‘World Zakat Forum’ Lahirkan Tujuh Resolusi

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Konferensi World Zakat Forum (WZF) 2019, melahirkan tujuh resolusi untuk mengembangkan zakat global dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital.

Sekretaris Jenderal WZF, Bambang Sudibyo, mengatakan, komitmen zakat harus memberi perhatian tidak hanya pada bagaimana zakat dikumpulkan dan didistribusikan. Tetapi juga bagaimana zakat dikelola secara profesional, efektif, efisien dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

“Gerakan zakat global harus memperhatikan peran teknologi digital dalam pengelolaan zakat, karena dunia muslim sangat luas, dari Afrika hingga Asia Tenggara yang mencakup enam benua” kata Bambang, saat menutup Konferensi WZF 2019 di Bandung, Jawa Barat, sebagaimana rilisnya yang diterima Cendana News, Rabu (6/11/2019) petang.

Menurutnya, WZF sebagai platform gerakan zakat internasional memiliki peran untuk sinergi para pemangku kepentingan zakat global. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan mengurangi kemiskinan.

“Konferensi ini juga menandai meningkatnya peran zakat untuk menyelesaikan masalah kemiskinan dan ketidaksetaraan global,” kata Bambang, saat menutup acara.

Selain itu, juga mengusulkan standar secara khusus untuk mengukur dampak zakat terhadap kesejahteraan mustahik atau penerima manfaat zakat.

Untuk mengukur dampak pengembangan zakat global, diwujudkan dalam tujuh revolusi yang dikukuhkan konferensi WZF 2019.

Pertama, sebut Bambang, adalah tumbuhnya peran teknologi digital harus dioptimalkan untuk kepentingan pengembangan zakat global.

“Terutama dalam meningkatkan kesadaran umat Islam dalam memenuhi kewajiban zakat mereka,” kata Bambang.

Ke dua, penggunaan platform digital dalam manajemen zakat harus ditingkatkan. WZF mengajak semua anggota WZF untuk mengadopsi teknologi saat ini sebagai bagian dari manajemen zakat mereka.

“Terutama untuk promosi, perhitungan, pengumpulan, dan distribusi dana zakat di masing-masing anggota negara WZF,” katanya.

Ke tiga, adalah relevansi teknologi ‘blockchain’ dengan manajemen zakat telah banyak dibahas. “Karenanya, kami menyarankan semua anggota WZF untuk mengeksplorasi lebih lanjut potensi pengelolaan zakat dengan teknologi blockchain,” ujarnya.

Ada pun resolusi ke empat, pemanfaatan teknologi digital menimbulkan risiko spesifik. Kehadiran Petunjuk Teknis (Technical Notes) tentang Manajemen Risiko Organisasi Zakat diharapkan memainkan peran penting sebagai pedoman untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi dari praktik manajemen zakat, termasuk penggunaan teknologi digital.

Maka, kata Bambang, semua negara anggota WZF didorong untuk mengadopsi petunjuk teknis ini.

Resolusi ke lima, semua anggota WZF didorong untuk mengadopsi Petunjuk Teknis tentang Good Amil Governance sebagaimana diwujudkan dalam ‘Zakat Core Principle’ untuk meningkatkan kualitas pengelolaan zakat.

Ke enam, WZF mengajak semua anggota untuk memperkuat kolaborasi dengan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Children’s Fund/UNICEF) dan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), sebagaimana telah disepakati dalam MoU untuk memenuhi persyaratan Sustainable Development Goals (SDGs).

Resolusi ke tujuh, WZF menunjukkan perhatiannya atas keterlibatan beberapa lembaga multilateral dalam pengumpulan dan distribusi zakat.

“Khususnya yang terkait dengan kepatuhan terhadap syariah dan peraturan nasional,” ujar Bambang.

Resolusi ini juga memutuskan untuk mengadakan Konferensi Internasional WZF ke-9, dan Pertemuan Tahunan WZF 2020 di Selangor, Malaysia, dan Lembaga Zakat Selangor sebagai penyelenggara utamanya.

Agenda untuk Pertemuan Tahunan 2020 akan mencakup diskusi tentang Petunjuk Teknis Pelaporan Keuangan dan Audit Eksternal Zakat, Petunjuk Teknis tentang Pengungkapan dan Transparansi Zakat, dan diskusi tentang Indeks Kesejahteraan Zakat.

“Diputuskan untuk mengadakan konferensi internasional WZF ke-10 dan Pertemuan Tahunan 2021 di kota London, Inggris, yang akan  diselenggarakan oleh National Zakat Foundation (NZF) Worldwide,” pungkasnya.

Lihat juga...