Air Tanah Turun Saat Kemarau, Warga Lamsel Membuat Sumur Bor

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Penurunan permukaan air tanah selama musim kemarau mengakibatkan sejumlah sumur gali di Lampung Selatan (Lamsel) mengalami penyusutan air.

Ahmad, warga Dusun Merut, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni menyebut kemarau jadi faktor penyusutan air permukaan. Selain kemarau, penebangan sejumlah pohon di daerah aliran sungai (DAS) Way Ulu Badak ikut menyumbang penyusutan air permukaan.

Sumur Mojang, salah satu sumber air bersih dimanfaatkan oleh warga untuk pemenuhan air selama kemarau. Sebagian warga yang memiliki modal memilih membuat sumur bor dengan mengeluarkan uang Rp7 juta hingga Rp10 juta.

Ahmad menyebut penurunan air pada sejumlah sumur gali pada tahun 2019 mencapai titik kritis. Sebab pada musim kemarau sebelumnya sejumlah sumur gali masih bisa digunakan.

Penggunaan sumur Mojang menurut Ahmad masih bisa dilakukan karena sumur berada di dekat sungai Way Ulu Badak. Sejumlah pohon yang dipertahankan oleh warga menjadi penahan laju penyusutan air.

Meski sungai mulai kering sejumlah warga membuat sumur gali di tepi sungai untuk mendapatkan air. Sumur gali yang semula ditimba dengan kedalaman 5 meter menyusut hingga 9 meter.

“Air semakin menyusut sehingga proses menimba harus menunggu air sumur kembali penuh, mata air yang semula debitnya tinggi mulai menurun meski air masih bisa ditimba untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap Ahmad saat ditemui Cendana News, Rabu (4/12/2019).

Penurunan air permukaan pada sejumlah sumur disebut Ahmad merata di sejumlah desa. Pada wilayah Desa Kelawi, Desa Hatta sebagian sumur bahkan sudah tidak bisa ditimba kala kemarau.

Warga memilih membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari selama kemarau. Air pada sumur gali menurutnya akan kembali normal saat penghujan imbas sejumlah bukit yang tidak memiliki pohon penghijauan.

Sebagian perbukitan di wilayah Desa Hatta, Kelawi, Bakauheni menurutnya mengalami dampak kemarau. Imbas kebakaran lahan sejumlah pohon yang berfungsi sebagai peresap air mengalami kekeringan.

Ahmad juga menyebut pemilik lahan selama kemarau memilih melakukan penebangan pohon untuk persiapan penanaman jagung. Berkurangnya pohon yang bisa meresapkan air membuat sejumlah sumur kering.

“Pada wilayah Desa Bakauheni bantuan sumur bor diberikan oleh Kementerian ESDM untuk membantu warga memenuhi air bersih,” cetus Ahmad.

Penurunan air permukaan saat kemarau juga dialami warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan. Warna, pemilik sumur gali menyebut dengan kedalaman sekitar 10 meter sumur miliknya sudah tidak mengeluarkan air saat kemarau.

Ia memilih menggunakan jasa pembuatan sumur bor dengan biaya Rp8 juta. Air baru bisa diperoleh setelah pengeboran dengan kedalaman mencapai 25 meter.

“Sumur gali selama kemarau mengering, sejumlah pohon peresap air yang berkurang membuat air semakin dalam,” tegas Warna.

Pada sejumlah titik salah satunya di rumah milik warga bernama Rita, kedalaman air mencapai 50 meter. Sunarjo, pekerja jasa sumur bor asal Desa Sukabakti Kecamatan Palas menyebut kemarau berimbas sumber air bersih semakin turun.

Sunarjo (kiri) pekerja pembuatan sumur bor menyiapkan air untuk proses pengeboran sumur milik warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Rabu (4/12/2019) – Foto: Henk Widi

Setiap titik disebutnya memiliki kedalaman sumber air bersih berbeda. Sebab jalur air dalam rata-rata mencapai kedalaman 25 meter hingga 50 meter.

Pada sejumlah wilayah dengan kondisi sumur gali menyusut, kedalaman sumur bor bisa mencapai 100 meter. Kontur tanah dengan bebatuan, pasir dan padas membuat proses pengeboran bisa berlangsung lama.

Normalnya dengan kontur tanah minim batu ia bisa mendapatkan air bersih setelah dibor pada kedalaman 50 meter. Menggunakan pipa setebal 2 inchi air yang dihasilkan cukup bersih.

Penggunaan sumur bor disebut Agus salah satu pekerja lain mulai banyak  dipilih saat kemarau. Penurunan permukaan air tanah menurut Agus mulai terjadi di sejumlah kecamatan yang pernah didatangi.

Agus, pekerja pembuatan sumur bor menunggu alat bor menembus kedalaman tanah hingga 30 meter di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Rabu (4/12/2019) – Foto: Henk Widi

Pemilik yang sudah memiliki sumur gali dan tidak bisa ditimba memilih membuat sumur bor. Saat penghujan sumur gali disebutnya kembali bisa digunakan karena resapan air hujan mulai mengisi pori-pori mata air.

Lihat juga...