hut

TP PKK Ajak Semua Pihak Berperan Atasi Persoalan Stunting

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

BALIKPAPAN — Tim Penggerak PKK diminta menjalankan perannya dalam menurunkan dan mengatasi persoalan stunting melalui 10 program pokok yang dimiliki, salah satunya program pangan.

Ketua TP PKK Provinsi Kalimantan Timur, Norbaiti Isran Noor mengingatkan TP PKK kabupaten dan kota untuk turut memperhatikan masalah stunting dengan melakukan pencegahan.

“Bagaimana kita mengolah makanan yang bahannya sederhana menjadi makanan yang beragam bergizi sehat dan aman. Sehingga tidak ada alasan bagi orang yang ekonominya bermasalah tidak bisa memberikan asupan gizi yang cukup untuk keluarganya,” ungkapnya di Balikpapan, Jumat (15/11/2019).

Selain itu, dalam menangani masalah stunting juga diperlukan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.

“Diperlukan koordinasi antar sektor dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat dalam menangani masalah gizi khususnya stunting,” sebutnya.

Sebagai informasi kasus tertinggi stunting berdasarkan penelitian prevalensi gizi Kementerian Kesehatan pada 2017 masih berada di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kaltim.

“Kita akan tetap bersama-sama berjuang untuk mengatasi stunting. Apalagi kalau PPU sudah jadi ibu kota negara, harus bersih dari stunting,” ujar Norbaiti.

Dia mengatakan saat ini program yang tengah berjalan adalah safari Gemarikan. Program tersebut kerja sama TP PKK Kaltim dengan Dinas Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Kesehatan RI.

“Dengan membudayakan konsumsi ikan sejak dini, kami percaya masalah kekurangan gizi pada balita dan anak-anak di Kaltim tidak akan terjadi lagi. Akan lebih baik lagi jika rutin menambahnya dengan asupan gizi yang lain,” imbuhnya.

Di provinsi Kaltim, balita dalam keadaan stunting tercatat ada 30,6 persen pada 2017. Dengan rincian kota Bontang sebanyak 32,4 persen, Kabupaten Kutai Timur terdapat 32,2 persen dan Kabupaten PPU sebanyak 31,9 persen.

Kabupaten Paser berada di urutan keempat dengan angka 31,8 persen, kelima kabupaten Kutai Barat sebanyak 31,5 persen, posisi enam Kabupaten Kutai Kartanegara sebesar 30,9 persen.

Empat daerah lainnya yang memiliki anak stunting pada 2017 adalah Kabupaten Berau 30,5 persen, Kabupaten Mahakam Ulu 30,4 persen, Kota Balikpapan tercatat 30,3 persen, dan Kota Samarinda paling sedikit tercatat 28,8 persen.

Lihat juga...