya terlalu kecil. Mereka lalu berpikir untuk membuat alat musik yang bunyinya besar dan bisa didengar banyak orang,” tuturnya.

Akhirnya orang-orang tua, mulai membuat alat musik dari kayu yang namanya Wala. Namun bunyi yang dihasilkan alat musik ini juga masih belum sesuai dengan keinginan. Kemudian membuat alat musik berbahan kayu menggunakan senar yang biasa disebut Letor. Namun, alat tersebut bunyinya dinilai masih belum keras atau nyaring dan bisa didengar banyak orang. “Akhirnya mereka mencari dan mendapatkan gong yang ditemukan di pulau Sumba. Para tetua di kampung mulai menggunakan gong sebagai alat music, tetapi nadanya diambil dari bunyi alat musik Sato,” ungkapnya.

Simeon Mitak, salah seorang warga desa Pogon kecamatan Waigete kabupaten Sikka,NTT yang masih mahir memainkan alat musik Sato saat ditemui di halaman kantor bupati Sikka usai pertunjukan.Minggu (17/11/2019).Foto : Ebed de Rosary

Alat musik Sato terang Orimus, biasa dimainkan oleh orang-orang tua di kebun. Anak-anak muda saat ini tidak mau menggunakannya, dan lebih memilih memainkan alat musik modern. Simeon Mitak, seorang pemain Sato yang sudah berumur 75 tahun dan masih mahir memainkan alat music, mengaku miris melihat alat musik tradisional mulai ditinggalkan.

Menurutnya, tidak sulit memainkan Sato, karena sejak kecil sebelum masuk sekolah sudah belajar memainkannya. “Saya pernah ikut lomba memainkan alat musik tradisional antar kabupaten di Provinsi NTT. Saya senang bisa diajak pentas kali ini dan menunjukan kebolehan bermain Sato,” ucapnya.

Kalau anak-anak muda mau datang dan belajar memainkan Sato, Simeon mengaku dengan senang hati mengajarkannya. Hal itu dilakukan, agar alat musik tradisional ini tidak punah. Simeon mengaku bisa memainkan hampir semua alat musik tradisional, dan sering juga diminta tampil di hotel. Sato dibuat dari potongan bambu yang dirakit berbentuk setengah lingkaran, dan dipasangi senar di bagian atasnya. Alat musik tersebut diletakan di atas sebuah kayu, dan dibunyikan seperti bermain gitar dengan memetik senarnya.Permainan sato diiringi dengan pukulan gendang, serta sebatang bambu bulat yang diletakan di tanah dan dipukul dengan menggunakan kayu oleh pemain lainnya.

Lihat juga...