hut

Tedhak Siten Ajari Anak Hadapi Persoalan Hidup

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Upacara adat Jawa tedhak siten yang digelar Hj. Siti Hardiyanti Rukmana atau akrab pula disapa Mbak Tutut Soeharto memuat ragam pesan. 

Tedhak siten atau turun tanah adalah salah satu rangkaian  upacara ritual Jawa bagi seorang anak yang genap berusia 7 lapan. Satu lapan adalah 35 hari. Biasanya anak seusia itu sudah ingin turun ke tanah, brangkangan atau merangkak.

Selain itu, tedhak siten juga bermaksud membekali doa dan harapan bagi si anak jangan sampai tertimpa malapetaka.

Arsyanendra Athallah Rukmana, cucu Mbak Tutut Soeharto, sedang mengikuti ritual adat Jawa tedhak siten, Sabtu (23/11/2019) – Foto: M. Fahrizal

Prosesi tedhak siten dimulai di pagi hari dengan serangkaian makanan tradisional untuk selamatan. Dimulai dengan si anak  dibimbing melompati 7 tumpeng gudangan yang biasa disebut tumpeng slamet atau tumpeng kuat yang dilengkapi dengan berbagai macam lauk pauk macam-macam rasa.

Ada rasa manis, rasa gurih, agak asam, agak pahit (terdapat dalam urapan atau gudangan dengan bahan daun pepaya).

Dikatakan Sri Retno Dewati, pemandu acara, makna dari 7 tumpeng gudangan yakni dalam situasi apa pun, dengan segala tulus dan kesabaran, orang tua dan para sesepuh,  membimbing serta memperkenalkan si anak, berbagai tantangan dan rintangan.

Bentuknya dengan melompati gunung satu ke gunung lainnya (tumpeng diibaratkan gunung), dan diperkenalkan pula dengan berbagai macam situasi (rasa), sehingga diharapkan dengan berbekal tuntunan agama, bimbingan serta pengarahan para sesepuh dan orang tua, si anak bila kelak menghadapi problem kehidupan tidak akan takut, canggung atau bingung, bila kelak menghadapi kehidupan yang manis menyenangkan, dan tidak akan lupa diri serta sombong.

Makanan tradisional selanjutnya yakni berupa jadah tujuh warna. Makanan ini terbuat dari beras ketan dicampur parutan kelapa muda dan ditumbuk hingga bercampur menjadi satu dan bisa diiris.

Beras ketan tersebut diberi pewarna kuning, ungu, coklat, hijau, biru, merah, dan putih. Jadah ini menjadi simbol kehidupan bagi anak, sedangkan warna-warni yang diaplikasikan menggambarkan jalan hidup yang harus dilalui si bayi kelak.

Arsyanendra Athallah Rukmana dipeluk ibunya dalam ritual tedhak siten, Sabtu (23/11/2019) – Foto: M. Fahrizal

Kemudian si anak dituntun menaiki tangga dari tebu yang berjumlah tujuh (7) anak tangga. Sesampai di atas didudukkan sebentar, lalu diangkat (dilambungkan) tinggi ke udara sambil didoakan.

Makna yang terkandung di dalamnya yakni diharapkan, dalam memasuki kehidupan, agar segala sesuatu yang sudah dipikir matang-matang dikerjakan/dilaksanakan dengan tekad yang bulat, pantang mundur.

Berbekal kemantapan dalam iman dan takwa, akan mampu meraih cita-cita mulia dengan doa dari orang tua.

“Bahan tangga dari tebu wulung, batang tebu itu di luar keras, di dalam rasanya manis. Hal ini melambangkan, di balik perjuangan yang keras, apabila berhasil pasti akan manis terasa,” ucapnya, Sabtu (23/11/2019), di kediaman Mbak Tutut Soeharto, di Jalan Yusuf Adiwinata SH, Jakarta.

Setelah dilambungkan ke atas, kemudian si anak dituntun untuk meniti kembali anak tangga tebu satu per satu turun ke bawah.

Digambarkan bahwa si anak diajak turun untuk lebih mengenali kehidupan dunia, dan seolah hendak mengingatkan, bahwa ada saat naik, pasti ada pula saatnya turun.

Pada saat nasib baik sedang menuntun naik atau ke atas, jangan sombong atau takabur. Dan pada saat harus turun, turunlah dengan baik-baik dan tenang. Tidak perlu ragu, tak usah resah atau gelisah. Ikuti irama kehidupan sesuai kodratnya.

Sesampai di bawah, kembali si anak diinjakkan kakinya pada jadah berbagai warna hanya urutan warnanya terbalik menjadi kuning, ungu, coklat, hijau, biru, merah dan putih.

Makna yang terkandung di dalamnya yakni dengan bimbingan orang tua, para sesepuh dan para guru, akan menambah kokoh jiwa sang anak dalam mengenali kehidupan di dunia, tidak akan khawatir ataupun bingung dalam  menghadapi  zaman.

Kemudian diteruskan diinjakkan pada jenang (bubur) sumsum atau jenang blowok. Makna yang ingin disampaikan yaitu, jangan kaget atau takut bahwa apabila suatu saat kelak “keblowok” atau mendapat kesusahan. Percayalah bahwa orang tua pasti akan menyertai dengan memberi pertolongan dan doa, semoga tabah menjalani cobaan, sabar, tawakal, pasrah.

Selanjutnya kaki si anak yang kotor dibersihkan/dicuci dengan air setaman yang telah disiapkan. Makna tersebut bahwa si anak dibersihkan dari semua kotoran (disucikan), disiapkan untuk memasuki kehidupan sejati.

