hut

Tengkorak

CERPEN ARIANTO ADIPURWANTO

CANGKUL salah seorang dari beberapa laki-laki yang sedang menggali tanah untuk membuat bata, pagi ini, membentur benda keras. Siapa pun dari mereka tidak akan percaya pada apa yang mereka lihat selanjutnya.

Mereka menemukan sebuah tengkorak yang jelas sekali tengkorak manusia. Dalam beberapa saat, mereka seperti melihat masih ada nyawa menghuni tengkorak itu. Sebelum akhirnya tengkorak itu tampak tidak lebih dari sekadar rumah-rumahan semut.

Mendengar keributan, Puq Banguq yang pekerjaan sehari-harinya hanya berkeliling kampung mendekat dengan terbungkuk-bungkuk.

Ketika ia melihat apa yang tergeletak di dasar lubang, ia tidak sedikit pun beranjak, seakan-akan pemandangan yang ia lihat adalah tujuan ia berkeliling selama ini.

Setelah Puq Banguq, datang seorang yang berjalan terpincang-pincang. Ia juga setiap hari selalu berkeliling kampung, namun ia punya tujuan jelas. Ia mencari sendal-sendal bekas untuk membuat mainan.

Bagaimanapun, ia tidak bisa melakukan pekerjaan yang lebih berat daripada membuat mobil-mobilan dari sendal bekas dan menyambung hidup dari itu. Ketika melihat banyak orang berdiri dan tampak keheranan, ia langsung mendekat.

Sesuatu yang sering ia angan-angankan di sebagian besar waktu kosongnya menyerbu kepalanya. Ia membayangkan ada sendal raksasa di tengah-tengah para warga itu. Maka ia mempercepat langkah, sampai terlihat ia telah sembuh dari pincangnya.

Hampir saja ia terperosok ke dalam lubang ketika sepasang matanya melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat selama hidupnya namun sangat ia kenal itu.

“Timbun!” teriaknya. Keras sekali.

“Jangan!” tolak Puq Banguq.

“Kita tidak bisa sembarangan. Nanti bisa melawahang,” sambungnya. Para pembuat bata hanya diam. Mereka tiba-tiba takut mendengar kata-kata Puq Banguq.

“Sebaiknya cepat ditimbun supaya tidak melawahang.” Laki-laki pincang meyakinkan. “Kita tidak bisa asal timbun. Harus kita tahu siapa punya kepala ini, lalu kita beritahu keluarganya.”

Puq Banguq menatap laki-laki pincang di depannya yang bersiap-siap menyanggahnya.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya salah seorang pembuat bata. Tangannya yang memegang gagang cangkul bergetar. Dialah yang mengenai tengkorak itu dengan cangkulnya tadi. Dan ia sangat takut. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya dan keluarganya.

“Kita apakan tengkorak ini sekarang?” tanyanya lagi setelah pertanyaannya tidak ditanggapi.

“Angkat!” perintah Puq Banguq.

Tidak ada yang berani melakukannya.

“Angkat!” perintahnya lagi.

Tetap tidak ada yang bergerak.

“Angkat!” Suara Puq Banguq meninggi.

Epe yang angkat kalau berani. Kan epe yang tidak kasih kita timbun,” kata laki-laki pincang dengan nada mencemooh.

Puq Banguq bersiap turun. Tetapi yang sedang memegang cangkul mencegahnya.

“Jangan.” Suaranya bergetar.

“Jangan dulu! Kita putuskan dulu kita bawa ke mana setelah kita angkat,” katanya.

Laki-laki pincang menatap tengkorak itu lama-lama. Tanah-tanah masih menempel di sana-sini. Dua lubang besar yang terisi tanah hitam membangkitkan sesuatu yang lain dalam dirinya.

Sesuatu yang sedikit ia takuti. Ia membayangkan akan membuat mainan dari tengkorak itu, dan ia telah memiliki bayangan yang rinci akan melakukan apa saja dengan tengkorak itu.

Ia terus menikmati imajinasinya walaupun sesekali ia tersadar dan merasakan ketakutan akan mendapat akibat buruk karena keberaniannya.

Sendal-sendal bekas telah mulai langka. Dan membuat permainan dengan tengkorak manusia adalah sesuatu yang ia yakin tidak pernah ada satu orang pun yang melakukannya. Ia membayangkan dirinya akan menjadi sangat kaya dengan hasil ciptaannya.

“Angkat dah! Angkat!” perintahnya. Ia tidak sadar suaranya telah berubah.

“Jangan dulu!” Puq Banguq menolak. Ia merasa kata-kata pembuat bata ada benarnya. “Kita tidak bisa sembarangan mengangkatnya.”

“Kenapa?”

“Kita harus putuskan akan kita bawa ke mana setelah kita angkat.”

