hut

Sora dan Rumahnya

CERPEN ILDA KARWAYU

DULU ia ingin tamagotchi dan makan buah leci sepuasnya. sesampainya di rumah, namun keinginannya selalu dibekap oleh buku.

Ia sibuk membaca buku paket bahasa Indonesia kelas satu sekolah dasar. Padahal masih duduk di taman kanak-kanak kelas nol besar. Ayahnya membelikannya banyak buku meski ia ingin sebuah tamagotchi. Ibunya pernah menangis saat mengajarinya membaca.

“Kamu mau jadi apa kalau membaca saja tidak becus?”

Kalimat itu terpahat jelas dan dalam di kepalanya. Sampai sekarang.
***
KEMBALI ke rumah dengan wajah lelah, ingin rasanya ia menaburkan bedak bayi ke permukaan cermin agar keringat dan hitam sarat di bawah matanya terlihat samar.

Ia masih ingin tamagotchi dan makan buah leci sepuasnya. Kini ia sudah bisa mewujudkan salah satu: makan buah leci. Di lemari pendingin tidak pernah absen satu hari pun kehadiran yang namanya buah leci.

Dinding di dalam rumahnya tersusun atas buku-buku. Disusun sesuai ukuran, bukan jenis. Sebab majalah Donal Bebek tidak bisa disandingkan dengan majalah Cosmopolitan. Begitu juga novel Kura-kura Berjanggut yang tidak bisa berdiri sederet dengan novel Ular Tangga, serta The Catcher in the Rye dan To Kill the Mockingbirds. Hanya ukuran tinggi yang bisa menyatukan mereka.

Ia senang menyusun buku-buku yang telah dibacanya. Sejak penghuni rumah ini satu per satu pergi, kebiasaannya menyusun buku mulai berlangsung. Dilanjutkan dengan pemetaan ruangan sesuka hati.

Ruang untuk yoga di sisi belakang dekat pohon-pohon cemara ekor kuda. Ruang untuk membaca buku-buku baru di samping kanan dekat pohon eukaliptus. Ruang untuk menangis di samping ruang untuk yoga—dengan sembulan pohon mawar liar di ambang jendela.

Ruang untuk mengetik di samping kiri tanpa jendela dengan pendingin ruangan yang hampir tidak pernah mati. Ruang untuk melamun di sisi depan dekat pintu utama.

Halaman depan dipenuhi tanaman bunga berbagai jenis dan warna. Sedangkan di halaman belakang menjadi tempat rindang berkat pohon-pohon cemara berbagai jenis.

Tidak ada ruang tidur. Tidak ada ruang mandi. Ia biasa tidur di ruang mana saja dan mandi di dekat pohon-pohon cemara ekor kuda. Ada air tanah yang ditemukannya secara tidak sengaja saat dulu ingin mengubur celengan mimpi.

Iya, mimpi-mimpi yang ditulisnya di atas kertas kecil—sobekan dari buku harian, lalu digulung-gulung dan dipipihkan, kemudian dimasukkan ke dalam celengan. Setelah semua orang di sana pergi. Hanya dapur yang dibiarkan tersisa.
***
GETAH leci jatuh menimpa rok biru laut yang dikenakannya. Ia bergumam, untung tidak di buku. Memasuki jam istirahat, para murid mulai mengeluarkan ponsel yang disembunyikan di balik baju.

Sekolah menengah pertama khusus perempuan tempatnya belajar melarang ponsel dibawa ke sekolah. Jika ingin menghubungi orangtua usai jam sekolah, silakan datang ke ruang tata usaha.

Ia tidak punya ponsel. Diliriknya segerombolan perempuan yang duduk di samping lemari dekat papan tulis. Suara tawa dan visual benda di tangan para perempuan itu melayangkan ingatannya ke masa taman kanak-kanak.

Kala itu para murid berkumpul memamerkan peliharaan dari tamagotchi masing-masing. Ia ikut bergabung dengan menceritakan kecerdikan naga pada buku How to Train Your Dragon. Seketika murid-murid di sekelilingnya terdiam. Saling tatap.

