hut

Warga Balikpapan Buat Kopi dari Daun Kelor

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

BALIKPAPAN — Masyarakat Indonesia pada umumnya mengenal daun kelor memiliki banyak manfaat. Baik bagi kesehatan, maupun manjur dalam pengobatan herbal. Biasanya, daun yang punya nama latin Moringa Oliefera itu banyak dimanfaatkan untuk bayi dan anak-anak.

Badan kesehatan dunia (WHO) misalnya, menobatkan tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia ini sebagai ‘pohon ajaib’. Organisasi itu telah melakukan penelitian selama 40 tahun dan menyatakan “pohon kelor telah berjasa sebagai penambah kesehatan berharga murah di negara-negara miskin”.

Sadar khasiatnya yang baik bagi kesehatan, seorang warga Balikpapan meramu menjadi minuman yang disukai banyak orang, kopi.

Tinggal (50), warga Balikpapan, Kalimantan Timur mengolah dan mengemas daun kelor menjadi bubuk kopi. Usaha itu diawali dari keinginan memadukan minuman menyehatkan dengan kegemaran masyarakat minum kopi.

“Memang idenya dari sana. Daun kelor itu banyak manfaatnya, tapi orang kita nggak suka repot bikin selain buat sayur. Saya coba jadikan kopi, supaya banyak yang dapat manfaatnya,” cerita Tinggal yang gencar memasarkan produknya di berbagai kesempatan. Kopi Daun Kelor itu dijual seharga Rp30 ribu untuk tiap botol kemasan.

Dia senang karena dibantu Pemerintah Kota Balikpapan mengenalkan minuman berkhasiat itu. Contohnya, pria yang sering disapa Pak Tinggal itu, dilibatkan dalam ajang pameran produk lokal, pelatihan, maupun promosi lainnya. Cara itu cukup membantu mengenalkan kopi daun kelor produksinya pada masyarakat.

Usaha yang dirintis sejak 2014 itu diproduksi dari rumahnya. Dalam setiap kali produksi, ia bisa menghasilkan 600 botol.

“Kendalanya di bahan baku. Saat ini saya baru bisa produksi 4 hari sekali,” kata pria yang tercatat sebagai pegawai Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata itu, Selasa (5/11/2019).

Selain karena kendala bahan baku, kesibukannya sebagai abdi negara membuat usaha kopi daun kelor buatannya belum dapat ‘berlari kencang’. “Saat ini, semua bahan baku masih dari kebun sendiri. Belum ada masyarakat yang mau menanam,” kata dia.

Bahan baku untuk produksi daun kelor dia penuhi dari kebun sendiri seluas 300 meter persegi. Dengan kondisi ini, Tinggal tak berharap banyak produksinya bisa bertambah.

Lihat juga...