“Ke rumah saya.”

“Jangan!”

“Kenapa? Saya akan menjaganya.”

Para pembuat bata dan Puq Banguq terheran-heran mendengar kata-kata laki-laki pincang.

“Jangan! Kalau kita angkat bisa saja kampung kita akan kena musibah. Kalau kita timbun, nanti tinggal kita beritahu warga, dan mungkin kita bisa adakan roah sedikit di sini untuk meminta maaf karena kita telah mengganggu pemiliknya. Ya, sebaiknya kita timbun saja.”

Para pembuat bata mengangguk-angguk. Mereka membenarkan kata-kata Puq Banguq.

“Ya. Kita timbun saja. Itu pilihan yang terbaik,” tambah pembuat bata yang dari tadi berusaha menekan ketakutannya.

“Ya, kita timbun saja. Ayo timbun,” perintah Puq Banguq.

“Tunggu! Tunggu! Kita jangan gegabah. Menurut saya, kita angkat saja dulu. Saya siap untuk membawanya ke rumah,” bujuk laki-laki pincang.

Sekarang, laki-laki pincang tidak lagi berpikir untuk membuat mainan. Tapi ia membayangkan akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari tengkorak itu. Ia percaya itu bukan tengkorak orang sembarangan.

“Kita angkat saja. Saya tanggung jawab.”

Karena laki-laki pincang itu berkata begitu, warga pembuat bata yang masih memegang gagang cangkul sampai tangannya berkeringat merasa lega. Ketakutan yang dari tadi mencengkeramnya dan tiba-tiba melepaskan dirinya membuat tubuhnya terasa sangat ringan.

Warga pembuat bata yang lain pun merasa telah diselamatkan. Mereka, termasuk Puq Banguq, percaya, arwah pemilik tengkorak pasti mendengar kata-kata laki-laki pincang itu. Dan jika ada hal buruk, mereka yakin, pasti yang ditimpa adalah laki-laki pincang.

Maka, sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari ini, ia tidak pulang membawa sendal bekas, tetapi membawa tengkorak manusia. Remah-remah tanah berjatuhan di sepanjang jalan.

Sepanjang hari ia mengurung diri di dalam rumah. Memandangi harta baru miliknya sementara di tiap-tiap rumah, para warga membicarakan tentang siapa pemilik tengkorak itu.

Beberapa warga yang sangat penasaran mendatangi rumahnya, tapi ia mengurung diri di dalam, mengunci pintu, dan tidak ingin ditemui siapa pun. Selama ia menghilang, tidak sedikit warga seperti melihat ia merangkak-rangkak di tawingan mencari sendal bekas.

Salah seorang yang terkenal paling sakti di kampung, ketika mendengar cerita para warga, berkata: ia terkena kutukan.

Selama berminggu-minggu, cerita tentang tengkorak itu tidak pernah berhenti diceritakan. Cerita itu seperti tumbuh, meluas, dan melingkupi apa pun. dari kampung yang letaknya berkilo-kilo, seorang bocah pedagang keroncong mendengar cerita itu.

Puluhan keroncong-nya sebagian besar telah lapuk, dan siapa pun yang mendengarnya seperti mendengar arakan puluhan sapi, ia mencari sumber cerita yang ia dengar.

Di jalan ia bertemu dengan seorang kakek yang berjalan terbungkuk-bungkuk, dan kakek itulah yang menunjukkan padanya apa yang ia cari.

Mendaki bukit, melembah puluhan keroncong dan terdengar seperti arakan puluhan sapi, ia berjalan di belakang seorang kakek tua yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Ketika sampai di puncak bukit, ia duduk, mengeluarkan peta dan sebundel lontar kuno warisan nenek moyangnya.

Ia menekuni kata demi kata yang diukir di atas lontar itu, mencocokkannya dengan jalur-jalur yang tergurat samar-samar di atas selembar kulit.

Setelah berjam-jam berkutat dengan naskah-naskah kuno warisan nenek moyangnya itu, tak pelak lagi, disitulah makam manusia yang selama ini ia cari: Naq Colaq, orang terkaya yang mati ratusan tahun lalu, terbunuh oleh orang-orang yang berusaha merebut hartanya. ***

Catatan Kaki:
Melawahang: Menimbulkan petaka.
Epe: Kamu (halus).
Tawingan: Tempat membuang sampah.
Roah: Zikir.
Keroncong: Genta untuk ternak yang terbuat dari kayu.

Arianto Adipurwanto, penulis yang tinggal di Selebung, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kumpulan cerpen terbarunya Bugiali (Pustaka Jaya, 2018).

Redaksi menerima cerpen.  Naskah orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain, baik cetak, online dan juga buku. Kirim karya Anda ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...