Akademisi: Petani Indonesia tidak Bisa Mandiri

Editor: Koko Triarko

MALANG – Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Univeritas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Rinikso Kartono, M.Si., mengatakan saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan nasionalisme yang dipahami sebagai reaksi sebuah bangsa atas penindasan kolonialisme.

“Saya hari ini bisa dikatakan tidak nasionalis. Karena saya sering mencari onderdil mobil di Alibaba, yang itu notabene dari Tiongkok.  Bayangkan, kalau semua kita beli di Alibaba, tapi tidak dibarengi dengan kebijakan ekonomi kreatif, maka ekonomi kita akan habis. Akan terjadi kemiskinan karena ekonomi kita diisap,” ujarnya, saat memberikan materi dalam seminar nasional di area Dome UMM, Rabu (18/12/2019).

Contoh lain, katanya, petani di Indonesia hari ini betul-betul tidak bisa mandiri karena telah dikuasai oleh perusahaan multinasional.  Semua bibit diproduksi oleh kapital internasional.

Dekan FISIP UMM, Dr. Rinikso Kartono, M.Si., memaparkan materi dalam seminar nasional di area Dome UMM, Rabu (18/12/2019). -Foto: Agus Nurchaliq

“Petani kalau ingin memiliki bibit padi, mereka harus beli, begitu juga dengan pupuk, semua harus beli. Bahkan, kemarin yang mengerikan, kita kehabisan garam dan harus membeli garam dari negara lain,” tuturnya.

Menurutnya, hal tersebut bukan menandakan masyarakat tidak memiliki rasa nasionalisme, tapi karena saat ini semua sudah dikuasai oleh jaringan mafia luar biasa yang itu justru diberikan karpet merah oleh bangsa Indonesia sendiri.

“Jadi dibandingkan Belanda sebelumnya, justru yang paling berbahaya adalah Belanda blankonan, yaitu bangsanya sendiri. Hari ini kita dijajah oleh bangsa kita sendiri tanpa terasa,” ungkapnya. Bahkan, dari sebuah hasil riset menyebutkan, bahwa semua pertambangan di Indonesia tidak ada bendera Indonesia. Hampir semua dikuasai oleh bendera Amerika, Inggris dan Cina.

Kemudian potret ambruknya pertanian Apel di kota Batu, sebenarnya merupakan potret kebijakan makro yang tidak terurus.

“Mestinya kita harus berani ambil keputusan, bahwa produk-produk turunan di Indonesia termasuk produk pertanian yang tidak berbasiskan Indonesia, harus segera dihapus. Dan, Apel itu sebenarnya bukan produk dari Indonesia, tapi merupakan turunan dari Eropa, maka tidak bisa dilanjutkan,” ucapnya.

Maka, sambungnya, perlu eksplorasi produk-produk lokal yang di Eropa tidak ada, sehingga Indonesia  bisa mengekspor, misalnya buah Ciplukan atau Manggis. “Inilah yang menjadi problem kita saat ini,” tegasnya.

Karenanya, diperlukan  kebijakan kuat dari seorang pemimpin dan pemerintah yang berkuasa sekarang harus punya tawaran tawaran yang penting untuk menyelesaikan tantangan tersebut,” pungkasnya.

Lihat juga...