“Itu nggak hidup. Kamu harus punya ini kalau mau main sama kami!” salah satu anak perempuan mengacungkan tamagotchi merah jambu miliknya. Lalu mengajak anak-anak lain untuk duduk di tepi-tepi sanggar tari. Ia ditinggalkan sendirian di area jungkat-jungkit.
***
“BU Sora punya smartphone baru, nih!”

Ia kaget dan langsung membalik horizontal 180 derajat kursi kerja yang sedang didudukinya.

“Nggak, hanya ganti case.”

Pegawainya tertawa sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan sebelah kiri. Sedangkan tangan kanan menenteng beberapa berkas. Diliriknya berkas-berkas tersebut dan bertanya apakah semua berkas itu sudah beres atau masih ada yang perlu didiskusikan.

“Sudah, Bu. Ini tinggal dikirim ke pusat.”

Ia berterima kasih lalu mengambil seluruh berkas dari tangan pegawai dan kembali ke posisi semula: menghadap meja. Tidak lagi ia sentuh ponsel pintar yang tadinya menjadi pusat perhatian.

Ia mulai sibuk memeriksa berkas dan menyusunnya kembali sesuai tanggal. Dari tanggal satu ke tanggal 26. Sebuah titik hijau menyala-nyala dari ponsel pintarnya. Tanda pemberitahuan pesan masuk. Ia melirik, tapi tidak menanggapi.

Tamagotchi sudah tidak lagi dijual di mana pun. Hanya leci yang masih ada di supermarket terdekat. Ia berjalan lima menit dari kantornya menuju supermarket. Beli satu kilogram leci lalu pulang.

Pagar rumahnya sangat tinggi. Setinggi pohon ketapang yang tumbuh sehat di taman-taman sekolah. Pagar yang terbuat dari kayu jati, yang sisi-sisinya dilapisi besi bercat hitam, membuat rumahnya seperti kotak kayu besar dengan sisi atas terbuka.

Pohon-pohon besar yang tumbuh di belakang rumahnya cukup terlihat dari depan pagar luar rumahnya. Siapa pun yang lewat mungkin akan berasumsi betapa repotnya jika tiba-tiba meninggal sendirian di rumah semacam itu.

Dari halte bus ia perlu berjalan sekitar 20 menit untuk sampai ke rumah. Pukul delapan malam jalan kecil menuju rumahnya sudah sepi. Lain halnya saat berangkat pada pukul tujuh pagi, ia disambut keramaian pedagang sayur-mayur.

Kadang lewat juga pedagang pot bunga, kadang pedagang bibit bunga, bahkan pedagang tirai bambu. Tetangga sangat jarang terlihat. Pagar-pagar rumah lain memang tidak setinggi rumahnya, tapi ia tidak bisa mengintip sosok tetangga bila pagar tertutup. Dan memang selalu tertutup.

Tak sengaja ia menatap sebuah pagar rumah tua. Pagar paling rendah dan sudah berkarat besi-besinya. Melintaslah ingatannya tentang rumah di dalamnya. Dulu ia pernah bermain di rumah itu sampai larut malam.

Itulah rumah Ina, salah satu teman masa remaja yang rumahnya berselang empat rumah dari sebelah kanan rumahnya sendiri.

Malam itu, saat sedang asyik bersama Ina, suara ayahnya terdengar memanggil di balik pagar. Mama Ina membukakan pagar. Segera Mama Ina menyilakan ayahnya masuk dan menunggu. Diintipnya mereka berdua yang sedang mengobrol akrab dari balik pintu kamar Ina yang dibukanya sedikit.

“Sora, ayo nonton lagi. Tutup pintunya,” Ina menarik tangannya sembari menutup pintu. Blam!
Mereka sedang menonton Fingersmith.

“Suaranya terlalu besar,” ia menatap Ina dengan wajah waswas.

“It is okay.”

“Ayahku di luar.”

