hut

Yogyakarta Ingatkan Warga untuk Intensifkan Pemberantasan Sarang Nyamuk

Ilustrasi nyamuk Aedes Aegepty - Foto Istimewa/Dok CDN

YOGYAKARTA – Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengingatkan warga di daerahnya untuk mengintensifkan upaya pemberantasan sarang nyamuk.

Hal itu menjadi upaya menekan potensi penularan demam berdarah, saat memasuki musim pancaroba. “Tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk dan biasanya terlupakan untuk dibersihkan di antaranya, ban bekas atau sampah botol dan gelas plastik hingga ember. Jika dibiarkan terbuka dan menampung air hujan, maka akan menjadi sarang nyamuk,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Yudiria Amelia, Sabtu (16/11/2019).

Menurutnya, pembersihkan lingkungan sekaligus pemberantasan sarang nyamuk dapat dilakukan melalui kegiatan Jumat Bersih. Selain melakukan pembersihan lingkungan dan sarang nyamuk, warga juga diminta mengintensifkan kembali gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik).

Berdasarkan data dalam beberapa tahun terakhir, terjadi kecenderungan peningkatan kasus demam berdarah saat memasuki musim pancaroba. Kasusnya terus meningkat saat musim hujan semakin deras, dan baru berangsur-angsur turun saat memasuki musim kemarau.

Hingga awal November, di Kota Yogyakarta tercatat sudah ada 455 kasus demam berdarah. Jumlahnya meningkat dibanding total kasus DB pada 2018 yang hanya ada 413 kasus. “Masyarakat perlu memahami gejala awal demam berdarah dengue  (DBD) Jika demam tinggi, maka harus segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat. Datang ke puskesmas terdekat dan yang paling penting adalah menghitung hari panas,” tandasnya.

Penghitungan hari panas yang tepat, sangat berpengaruh terhadap diagnosa dokter, dan proses penyembuhan penyakit tersebut. Satu hari panas dihitung dari mulai awal terjadinya demam hingga 24 jam kemudian. Selain demam berdarah, penyakit lain yang perlu diwaspadai saat memasuki musim pancaroba dan musim hujan adalah leptospirosis.

Penyakit yang ditularkan melalui kencing tikus yang memapar luka terbuka di bagian tubuh. “Biasanya warga tidak menyadari gejala penyakit ini karena hampir sama seperti demam biasa. Warga bisa tertular saat membersihkan lingkungan,” tandasnya.

Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk menggunakan alat pelindung diri, saat melakukan pembersihan lingkungan seperti sarung tangan dan alas kaki. “Meskipun luka hanya kecil, tetapi bakteri leptospira bisa masuk ke tubuh,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...