hut

Tanaman Bumbu, Jadikan Lahan Warga Penengahan Masih Produktif Saat Kemarau

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Tanaman bumbu, masih menjadi sumber penghasilan petani di Lampung Selatan (Lamsel) kala kemarau.

Edi Gunawan, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut, harga bumbu dapur di tingkat petani saat ini sedang meningkat. Hal itu, imbas dari produksi yang menurun. Komoditas bumbu dapur yang masih dihasilkan diantaranya, lengkuas, serai, jahe, kunyit dan cabai jamu atau cabai rambat. Tanaman bumbu tetap tumbuh meski kemarau, berkat keberadaan tanaman naungan.

Permintaan bumbu biasanya diterima dari restoran, pemilik usaha warung makan. Tanaman bumbu pada umumnya merupakan tanaman menahun yang tidak memerlukkan perawatan khusus. Bahkan, lengkuas atau disebut laos, kunyit, serai biasa berfungsi sebagai tanaman pagar. Saat akan dibutuhkan pemanenan hanya akan diambil pada bagian rimpang yang sudah tua. “Proses penggalian rimpang lengkuas, kunyit dilakukan dengan menyisakan rimpang muda sebagai bibit dan menimbunnya kembali memakai tanah serta pupuk kotoran ternak sapi dan kambing serta rutin melakukan proses penyiraman,” terang Edi Gunawan yang saat ditemui sedang memanen laos, Sabtu (9/11/2019).

Lina (kedua dari kanan) pemilik lahan pekarangan yang menanam kunyit memanen tanaman bumbu tersebut untuk dijual ke pengepul,Sabtu (9/11/2019) – Foto Henk Widi

Selama kemarau, tanaman bumbu seperti laos masih bisa mempertahankan bagian batang semu. Namun jenis tanaman jahe, kunyit, kencur, sebagian tidak terlihat memiliki daun.  Saat kemarau harga laos biasanya cukup tinggi.

Pada musim penghujan lengkuas dijual dengan harga Rp6.000 perkilogram, saat kemarau dijual Rp9.000 perkilogram. Kunyit yang semula dijual Rp5.000 naik menjadi Rp6.000 perkilogram, serai dibeli Rp3.000 perkilogram dari semula hanya Rp1.000 perkilogram. Kenaikan harga diakuinya imbas sulitnya tanaman itu tumbuh saat kemarau. “Adanya naungan tanaman mangga, kelapa dan cengkih dan lahan yang gembur, membuat semua tanaman bumbu tetap produktif,” tuturnya.

Lahan pekarangan yang telah ditanami berbagai tanaman bumbu bahkan tidak terlihat saat kemarau. Sejumlah tanaman akan kembali bertunas ketika musim penghujan tiba. Selain kerap digunakan untuk bumbu dapur, tanaman bumbu bisa dipergunakan sebagai bahan jamu tradisional.

Petani bumbu lainnya, Ranik dan Lina, menyebut, ejumlah tanaman bumbu sengaja ditanam untuk kebutuhan bumbu sehari-hari. Namun, saat produksi melimpah bisa dijual. “Jenis tanaman kunyit bisa dijual bagian daun sebagai bahan pembuatan pindang dan rimpangnya sebagai bumbu,” ungkap Ranik.

Kunyit biasanya dijual kepada produsen jamu tradisional sebagai bahan baku pembuatan jamu kunyit asem. Pada pekarangan seluas ratusan meter persegi Ranik bisa menghasilkan sekira 40 kilogram kunyit. Sementara Lina, yang setidaknya membudidayakan tiga jenis tanaman bumbu, memilih memanfaatkan polybag untuk menanam jahe, kunyit dan kencur. Pemanenan kunyit yang dikirim ke pengepul untuk memenuhi permintaan warung makan.

Kunyit kerap dipakai untuk menyedapkan rasa ayam bakar serta ikan bakar. Selain dijual langsung ke pengepul para pencari bumbu dari sejumlah petani akan melakukan pembelian dengan sistem keliling. Setelah dikumpulkan dari sejumlah petani hasil panen sejumlah bumbu akan dikirim ke sejumlah pasar tradisional. Pemanfaatan pekarangan untuk membudidayakan tanaman bumbu bisa memanfaatkan kantong plastik bekas, sehingga masih bisa menghasilkan uang kala kemarau.

Lihat juga...