hut

Tiga Kuliner Tradisional Murah Meriah di Padang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Hadirnya berbagai rasa makanan di era yang telah berkembang usaha-usaha makanan yang datang dari berbagai belahan dunia, jajanan tradisional ternyata masih menjadi incaran para penikmat kuliner.

Seperti halnya di Kota Padang, Sumatera Barat, Cendana News merangkum ada empat kuliner tradisional yang masih eksis hingga sekarang, dengan harga yang tergolong murah.

Tapi, berbicara soal harga, jangan berpikir kalau harga murah rasa malah jatuh. Berbeda dengan kuliner tradisional yang ada di Padang. Harga yang terjangkau, bukan karena rasa yang kurang enak, melainkan proses memasaknya yang masih dilakukan secara tradisional, serta bahan atau bumbu yang digunakan, dan kemasannya, juga dilakukan secara tradisional.

Berbeda dengan makanan yang hadir di era kini, rata-rata makanan yang disajikan memililki kemasan yang terbilang bagus dan hal demikian membutuhkan biaya yang besar. Sementara makanan yang dilakukan secara tradisional, soal kemasannya bisa dicarikan di alam atau di kebun.

1. Kue Mangkuak

Di Sumatera Barat pada umumnya, ada kuliner yang dikenal dengan kue mangkuak (mangkuk). Nama kue mangkuak ini, karena cetakan dari kue ini terbuat dari mangkuk yakni tempurung. Karena kue mangkuak merupakan makanan jajanan tradisional, jadi untuk cetakan kuenya terbuat dari tempurung.

Soal rasa, jangan diragukan, karena kue mangkuak ini memiliki citra rasa yang tidak pernah berubah dari zaman dahulu hingga sekarang.

Di Padang, ada seorang perempuan paruh baya yang masih melakoni usaha kue mangkuak, yakni Mak Syamsibar.

Mak Syamsibar peracik kue mangkuak khas Minangkabau yang berdomisili di Aia Dingin Padang, Sabtu (30/11/2019)/Foto: M. Noli Hendra

Ia mengatakan, berbicara cita rasa asli kue mangkuak itu, terletak pada takaran rasa santan kelapa, dan adonannya. Santan kelapa pada kue mangkuak ini juga disebut oleh masyarakat setempat mangkuak badeta. Nah badeta yang dimaksud itu ialah santan kelapa yang mengental membaluti kue mangkuaknya.

Prosesnya itu, isikan dulu adonan gula merah yang diaduk dengan tepung, setelah itu disiram dengan santan kelapa yang mengental. Untuk memasaknya itu, tidak dibakar, dan tidak pula menggunakan oven. Tapi hanya perlu diuapkan menggunakan dandang atau juga bisa dengan kuali yang besar.

Menurutnya, letak rasa keaslian dari kue mangkuak adalah rasa santannya melekat. Santan kelapa kental yang dicampur dengan sedikit garam, membuat setiap gigitan kue mangkuak memiliki paduan rasa manis, sehingga menghasilkan rasa yang menggiurkan.

“Banyak pedagang yang juga menjual usaha kue mangkuak memiliki rasa yang bisa dikatakan jauh dari  rasa makanan khas Minangkabau. Dikatakannya kue mangkuak yang ada saat ini, tidak lagi menggunakan santan kelapa sebagai bahan utama, melainkan santan kelapa yang dicampur dengan susu. Belum lagi takaran adonan gula merah dengan tepung, juga terbilang asal-asalan,” sebutnya, Sabtu (30/11/2019).

Perbedaan kue mangkuak era dulu, kuenya terasa lembut dan  memberikan cita rasa yang enak. Sementara kue mangkuak era sekarang itu, rasa detanya tidak dominan, dan adonan gula merah juga terasa agak hambar. Alhasil, kue mangkuak yang demikian menimbulkan kejenuhan saat dimakan.

Soal harga tidaklah terlalu mahal. Untuk yang ingin mencicipi kue mangkuak super lezat ini, bisa mengeluarkan uang Rp2.000 untuk satu butir kue mangkuak. Ada dua rasa yang dibuat, pertama dari adonan gula merah, dan yang kedua dari adonan tapai.

Kue mangkuak ini bisa ditemukan langsung di warung-warung kopi dan juga di beberapa mini market.

