hut

Sondong Tancap, Cara Nelayan Lamsel Siasati Gelombang Tinggi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Angin kencang berimbas gelombang tinggi membuat sebagian nelayan pesisir Timur Lampung Selatan (Lamsel), tidak melaut. Namun sebagian nelayan yang memiliki alat tangkap sondong tancap, masih bisa mendapat hasil tangkapan.

Budiman, salah satu nelayan di Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi, menyebut sondong tancap menjadi alternatif mendapatkan hasil tangkapan secara tradisional.

Sondong kerap dipakai nelayan untuk mencari ikan di perairan memakai kapal kasko. Sondong dibuat dari kayu yang diberi jaring di depan haluan kapal, lalu disorong dengan kapal.

Namun pada kondisi cuaca perairan tidak bersahabat untuk melaut, sebagian nelayan memilih menggunakan sondong tancap di dekat pantai dan muara sungai.

Bermodalkan jaring, kayu dan bambu, konstruksi sondong tancap dipasang di aliran air. Ratusan kanal yang terhubung dengan sungai Way Sekampung dan perairan Timur kerap menjadi lokasi memasang sondong tancap.

Menurut Budiman, sondong tancap yang dibuat kerap memakai jaring sepanjang puluhan meter dengan bagian kerucut atau kantong pada ujungnya.

Budiman, salah satu nelayan pesisir timur Lamsel memasang alat tangkap sandong di tepian sungai Way Sekampung, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi Lampung Selatan, Minggu (3/11/2019). -Foto: Henk Widi

“Sondong tancap memanfaatkan pasang surut laut. Saat laut pasang, aliran air akan menuju ke sungai dan sejumlah ikan payau seperti belanak, sembilang dan berbagai udang hingga bandeng akan masuk ke sungai, sebagian ke kanal yang dipasangi sondong tancap,” ungkap Budiman, saat ditemui Cendana News, Minggu (3/11/2019).

Saat pasang air laut, sondong tancap pada yang berlubang sengaja dibuka. Saat surut dengan air laut yang kembali membawa berbagai jenis ikan, udang akan terperangkap pada lubang. Jaring sodong dibuat sedemikian rupa, agar ikan yang terperangkap tidak bisa keluar.

Saat pasang air laut terjadi pada pagi hari, ia bisa mengangkat sondong tancap dan mengambil ikan dan udang pada sore hari.

Di lokasi pemasangan sondong tancap yang berhadapan dengan laut, Budiman bisa mendapat berbagai jenis ikan. Hasil tangkapan dengan sondong tancap, di antaranya udang krosok, cumi-cumi, udang rebon, teri nasi, teri jengki dan ikan layur.

Berbagai jenis ikan tersebut menjadi hasil tangkapan sebagai bahan baku untuk pembuatan ikan kering tawar.

“Ikan ukuran besar bisa dijual ke pedagang ikan keliling, dan ikan serta udang ukuran kecil bisa diolah menjadi ikan kering atau dikenal ikan asin yang dibuat para ibu rumah tangga,” papar Budiman.

Sudarto, warga yang juga ketua RT di Dusun Sumberjaya, mengaku sondong tancap menjadi alternatif mencari berbagai jenis ikan tanpa harus memakai kapal. Memanfaatkan puluhan sondong tancap, ia dan nelayan lain bisa mendapatkan berbagai jenis ikan didominasi ikan sembilang.

“Kawasan pantai timur dominan berlumpur, karena dekat muara sungai, sondong tancap jadi pilihan untuk mendapat ikan,” paparnya.

Sondong tancap diakui ramah lingkungan, sebab dipasang di tepi pantai. Jenis ikan yang masih kecil masih bisa dilepaskan dan memilih ikan yang bisa dikonsumsi.

Penggunaan sondong tancap di bagian pesisir timur bisa ditinggalkan sembari melakukan pekerjaan lain membudidayakan udang tambak. Saat musim panen tambak udang, sebagian udang bisa lepas ke kanal dan tertangkap ke dalam sondong tancap.
Saminah, salah satu istri nelayan di Dusun Kuala Jaya, mengaku mendapat udang krosok, udang rebon dan teri.

Berbagai jenis hasil tangkapan sang suami dimanfaatkan menjadi ikan kering tanpa direbus, sehingga menjadi ikan kering tawar. Ia bisa mendapatkan hasil 50 kilogram ikan kering tawar dengan harga jual Rp60.000 per kilogram.

Lihat juga...