“Iya, sama mamaku.”
***
DI rumah banyak orang berwajah sembab. Orang-orang sibuk lalu-lalang membagikan minuman kemasan kepada orang lain yang baru selesai membaca doa-doa. Ia duduk di samping ayahnya. Sesekali tersenggol-senggol orang yang mencoba menarik ayahnya yang terus menciumi pipi pucat nan dingin istrinya.

Kakek nenek tidak datang. Ayah marah-marah ketika ditanya mengapa mereka tidak datang. Satu pun tidak datang.

Ibu dimakamkan di pemakaman dekat rumah. Sekitar beberapa ratus meter dari rumah.
***
IA terbangun tubuhnya telanjang dan berkeringat. Ia pindah ke ruang mengetik. Dinaikkannya suhu pendingin ruangan menjadi 20 derajat. Berjalanlah ia mengelilingi ruangan tersebut sambil membaca sisi-sisi buku yang menjadi dinding dalam. Milan Kundera. Gustave Flaubert. Leo Tolstoy. Gumamnya.

Menyadari tubuh yang mulai lembab menuju kering, dikenakannya gaun malam lalu duduk di meja kerja. Dipandanginya sebuah pigura kayu yang terpajang di atas meja. Di balik kacanya, terdapat foto sepasang suami istri dan anak berseragam taman kanak-kanak.

Raut wajah ketiganya tidak menampakkan ekspresi senang maupun sedih. Tatapannya terlihat masih lekat kepada pigura.

Teringat ia pada ibu. Hingga saat ini tak pernah ia tahu mengapa ibunya bunuh diri. Ia ingat bahwa sepulang dari rumah Ina malam itu ia dan ayahnya terkaget-kaget melihat ibunya tergeletak di dapur.

Sebilah pisau menancap di perutnya. Dalam. Tersisa gagang pisau tegak vertikal. Ia takut tapi tidak berteriak. Ayah mencabut pisau dari perut ibu. Mengambil apa saja yang berwujud kain di sekitarnya sambil berteriak minta ditelponkan ambulans.

Darah yang masih muncrat dari bekas sayatan di pergelangan tangan kiri ibu membasahi celana ayah. Ia yang sedari tadi disuruh menelpon ambulans, masih terus menatap ibunya. Tidak bergerak.

Ia tertawa mengenang sikapnya kala itu. Dan mulai berpikir bahwa mungkin ibunya tidak akan mati jika ia segera menelpon ambulans alih-alih diam mematung.

Diingatnya pula bapak-bapak ronda yang sibuk menggoyang-goyangkan gembok gerbang sembari memanggil nama ayahnya dari sana. Tak lama kemudian ambulans datang bersama orang-orang yang mendengar sirine mobil itu.

Sehari setelah kematian ibu, ditemukannya ayah ambruk di dapur. Matanya langsung tertuju pada sepiring ikan goreng asam manis di atas pemanas makanan. Itu masakan terakhir ibu yang disimpan ayah dalam lemari pendingin kemarin.

Mulut laki-laki itu mengeluarkan busa putih. Ia menatap ayahnya. Tidak bergerak. Dan kembali rumah jadi ramai dengan suara-suara (yang baginya) tak perlu.

Diraihnya pigura lalu diusap menggunakan gaun malamnya yang lembut. Kaca yang menjadi lebih bening menandakan debu-debu tipis telah berpindah.

Pigura diletakkannya kembali di atas meja sambil tertawa. Renyah. Ia beranjak dari kursi dan menjatuhkan diri ke lantai. Berguling-guling di atas dinginnya ubin marmer merah hati. Matanya berkerling ke langit-langit. ***

Ilda Karwayu, karyanya tersebar di berbagai media. Buku puisinya “Eulogi” (PBP, 2018). Aktif di Komunitas Akarpohon Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Redaksi menerima cerpen. Karya orisinal, tidak SARA, belum pernah dimuat atau tayang di media apa pun, baik cetak, online, dan juga buku. Kirimkan naskah Anda ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com