Wabup Flotim Marahi Manajemen RSU Larantuka

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Setelah menerima pengaduan langsung dari pasien dan keluarga pasien di RSU dr. Hendrikus Fernandes Larantuka, tentang ketiadaan obat, Wakil Bupati Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Agustinus Payong Boli, langsung sidak ke gudang farmasi rumah sakit tersebut.

Wabup berdialog langsung dengan seluruh manajemen dan memerintahkan Direktur RSU Larantuka untuk mengumpulkan semua kepala bidang, ketua kode etik dokter, kepala perawat dan lainnya untuk berdialog langsung, guna mencari akar masalah ketiadaan obat dan lainnya.

Wabup Agus Boli menanyai satu per satu masalah ketiadaan obat mulai dari PPK Adi Hekin, soal kapan PPK menyiapkan dokumen PPK untuk diserahkan ke ULP untuk dilelang, kapan tanda tangan kontrak, dan bagaimana permintaan obat dalam tahun berjalan untuk kebutuhan di rumah sakit.

Penjabat Pembuat Komitmen (PPK), Adi Hekin, menjelaskan, dokumen PPK baru dikirim pada Juli atau Agustus 2019 ke ULP untuk dilelang, dan setelah ada pemenang dilalukan tanda tangan kontrak. “Permintaan obat di rekanan distributor kadang pengiriman volume obatnya tidak sesuai,” ungkapnya.

Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, SH., Jumat (8/11/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Adi mencontohkan, minta 30 persen kebutuhan obat ternyata dikirim hanya 10 atau 20 persen. Bahkan,  kadang pengirimannya terlambat sampai 3 bulan.

Semua ini, katanya, terjadi karena aturan pemerintah pusat menghendaki pengadaan obat lewat E-Purchasing dan E-Catalog, sehingga rumah sakit umum tidak bebas dalam pengadaan obat.

Mendengar penjelasan itu, Wabup Agus Boli langsung marah dan mengatakan, saudara PPK kenapa tidak siapkan dokumen untuk dilelang dari Januari-Maret tahun berjalan?

“Pagu APBD kan ditetapkan November tahun sebelumnya, dan walaupun sambil menunggu DPA, saudara bisa melakukan penyusunan dokumen secara offline, karena pagu indikatifnya saudara sudah tahu,” sergahnya.

Masa, kata Agus, baru dikirim ke ULP bulan Juli atau Agustus? Kalau lelangnya ada masalah, maka bisa memakan waktu satu bulan baru tandatangan kontrak, sehingga bisa mencapai bulan Oktober.

“Belum lagi permintaan obat di distributor selalu terlambat pengirimannya, sedangkan stok opname obat di rumah sakit setiap tahunnya over paling hanya sampai bulan Maret atau Juni,” kata Wabup.

Agus kemudian memberi empat solusi jitu untuk perbaikan ke depan. Pertama, perencanaan biaya pengadaan obat setiap tahun harus over stok sampai 18 bulan, yakni sampai bulan Juni tahun berikutnya.

Dengan begitu, jelasnya, ketika pengadaan obat terlambat di tahun depan pun rumah sakit masih punya stok obat tahun sebelumnya.

Ke dua, persiapan dokumen PPK khusus pelelangan obat rumah sakit juga nanti dinas Kesehatan paling lama bulan Maret tahun berjalan sudah dilelang di ULP.

“Poin ke tiga, permintaan obat di rekanan distributor oleh PPK harus over stok, dan tegas kepada distributor jika masih saja kirim di bawah volume permintaan dan terlambat, di-PHK saja,” tegasnya.

Bila rekanan mau gugat, kata Agus, silakan saja karena obat ini kaitan dengan nyawa manusia.

Poin ke empat, perlu ada rekening khusus di Rumah Sakit Umum Larantuka, untuk membayar ganti rugi pembelian obat di apotik luar oleh pasien.

Diketahui, setian tahun  diperkirakan obat yang dibeli pasien di apotik luar mencapai Rp200-an juta, dan selama ini tidak diberi ganti rugi. Ini sifatnya insidentil.

“Perlu ada apotik pelengkap di rumah sakit mitra resmi untuk antisipasi ketiadaan obat tertentu. Jangka panjang RSU ini diusahakan menjadi BLUD,” ungkapnya.

Dengan status BLUD ,terang Agus, rumah sakit bisa mandiri dan belanja obat tidak lagi terikat pada mekanisme aturan pengadaan barang jasa pemerintah yang sulit saat ini.

Pasien, tegasnya, harus dilayani dengan hati. Kasihan mereka datang dari kampung jauh-jauh dengan segala kesusahannya, lalu disuruh cari obat di luar dengan uang sendiri.

“Rumah sakit itu harus membuat orang sehat jasmani dan rohani. Jangan sampai keluar dari rumah sakit jasmaninya sembuh, tapi rohaninya sakit karena pikiran utang dan lainnya,” tuturnya.

Lihat juga...