hut

Sejumlah Nelayan di Bakauheni Sibuk Perbaiki Perahu

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah nelayan di dermaga Muara Piluk, Bakauheni, Lampung Selatan, memanfaatkan waktu di musim angin kencang ini dengan memperbaiki perahu jenis kasko dan bagan congkel.

Masaid, salah satu nelayan di Muara Piluk, menyebut pada musim angin kencang berimbas sejumlah nelayan tidak melaut, dan memilih mengisi waktu dengan memperbaiki perahu. Sebagian kayu bahan perbaikan perahu diperoleh dari wilayah Sumatra Selatan dan Lampung Barat.

Sulitnya mencari sejumlah kayu bahan perahu membuat ia harus menabung. Sejumlah kayu bahan perahu harus diperoleh secara bertahap dari pemilik pohon. Sebab, sejumlah kayu sebagian dipesan dalam kondisi gelondongan. Penebangan dan pemotongan akan dilakukan menyesuaikan kebutuhan, di antaranya papan, kusen dan kaso. Kebutuhan kayu menyesuaikan kerusakan pada perahu.

Masaid, nelayan di Bakauheni menyiapkan kayu mentru untuk perbaikan perahu kasko miliknya sembari menunggu cuaca bersahabat, Rabu (13/11/2019). -Foto: Henk Widi

Masaid menyebut, perbaikan pada perahu kasko miliknya terletak pada bagian dinding. Jenis kayu nangkan memiliki daya tahan terhadap air laut. Sementara jenis kayu mahoni kerap dipergunakan sebagai bahan dinding atap.
Bahan kayu yang tidak bisa diperoleh dengan cepat membuat ia harus memesan kepada para belantik kayu.  Belantik menjadi perantara pencari kayu untuk kebutuhan perbaikan perahu.

“Kayu bahan perahu sudah sulit dicari, karena di sejumlah kebun warga hanya sebagian yang mempertahankan jenis kayu mahoni, jati, solusinya harus mencari ke wilayah lain dan harus memesan,” ungkap Masaid, Rabu (13/11/2019).

Masaid menyebut, bahan setengah jadi kayu mahoni dibeli dengan harga Rp2 juta per kubik, demikian juga kayu medang. Jenis kayu yang lebih mahal di antaranya kayu jati dan kayu mentru dengan harga Rp3 juta per kubik.

Minimnya penanaman sejumlah pohon bahan perahu tersebut, membuat sebagian nelayan memilih melakukan investasi tanaman.

Investasi tanaman dilakukan dengan membeli tanah dan menanami lahan dengan kayu bahan perahu. Sejumlah tanaman kayu yang ditanam, bisa dipanen saat memasuki usia 6 hingga 8 tahun.

Selain menanam pada lahan yang dimiliki, sejumlah nelayan memilih mencari pemilik kebun dan memesan pohon untuk bahan perahu. Perbaikan perahu sebagian dilakukan saat masa istirahat melaut.

“Kami tidak harus melakukan docking atau membawa perahu ke daratan, karena perahu bisa diperbaiki dalam kondisi sandar,” ujarnya.

Kebutuhan kayu untuk perbaikan perahu, menurut Masaid menyesuaikan kebutuhan. Pada perbaikan skala besar ia bisa membutuhkan sekitar 2 hingga 3 kubik kayu. Pada perbaikan skala kecil, kebutuhan sebanyak 1 kubik kayu didominasi kayu jati, mahoni dan mentru.

Selain kayu, perbaikan perahu juga membutuhkan bambu jenis petung dan ori yang harus didatangkan dari Lampung Barat.

Tingginya permintaan akan kayu bahan perahu, diakui Suyono warga Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan. Sebagian lahan kebun disebutnya sengaja ditanami dengan jenis kayu albasia, medang, mahoni dan jati putih.

Semua jenis kayu tersebut bisa digunakan sebagai bahan pembuatan perahu setelah sebagian nelayan memesan kepadanya.

“Menanam pohon menjadi bagian investasi, karena selain untuk penghijauan, saat panen saya bisa mendapatkan uang,” ungkapnya.

Menurutnya, penebangan pohon dilakukan saat musim kemarau. Sebab, proses pengangkutan kayu dari kebun lebih mudah dilakukan. Saat kemarau, ia menjual sekitar 6 pohon jati dan mahoni yang memberinya hasil jutaan rupiah. Setelah penebangan pada musim kemarau, ia akan kembali melakukan penanaman sejumlah pohon untuk stok musim berikutnya.

Selain menanam pohon bahan perahu, Suyono juga menanam beberapa jenis bambu. Jenis bambu yang masih dipertahankan meliputi bambu petung dan ori. Kedua jenis bambu tersebut masih tumbuh dengan subur di tepian sungai Way Pisang. Sebab, saat kemarau aliran air masih bisa menjaga rumpun bambu tetap hidup dan bisa dipanen. Rebung atau bibit bambu baru akan kembali tumbuh saat musim penghujan tiba.

Lihat juga...