hut

Tebu Hijau, Komoditas Pertanian Beri Penghasilan Tambahan Petani

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Musim kemarau minuman berbahan tebu menjadi pilihan untuk menyegarkan dengan tambahan es. Kebutuhan akan tanaman tebu hijau sebagai bahan baku minuman menjadi peluang bagi petani di Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi, Lampung Selatan (Lamsel).

Juda, salah satu petani sekaligus pedagang es tebu mengungkapkan dalam sehari ia membutuhkan puluhan batang tebu.

Sebagai cadangan Juda memilih menanam sendiri tebu kuning dan hijau di lahan kebun miliknya. Menggunakan bibit sebanyak 100 batang sejak lima tahun silam kini ia bisa memiliki ratusam rumpun.

Proses penanaman tebu menurut Juda cukup mudah karena ia hanya membutuhkan batang yang memiliki mata tunas. Sistem stek batang ditanam langsung pada lahan yang sudah dibuat menjadi guludan dan diberi pupuk kandang.

Prospek hasil pertanian tebu menurut Juda berasal dari pengalaman saat di Jambi. Ia menyebut bisa menanam sekitar 1 hektare lahan tebu untuk pasokan penjual es tebu sebagian dijual dalam bentuk es tebu.

Setelah dua anaknya kuliah dari hasil menjual tanaman tebu ia hijrah ke Lampung dan membeli tanah untuk berjualan es tebu. Sebagian lahan dipergunakan untuk menanam tebu hijau dan kuning.

“Peluang budidaya tanaman tebu sebagai bahan minuman sangat tinggi karena menanam tebu tidak butuh perawatan khusus dan bisa memberi keuntungan setiap panen minimal puluhan ribu satu rumpun,” ungkap Juda saat ditemui Cendana News, Senin (18/11/2019).

Penanaman tebu pada lahan miliknya menurut Juda bisa memberi keuntungan harian. Sebab ia bisa menjual es tebu sebanyak 100 gelas dalam sehari dengan harga mulai Rp1.000 hingga Rp2.000 per gelas.

Rata-rata per gelas dijual seharga Rp1.000 saja ia bisa mendapatkan hasil sehari sebesar Rp100.000. Hasil kebun yang dijual dalam bentuk es dalam sepekan bisa memberinya penghasilan Rp500 ribu hingga Rp700 ribu.

Selain bisa digunakan sendiri untuk bahan es tebu, Juda menyebut menjual batang tebu yang berlebih. Sekali menjual sebanyak 100 batang bisa dijualnya dengan harga Rp1.000 untuk ukuran kecil dan seharga Rp2.000 untuk tebu ukuran besar.

Saat kemarau ia menyebut sengaja tidak menjual tanaman tebu karena stok untuk kebutuhan sendiri pada usaha es tebu kerap kekurangan.

“Saat pasokan batang tebu berkurang ada pedagang batang tebu dari lahan pertanian di Lampung Timur saya kerap membeli, tanaman yang ada dipakai sebagai cadangan,” tuturnya.

Saat berkeliling menjual es tebu Juda kerap meminta petani lain menanam tebu. Sebab dengan lahan terbatas rumpun tebu bisa tumbuh hingga ratusan batang.

Dibeli dengan harga Rp2.000 per batang saja sebanyak 100 batang bisa menghasilkan Rp200 ribu. Selama musim kemarau kualitas air tebu menurutnya cukup manis meski kadar air lebih sedikit dibanding saat musim penghujan.

Nurkolis dan Hasan, pedagang es tebu di Bakauheni mengaku ia kesulitan mencari tanaman tebu saat kemarau. Sebagai cara untuk mendapatkan bahan baku keduanya kerap harus berburu hingga ke wilayah Kecamatan Pasir Sakti di Lampung Timur.

Nurkolis, salah satu pedagang es tebu membeli hasil tanaman tebu hijau milik petani yang sebagian ditanam pada sejumlah pekarangan di Lampung Timur dan Lampung Selatan, Senin (18/11/2019) – Foto: Henk Widi

Petani penanam tebu umumnya membudidayakan tebu sebagai tanaman pagar dan tanaman sela. Ia menyebut jarang ada petani secara khusus menanam tebu sebagai tanaman pertanian.

“Sebagian warga menanam tebu untuk kebutuhan upacara adat bagi warga keturunan Bali sebagian sebagai tanaman pagar,” tutur Nurkolis.

Sehari menjual es tebu ia menyebut membutuhkan sebanyak 50 batang tebu untuk digiling. Sebagai stok ia mencari tanaman tebu yang masih segar pada sejumlah petani.

Penebangan secara dadakan dilakukan agar ia mendapatkan es tebu dengan kualitas yang segar. Setelah melakukan proses pencarian hingga ke wilayah Desa Bandar Agung ia mendapatkan sekitar 70 batang tebu.

Diana, pemilik lahan yang ditanami tebu mengaku menanam tebu pada lahan sebagai tanaman pagar. Memiliki lahan kosong ia sengaja menanam tebu agar menjadi pagar hidup pelindung dengan jalan raya.

Diana, pemilik tanaman tebu hijau di Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi Lampung Selatan menjual tebu miliknya kepada pemilik es tebu, Senin (18/11/2019) – Foto: Henk Widi

Meski ditanam tanpa perawatan khusus Diana masih mendapatkan hasil Rp140.000 dari 70 batang tebu yang dibeli. Setelah tanaman tebu dipanen tunas baru akan kembali tumbuh dan rumpun akan kembali bertambah banyak.

“Adanya peluang hasil dari penjualan tebu membuat saya menanam pada pekarangan sejak dua tahun silam,” cetus Diana.

Meski hanya menghasilkan uang sedikit, dengan menjual tebu ia mendapat penghasilan tambahan. Tebu yang kerap dicari oleh penjual es tebu mulai diperbanyak dengan tunas.

Bersama sang suami ia bahkan mulai memanfaatkan lahan kosong yang ada di pekarangan rumah untuk menanam tebu hijau dan kuning. Penanaman dengan sistem pengaturan waktu tanam membuat tebu bisa dipanen setiap dua bulan sekali.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com