2. Lapek Nagosari

Jajanan tradisional Minangkabau yang satu ini juga terbilang cukup populer di berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Rasanya yang singgah di lidah, membuat jajanan yang disebut Lapek Nagosari ini banyak disukai.

Jika bicara asal-usul adanya lapek nagosari di Minangkabau, hingga kini belum ada pihak yang bisa menjelaskan secara pasti. Namun, terlepas dari soal sejarah, meski tergolong makanan tradisional, lapek nagosari masih banyak diminati.

Jajanan tradisional Lapek Nagosari yang dibungkus dengan daun pisang dan memiliki rasa yang lembut serta kenyal. Kue ini bisa ditemukan di warung-warung kecil, Sabtu (30/11/2019)/Foto: M. Noli Hendra

Namun untuk membuat lapek nagosari tidak terlalu rumit. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat lapek nagosari, yakni tepung beras, tepung sagu, gram, gula pasir, daun pandan, daun pisang, dan santan kepala, serta pisang tua yang telah dipotong-potong.

Kembali lagi soal kemasannya, lapek nagosari akan dibungkus menggunakan daun pisang. Dalam proses pembungkusan yang menggunakan daun pisang, pada setiap bungkusan akan ada satu pisang yang telah dipotong-potong. Lalu, meletakkan potongan ukuran kecil daun pandan juga ditaburi di atas lapek nagosari.

“Bagi kami, lapek nagosari ini salah satu makanan tradisional yang sehat. Karena, dengan rasa dan teksturnya seperti agar-agar, mampu melancarkan BAB,” kata Debby penjual lapek di pasar Padang.

Debby mengakui, saat ini jajanan tradisional lapek nagosari cukup banyak diminati. Dengan harga per bungkus lapek nagosari Rp1.000, mampu terjual hingga 150 buah per hari, yang dijual di setiap warung– warung kopi.

Kue mangkuak ini bisa ditemukan langsung di warung-warung kopi dan juga di beberapa mini market.

3. Lamang Tapai

Untuk jajanan tradisional di Sumatera Barat, masing masing daerah memiliki rasa yang hampir sama. Lamang tapai memang paling mudah ditemui di momen puasa Ramadan, karena menjadi incaran masyarakat untuk berbuka puasa.

Resep untuk membuat lamang tapai Padang ini, tidaklah terlalu ribet. Namun proses pembuatannya saja yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Lalu bagaimanakah untuk resep lamang tapai Padang?

Kue Lamang Tapai yang sudah tersaji di atas piring, jajanan tradisional ini merupakan jajanan yang paling favorit saat di bulan Ramadan, Sabtu (30/11/2019)/Foto: M. Noli Hendra

Devi pedagang lamang tapai Padang, menjelaskan, bahan yang digunakan untuk membuat lamang tapai ialah beras ketan putih, santan dari kelapa tua, daun pandan, garam secukupnya, daun pisang.

Kedua, untuk bahan membuat tapai ketannya, seperti beras ketan merah, bongkah ragi, cabai keriting untuk proses fermentasi, cengkeh untuk pengharum tapai.

“Kalau bahan-bahannya sudah ada, sudah bisa untuk dilakukan proses memasak lamang tapai. Di sini kita melakukan banyak waktu, karena membutuhkan waktu yang cukup lama,” ujarnya.

Menurutnya, untuk memasak lamang ini, hal pertama yang dilakukan ialah cuci bersih beras ketan, campur dengan santan, lalu masukkan garam dan daun pandan. Selanjutnya bungkus beras ketan dengan daun pisang, masukkan ke dalam cetakan lontong, kukus hingga matang sekitar 30 menit.

“Nah sebelum disajikan, bakar lamang di atas bara api atau jika tidak ada teflon. Jika sudah kecoklatan, angkat dan dinginkan,” jelasnya.

Harga untuk lamang tapai ini cukup murah, untuk satu potong lamang dengan  panjang 15 cm hanya Rp10.000 dan sebungkus tapai ketan hitam Rp5.000. Hal ini juga yang membuat masyarakat di Padang, tidak bisa lepas dari lamang tapai dalam sajian berbuka.

Namun untuk di luar momen Ramadan, juga bisa ditemukan di pasar rakyat yang ada di setiap kelurahan atau desa.

Kue mangkuak ini bisa ditemukan langsung di warung-warung kopi dan juga di beberapa mini market.

Lihat juga...