hut

Sistem Rangka untuk Mengatasi Bangunan Ambruk

Tim labfor melakukan olah TKP kelas yang ambruk di Sekolah Dasar (SD) Negeri Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (5/11/2019) – Foto Ant

JAKARTA – Guru besar bidang arsitektur dari Universitas Indonesia, Profesor Paramita Atmodiwirjo, menyarankan, pembangunan sekolah-sekolah di Tanah Air menerapkan konsep atau sistem rangka. Hal itu untuk meminimalisasi bangunan ambruk.

Pembangunan sekolah Indonesia cepat tanggap menggunakan struktur sistem rangka, sehingga penyambungannya bisa merespon serta bertahan apabila terjadi gempa bumi. Kemudian material yang digunakan rangka baja, semen fiber. Semuanya, dipasang sesuai kebutuhan. “Mungkin sebagai contoh sistem yang kami tawarkan dalam sekolah Indonesia cepat tanggap dapat diterapkan untuk mengurangi risiko kebencanaan. Jadi bangunan itu hanya goyang dan tidak ambruk ini yang kita tawarkan,” katanya di Jakarta, Sabtu (9/11/2019).

Bangunan sekolah menggunakan sistem rangka itu telah teruji di beberapa daerah terdampak bencana alam yaitu Lombok Barat, Palu, Kabupaten Sigi, dan Sumbawa pada 2018. Hingga kini, bangunan tersebut masih berdiri kokoh, meskipun sempat diguncang gempa bumi beberapa kali pascadibangun. “Tetapi dalam skala atau tingkat tertentu juga,” katanya.

Saat gempa Palu pada umumnya bangunan yang ambruk tersebut menggunakan bahan atau material batu, beton dan bata sehingga langsung runtuh dan menimpa masyarakat. “Bangunan yang kita rancang ini bisa lebih memberikan rasa aman kepada masyarakat,” tandasnya.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Hendri D.S Budiono, mengatakan, pembangunan sekolah Indonesia cepat tanggap merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat. Sekolah Indonesia cepat tanggap tersebut diinisiasi oleh dua guru besar teknik asal Universitas Indonesia yaitu Profesor Yandi Andri Yatmo dan Profesor Paramita Atmodiwirjo. (Ant)

Lihat juga...