hut

Yohanes, Warga Dusun Kepiketik – Sikka Terbaring Lemah Sejak Lahir

Editor: Koko Triarko

MAUMERE –  Saat sedang meliput kondisi sekolah SDN Kepiketik, di Desa Persiapan Mahe Kelan, Desa Egon, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, sejumlah awak media diminta meliput kondisi seorang anak cacat di kampung ini.

Bersama beberapa rekan wartawan, Cendana News pun mendatangi rumah seorang lelaki yang mengalami kelumpuhan sejak lahir. Saat ditemui di bangunan berdinding bambu belah, lelaki tersebut terlihat berbaring lemah di bale-bale bambu.

“Kondisinya sangat memprihatinkan, setiap hari dia hanya tidur saja. Dia juga jarang buang air besar, sehingga perlu mendapatkan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit,” kata Susana Sina, Ketua RT 01, RW 01, Dusun Kepiketik, Desa Egon, Kamis (7/11/2019).

Susana mengatakan, selama ini anak lelaki ini tinggal bersama kedua orang tuanya, namun dibuatkan sebuah rumah kecil untuk ditempati sendiri di samping rumah orang tuanya.

Yohanes Soge (22), warga Dusun Kepiketik, Desa Persiapan Mahe Kelan, Desa Egon, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang mengalami lumpuh sejak lahir, saat ditemui pada Kamis (7/11/2019). -Foto: Ebed de Rosary

“Kami malu, sehingga sampai saat ini belum melaporkan ke pemerintah desa. Kami mengharapkan agar setelah diberitakan bisa ada yang memberikan bantuan, baik bahan makanan, pemeriksaan kesehatan dan kursi roda,” ungkapnya.

Saat didatangi ke rumahnya, Yohanes Soge (22), nama anak lelaki tersebut, hanya menatap penuh tanya. Dirinya pun terlihat sulit berbicara dan hanya tiduran di bale-bale bambu yang setiap hari ditempatinya sendirian.

“Saat baru lahir, setelah menangis dia langsung mengalami kejang-kejang. Kondisi kaki dan tangan pun sejak itu mulai sulit digerakkan,” jelas Teresia Sabe (48), ibu dari Yohanes, menahan sedih.

Teresia bersama suaminya, Laurensius Moa (47), mengaku pernah membawa anak ke duanya ini berobat di rumah sakit TC Hillers Maumere, tetapi tidak kunjung sembuh.

Dirinya mengaku memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), tetapi sampai saat ini belum membawa kembali anaknya ke rumah sakit untuk diperiksa dokter, karena medan jalan sulit untuk membawanya menggunakan sepeda motor.

“Kami baru beberapa bulan tinggal di Dusun Kepiketik, sebelumnya tinggal di kampung lama di dalam kawasan hutan lindung Egon Ilimedo,” tuturnya.

Yohanes, kata Teresia, merupakan anak ke dua. Sedangkan anak lelaki pertamanya sudah bekerja di Kalimantan. Dia melahirkan 7 orang anak, namun 5 anak lainnya meninggal dunia.

“Setiap hari dia hanya tidur di bale-bale saja. Makan dan minum kami antarkan dan dia bisa makan sendiri menggunakan sebelah tangan, namun harus perlahan-lahan,” terangnya.

Teresia berharap, agar pemerintah bisa membantu membawa anaknya berobat ke rumah sakit dengan menyediakan mobil. Dia  juga meminta bantuan kursi roda untuk anaknya.

Saat ditemui, Yohanes terlihat tidur-tiduran saja di bale-bale bambu di sebuah bangunan beratap seng berukuran sekitar 2 x 3 meter persegi, persis di sebelah selatan rumah orang tuanya.

Dirinya hanya mengenakan kain tenun sebagai selimut. Sebuah kain tenun lainnya diletakkan didekatnya. Di samping tempatnya tidur, terlihat sebuah piring plastik dan gelas.

Ada juga tumpukan batu yang ditaruh di samping dirinya berbaring.

Yohanes meminta batu tersebut agar dirinya bisa melempar ayam yang lewat di sekitar tempatnya berbaring, agar bisa dimasak untuk dikonsumsinya.

Lihat juga...