63 Warga Sikka Tertular HIV dan AIDS

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Kasus HIV dan AIDS di kabupaten Sikka, setiap tahun terus mengalami peningkatan, sehingga dibutuhkan penanganan khusus untuk mencegahnya.

“Sejak Januari hingga Oktober 2019 ini, sudah 63 warga kabupaten Sikka yang tertular HIV dan AIDS. Jumlah ini sama dengan kasus yang terjadi di 2018,” ungkap Sekretaris Komisi Penangulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Yohanes Siga, Jumat (6/12/2019).

Yan, sapaannya, yang ditemui di Kantor bupati Sikka menjelaskan, dari jumlah tersebut sebanyak 17 orang tertular HIV, sementara 46 lainnya mengidap AIDS.

Jumlah warga yang meninggal dunia hingga Oktober berjumlah 7 orang. Jumlah ini sama dengan yang terjadi pada 2018.

Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yohanes Siga, saat ditemui di Kantor Bupati Sikka, Jumat (6/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

“Kalau penderita AIDS 2018 jumlahnya lebih banyak, yakni 51 orang, sementara HIV hanya 12 orang. Jumlah kasus AIDS tertinggi terjadi pada 2017, di mana ada 62 orang terkena AIDS,” terangnya.

Pada 2019, terdapat 40 penderita HIV dan AIDS berjenis kelamin laki-laki, sementara 23 lainnya perempuan. Jumlah korban yang meninggal dunia akibat penyakit HIV dan AIDS sejak 2003 sebanyak 196 orang.

“Yang paling mengejutkan jumlah penderita terbanyak adalah ibu rumah tangga 194 orang, disusul wiraswasta 128 orang. Ibu rumah tangga kebanyakan tertular dari suaminya yang sebelumnya sudah tertular virus ini,” ungkapnya.

KPA Sikka, kata Yan, terus melakukan sosialisasi hingga ke pelosok desa, termasuk mengimbau masyarakat untuk memeriksakan darahnya ke laboratorium VCT di Puskesmas maupun RS TC Hillers Maumere.

Menurutnya, di Kabupaten Sikka paling banyak terinfeksi warga yang berumur 25 sampai 49 tahun sebanyak 75 persen, disusul dengan umur 20 sampai 24 tahun sebanyak 14 persen.

“Tentunya kami tidak bisa sendirian, sehingga selalu mengajak tokoh agama dan warga melalui wadah Warga Peduli AIDS (WPA) untuk melakukan sosialisasi mengenai HIV dan AIDS kepada masyarakat,” tuturnya.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Sikka, Petrus Herlemus, mengatakan, di kabupaten Sikka terdapat tiga penyakit yang menjadi prioritas untuk diperangi, yakni Malaria, Hepatitis B serta HIV dan AIDS.

Pet, sapaannya menyebutkan, selain menjadi tugas KPA, penyakit HIV dan AIDS juga menjadi konsen Dinas Kesehatan, mengingat kasusnya masih tinggi dari tahun ke tahun serta menyebabkan korban jiwa.

“Harusnya, KPA Sikka membuka pos pemeriksaan kesehatan di pelabuhan Laurens Say Maumere, agar setiap penumpang yang datang diperiksa kesehatannya. Ini untuk mencegah menularnya penyakit ini,” harapnya.

Menurut Pet, banyak kasus HIV dan AIDS yang penularannya dilakukan oleh warga yang merantau di luar daerah yang tidak mengetahui dirinya sudah tertular penyakit ini.

“Ada suami yang sudah tertular HIV dan AIDS di tanah rantau dan sekembalinya ke kampung dia menularkan virus tersebut kepada istrinya. Maka, banyak ibu rumah tangga yang menderita HIV dan AIDS,” pungkasnya.

Lihat juga...