hut

Tutut Soeharto Evaluasi Kinerja TMII

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Ketua Umum Yayasan Harapan Kita (YHK), Siti Hardijanti Rukmana, Tutut Soeharto, menyapa hangat keluarga besar Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada Rapat Kerja Penyusunan Program dan Pendapatan serta Belanja Tahun 2020, di ruang Sasono Adighuno TMII, Jakarta, Kamis (21/11).

“Apa kabar semuanya, baik? Ini orang lama atau baru? Lama semuanya? Tapi, kok kayanya diam semua, ngantuk ya?,”seloroh Tutut Soeharto, sambil tertawa.

Semua yang hadir sontak membalas, “Orang lama, Bu,” jawab mereka kompak. Suasana pun terlihat hangat menghiasi ruangan Sasono Adighuno TMII, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Putri sulung Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto ini mengaku sangat bersyukur bisa hadir pada Raker TMII. “Alhamdulillah, puji syukur panjatkan kepada Allah SWT, kita dapat bertemu dan bisa mengikuti Raker TMII ini,” ucap Tutut Soeharto.

Ketua Umum Yayasan Harapan Kita (YHK), Siti Hardijanti Rukmana, Tutut Soeharto, dalam sambutan Rapat Kerja Penyusunan Program dan Rencana Pendapatan dan Belanja Tahun 2020 TMII di Sasono Adhiguno TMII, Jakarta, Kamis (21/11/2019). -Foto: Sri Sugiarti

Putri Cendana ini kemudian mengatakan, bahwa dalam pengembangan TMII, tentu berbagai program kegiatan dihadirkan yang semuanya telah disusun dalam raker tahun lalu. Tentunya, program kegiatan itu mengalami kendala atau tantangan yang dihadapi, sesuai dengan yang disampaikan Direktur Utama TMII, Tanribali Lamo.

Yaitu, terkait target jumlah pengunjung 2019 sebanyak 6 juta lebih. Kemudian dalam perjalanannya, target tersebut menurun menjadi sekitar 5,8 juta. Hal ini karena ada agenda politik seperti pemilu, pilpres dan lainnya, sehingga pengunjung menjadi ‘takut’ datang ke TMII.

“Ini bukan kesalahan TMII, tapi memang ini keadaan yang memaksa untuk menurun jumlah pengunjungnya. Tentunya ini juga menjadi pekerjaan rumah dan tantangan untuk tahun mendatang, berusaha mencapai target dan lebih meningkat dari tahun sebelumnya,” ujarnya.

Tutut Soeharto berharap, kondisi itu tidak menjadi alasan,  tetapi harus dijadikan pemicu untuk lebih baik lagi ke depannya. “Tetap harus buat kita dipecut lebih baik lagi, kalau bisa lebih banyak pengunjung dari tahun lalu. Insyaallah,” ucapnya.

Di bidang program kegiatan TMII, pada 2018 ada sebanyak 1.255 kegiatan, sedangkan di 2019 ini tercatat  hanya157 acara. Berarti program kegiatan ini menurun juga dan penyebabnya sama, karena ada agenda politik di Indonesia secara nasional.

“Nah, itu kita maklumi, tapi jangan ini terus-terusan jadi alasan, ya? Tahun depan kita harus lebih banyak lagi acara yang memicu masyarakat lebih banyak lagi ke TMII,” tukasnya.

Ada pun di bidang anggaran 2019, pendapatannya adalah sebesar Rp150 miliar sekian, sedangkan pengeluaran tercatat sebesar Rp154 miliar sekian.

Sehingga, Tutut Soeharto menilai dalam hal ini perlu adanya upaya penghematan atau efisiensi anggaran untuk tahun berikutnya. Yakni, yang harusnya pengeluaran lebih kecil dari pendapatan.

“Dapat kita maklumi, bahwa besarnya pengeluaran disebabkan usia TMII ke-44. Dewasa nggak, tua juga nggak. Tapi ya, 44 tahun itu tua dari usia bangunannya,” ujarnya.

Menurutnya, secara fisik banyak kerusakan yang perlu direnovasi atau diadakan perbaikan-perbaikan dalam pengembangan TMII ini. Namun, menurutnya dalam melakukan seluruh pekerjaan perbaikan perlu memperhatikan skala prioritas, demi menjaga keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran.

“Jadi semua harus disesuaikan atau diklopkan, jangan sampai pengeluaran lebih besar dari pendapatan,” ujarnya.

Untuk merenovasi TMII, istri Indra Rukmana ini mengusulkan Program Analisisa, Teknik dan Nilai ( PATEN). Ia menjelaskan, PATEN adalah sebuah program yang menganalisa teknik dan nilai sebuah proyek untuk mendapat efisiensi. Sehingga, biaya proyek tersebut dapat ditekan, tanpa mengubah peruntukan dan tanpa mengurangi kekuatan dari proyek tersebut.

“Saya juga dulu di jalan tol menerapkan PATEN ini. Alhamdulillah, kami yang bekerja di jalan tol pun dapat menyelesaikan tugas-tugas kami satu tahun lebih cepat dari yang telah ditentukan,” ujarnya.

Bahkan, urusan modal juga dapat diatasi dengan baik sesuai struktur infrastruktur jalan tersebut dibangun dengan kualitas yang bagus.

“Ahamdulillah, modalnya juga bisa turun, karena kan uang yang satu tahun ini bisa berkurang. Akhirnya percepatan pembuatan, sehingga modalnya bisa ditekan banyak,” imbuhnya.

Tutut Soeharto berharap, PATEN ini dapat diterapkan di TMII untuk semua program, supaya efisiensi bisa dikembangkan.

Pada kesempatan ini, Tutut Soeharto juga berharap Raker ini dapat menyusun rencana program kerja serta rencana pendapatan dan belanja 2020,  yang dilandasi semangat efisiensi dan produktivitas, demi tercapainya sasaran yang diharapkan.

Lihat juga...