hut

Usaha Reparasi Sofa di Bali, Laris

Editor: Koko Triarko

DENPASAR – Bisnis reparasi sofa kursi di Bali, khususnya di Denpasar terbilang cukup menjanjikan. Hampi setiap bulan, pelaku usaha jasa perbaikan sofa di Pulau Dewata ini  mengaku penuh pesanan.

Edi, seorang pekerja toko reparasi sofa di jalan Kebak Sari, Denpasar Barat, mengatakan, saban bulan tempat kerjanya ini selalu ramai pesanan reparasi sofa yang datang dari masyarakat. Rata-rata ada 7-8 shet pesanan sofa yang diterima tempat kerjanya.

“Ini saja terkadang kami harus lembur untuk menyelesaikan pesanan,” ujarnya, saat ditemui di Denpasar, Selasa, (26/11/2019).

Dikatakan, untuk bisa menyelesaikan satu shet sofa dibutuhkan setidaknya empat hingga satu minggu. Hal tersebut tergantung motif sofa yang dikerjakan. Hampir dinyatakan tidak ada kendala dalam menjalankan bisnis resparasi sofa yang sudah dijalani oleh pemiliknya kurang lebih 20 tahunan ini. Karena, selain menerima pesanan dari orang pribadi, pihaknya juga melayani pesanan reparasi dari hotel maupun vila yang ada di Bali.

Bahan baku yang diperlukan untuk menyelesaikan reparasi sofa ini seperti spon, karet ban bekas yang sudah dipotong memanjang, paku serta tripleks untuk dasar tapakan. Untuk pelapis kain sofa tergantung jenis sofa yang akan direparasi. Biasanya, yang paling sering digunakan adalah kain dengan motif berbulu halus.

Disebutkan, untuk bahan baku, khususnya spons serta motif kain sofa dapat dengan mudah ditemui di Denpasar. Selain itu, harganya pun relatif murah.

“Untuk ongkos pengerjaan satu shet reparasi sofa, mulai dari harga Rp5 juta hingga puluhan juta rupiah. Tergantung dari jenis serta motif sofa yang dipakai serta kesulitannya,” tegasnya.

Selain melayani pesanan reparasi sofa dari Bali, tempat ia bekerja juga terkadang menerima pesanan reparasi dari Lombok, NTB. Hal tersebut karena tempatnya bekerja memang mengedepankan kualitas dari hasil reparasi sofa itu sendiri.

“Bahan-bahan kami semuanya berkualitas,” imbuhnya.

Sofa, kursi, meja, lemari, dan spring bed atau dipan, adalah beberapa furniture wajib yang bisa ditemukan di hampir setiap rumah. Banyak kalangan yang lebih memilih melakukan reparasi daripada harus membeli furniture baru, dengan alasan ongkos lebih murah.

Seperti yang diungkapkan oleh Yulia Astutik, salah seorang pelanggan di toko reparasi tempat Adi bekerja. Ia menjelaskan, selain karena biaya murah, reparasi sofa miliknya tersebut karena faktor tidak ingin mengganti sofa dengan motif yang baru. Hal tersebut karena sofa yang baru dijual di toko-toko kebanyakan saat ini memiliki kualitas di bawah sofa yang lama miliknya.

“Itu menurut saya, sih. Karena kualitas sofa milik saya terutama kayu sangat kuat, sehingga enggan untuk mengganti ke sofa baru. Mending direparasi saja,” ungkapnya.

Lihat juga...