Hal ini juga melambangkan, berbagai upaya dan usaha yang tidak ada putus-putusnya dari orang tua dan para sesepuh untuk selalu menyertai dan mengiringi perjalanan si anak dengan doa, ajaran dan harapan, agar hilang segala kotoran dalam jiwa si anak, sehingga si anak benar-benar tumbuh menjadi anak yang saleh bila dia laki-laki, dan jadi anak yang salehah bila wanita, dan siap menapakkan kaki mengarungi kehidupan selanjutnya.

Kemudian setelah kakinya bersih, kaki si anak diinjakkan ke tanah yang telah disiapkan. Dengan telah menginjakkan kakinya ke bumi, berarti si anak telah siap menghadapi segala kehidupan di dunia ini. Jangan takut, selama melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya, insya allah hidup damai, tenang dan bahagia.

Selanjutnya si anak diserahkan pada eyang putri dan ibunya untuk dimandikan. Kemudian si anak dimandikan dengan “banyu gege” (air yang telah dipanaskan di sinar matahari) ditambah bunga- bunga yang harum baunya. Seusai mandi, kemudian ganti busana yang bersih.

Liz Widowati, pemandu acara lainnya menambahkan bahwa semua ini memiliki makna, si anak dibersihkan lahir batin, agar si anak cepat besar dan harum namanya serta juga mampu menjaga keharuman nama keluarga. Di manapun berada, ke mana pun tujuannya, selalu bisa menjunjung nama baik keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, dengan penampilan yang baik, sopan, rapi (selama dimandikan dilantunkan doa-doa dengan diiringi rebana).

Kemudian si anak dibawa menuju ke sangkar ayam atau kurungan ayam biasa dinamakan “sengkeran” dan yang sudah dihias dengan bunga-bunga. Lalu si anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam sambil diberi berbagai macam mainan yang menarik yang berkaitan dengan macam-macam jenis profesi. Kemudian si anak dibiarkan memilih.

Semua ini melambangkan bahwa si anak akan masuk ke dunia (kurungan dimisalkan dunia), dan bahwa di sana akan dibekali dengan berbagai ilmu, baik ilmu tauhid maupun ilmu pengetahuan.

Selanjutnya kedua orang tua menggendong si anak ke kursi yang dibuat dari tebu, dan telah dihias dengan bunga agar tampak bagus, menarik dan harum. Diletakkan di atas panggung, di sebelah tangga tebu di atas kursi, dialasi 7 macam motif batik yang  bermakna baik, yakni;

Pertama, Kain Wahyu Tumurun, yang bermakna: mendapat petunjuk, berkah, rahmat, dan anugerah yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengharapan untuk mencapai keberhasilan dalam meraih cita-cita, kedudukan ataupun pangkat, dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Kedua, Kain Sido Asih, yang bermakna: sebagai perlambang suatu kehidupan manusia, yang selalu menerapkan perilaku, saling asah, asih dan asuh, yang penuh cinta kasih serta sayang, menenteramkan kehidupan di dunia serta di akhirat.

Ketiga, Sido Mukti, yang bermakna: sebagai simbol pengharapan dan doa.

Ke empat, Gorda Raja yang bermakna: Gorda adalah burung Garuda. Lambang dari Negara Republik Indonesia. Orang Jawa berpendapat, bahwa burung Garuda mempunyai kelebihan bila dibanding dengan burung lain.

Gorda Raja mengandung harapan, anak akan menjadi pemimpin laksana burung Garuda yang penuh kejantanan, kewibawaan, ketabahan, keagungan dan selalu mengayomi.

Kelima, Bokor Kencana yang bermakna harapan dalam doa mencapai keagungan, kewibawaan, kekayaan, kebahagiaan di jalan Allah SWT, serta tumbuh aura yang bercahaya dan berwibawa.

Ke enam, Satrio Wibowo yang bermakna: harapan menjadi kesatria yang beriman, bertakwa, bertanggung jawab, sabar, gagah dan berwibawa, mendapat kemuliaan, kemasyhuran, keluhuran dan kekuasaan dari Allah SWT.

Dan yang ketujuh Sido Luhur Derajat yang bermakna: mempunyai sifat luhur, untuk selalu peduli pada mereka yang membutuhkan pertolongan, karena kita hidup di dunia ini tidak sendiri.

Dengan pekerti yang luhur tersebut, akan terangkat derajatnya, dengan doa, pengharapan, agar dimudahkan pencapaian kemakmuran, kesehatan, derajad, jabatan dalam kedudukan yang mulia, terhormat, bermartabat.

Kemudian si anak didudukkan di kursi. Makna yang terkandung yakni, harapan orang tua pada si anak di kemudian hari dapat mencapai kedudukan yang tinggi  dan utama, mulia, terhormat, bermartabat, mengayomi, sayang, dan juga disayang masyarakat serta harum namanya.

“Alhamdulillah, si anak tidak rewel, itu menandakan kalau anak sudah terbiasa dengan suasana ramai seperti ini,” jelas Liz Widowati.

Akhir dari prosesi upacara Tedhak Siten yaitu kedua orang tuanya menyebar udik-udik atau
nyawer. Nyawer dapat diganti dengan macam-macam mainan anak-anak yang digantungkan di pohon pisang untuk diperebutkan/rayahan para tamu undangan.

Makna tersebut yakni untuk berbagi kebahagiaan dan kemeriahan.  Serta diharapkan si anak, dalam kehidupannya, suka memberi, bersedekah.

“Setiap prosesi didahului dengan membaca Bismillahirrohmaanirrohiim,” ucap Sri Retno Dewati.

Lihat juga...